Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
12 Tidak Ingin Mengalah


__ADS_3

Dua gadis, dengan suasana hati yang berbeda.


Yang satu dilanda asmara dan rasa bahagia yang membuncah. Bunga-bunga bermekaran di hatinya, seolah dunia memang tercipta indah hanya untuk dirinya.


Yang satunya lagi, diselimuti oleh awan hitam, pekat dan membuat sesak nafas.


Dua gadis yang berasal dari rahim yang sama. Yang satu menjadi kebanggaan orang tua, yang satunya lagi dianggap menyusahkan.


Persiapan pertunangan itu terus berlanjut, tidak peduli dengan hati yang akan hancur. Dia masih muda, masih labil, masih mencari jati diri. Suatu saat nanti akan bertemu dengan pria yang tepat, yang akan menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Itulah yang mereka pikirkan.


Jika Vara sedang sibuk dengan persiapan ujian semesternya dan persiapan pertunangan, maka Vana sibuk dengan ujian akhirnya. Sebentar lagi dia akan lulus sekolah, menunjukkan kalau sebentar lagi dia akan semakin dewasa.


Karena sibuk dengan banyaknya tugas, membuat pikiran Vana teralihkan dari Ken. Gadis itu sudah tidak mengganggu Ken lagi. Dia fokus belajar untuk ujian juga untuk masuk ke universitas impiannya.

__ADS_1


Hari ini Vara dan Ken ke mall. Mereka ingin berjalan berdua saja tanpa sahabat mereka. Hubungan keduanya semakin dekat. Mereka berdua tidak pernah menyangka kalau mereka akan dijodohkan. Jadi tidak perlu takut juga akan restu orang tua.


Saat ini Ken dan Vara sedang makan siang di salah satu kafe dalam mall itu.


"Kamu mau makan apa?"


"Aku steak saja. Kamu apa?"


"Aku spaghetti saja."


Tiba-tiba saja fokusnya teralih pada seorang gadis cantik yang sedang berjalan dengan seorang pria yang juga berwajah tampan.


Vana?

__ADS_1


Benar, gadis itu adalah Vana. Dia sedang berjalan dengan seorang pria dengan wajah tersenyum.


Cih, selama ini dia mengejar-aku dan bersikap seolah aku ini cinta sejatinya. Tapi sekarang dia malah terlihat mesra dengan pria lain. Tapi bagus lah, setidaknya dia tidak lagi menggangu hubungan aku dengan Vara.


"Kamu lihat apa, Ken?" tanya Vara.


"Oh, enggak ada."


Ken tidak mau memberi tahukan apa yang dia lihat pada Vara. Gadis berhati lembut itu selalu saja bersedih jika membahas tentang Vana. Vana adalah saudara satu-satunya, mereka besar bersama dan selalu bermain bersama, wajar saja jika Vara merasakan kehilangan dan terpukul karena hubungan mereka kini tak bisa seperti dulu lagi. Tapi Vara selalu berdoa, semoga saja suatu saat nanti dia dan Vana akan kembali akur, dan bahagia bersama dengan pria masing-masing.


Ken menghela nafas pelan, dia sebenarnya juga merasa bersalah karena dirinyalah, hubungan kakak beradik itu menjadi jauh. Kalau bisa memilih pun, dia tidak mau Vana menyukainya, atau dia menyukai Vara, agar mereka bertiga tetap bisa menjadi sahabat selamanya. Tapi hati siapa yang bisa mengelak?


Vara dan Ken kini sama-sama diam, diam-diam memikirkan hal yang sama. Apakah pertunangan dan hubungan ini adalah yang terbaik? Tentu saja, mereka sudah sampai tahap ini, dan tidak boleh goyah apalagi mundur karena perasaan bersalah dan alasan tidak mau menyakiti hati orang lain.

__ADS_1


Kalau Vana yang ada di posisi Vara lun, pasti gadis itu tidak akan mengalah juga kan?


__ADS_2