Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
79 Kamu Pikir Kamu Segalanya


__ADS_3

"Kamu yang gila, sialan!"


Plak


Khea menampar Rissa begitu keras. Austin menutupi tubuh Gean, agar tidak melihat aksi itu.


"Aku benar-benar membenci kalian. Tapi aku paling membenci kamu, Vana. Kamu sulit untuk didekati, tidak seperti kakakmu yang bodoh itu. Dia sangat mudah dimanipulasi. Mudah dikendalikan dan dipengaruhi. Hanya dengan satu hasutan saja, maka dia langsung terpengaruh. Hanya dengan satu pujian, maka dia juga akan mudah dipengaruhi. Dia bodoh. Pintar tapi bodoh!" Rissa tertawa puas.


Sudah tidak ada gunanya lagi dia menutupi semuanya, karena Khea sudah memberikan semua bukti tanpa terkecuali."


"Alasan kebencian kamu sungguh tidak masuk akal."

__ADS_1


"Cih, kamu bisa bicara begitu karena kamu tidak merasakan ada di posisiku. Kalian anak-anak orang kaya, wajah cantik dan bisa mendapatkan apa saja yang kalian mau. Sedangkan aku? Semua pria yang aku inginkan, pada akhirnya tetap saja tertarik dengan kalian. Aku ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan. Aku membuat Vara tidak akan pernah mengalah padamu untuk melepaskan Ken. Aku mau melihat salah satu dari kalian, bahkan kalau bisa keduanya, sama-sama tidak bisa mendapatkan pria yang kalian cintai. Aku senang saat Ken akhirnya memutuskan pertunangan mereka. Aku senang saat Ken dulu selalu menolak dirimu. Bagaimana? Nikmat sekali bukan, rasanya?"


Ken mengepalkan tangannya. Kenapa dia dijadikan alat untuk menghancurkan kedua kakak beradik perempuan itu?


"Kamu, menyukai Nio?"


"Ya, dan aku tidak suka karena dia tidak pernah memusuhi kamu seperti Marco. Dan aku tahu, sebenarnya selama ini Ken mencintai dirimu. Vara itu bodoh, dia tidak pernah menyadari semuanya. Oh tidak, Ken juga bodoh. Dia menyangkal mati-matian perasaannya padamu. Sejak dulu. Bodoh kan, si Vara ini?"


"Vara itu, semuanya dia ceritakan padaku. Tentang Ken, tentang kamu, tentang keluarganya, tentang keluarga Ken."


Vara menatap Ken dan Rissa.

__ADS_1


"Ken hanya menjadikan Vara tempat curhat kegalauan pikirannya. Merasa nyaman dan menganggap dia menyukai Vara. Tapi sebenarnya, yang dia sukai itu kamu. Bahkan aku saja bisa menyadari semua itu."


Jantung Vara berdetak kencang. Sakit, dia merasa hancur. Sahabat yang dia anggap sebagai saudara sendiri, tempat dia berkeluh kesah, ternyata menghancurkan hidupnya sedemikian rupa.


"Kamu lihat sendiri, kan? Bagaimana busuknya sahabat rasa saudara mu itu!" sindir Khea.


"Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan Nio. Aku menyukai Nio sejak lama, tapi dia tidak pernah memandang diriku sebagai seorang perempuan. Hanya sebagai sahabat kekasih dari Ken saja. Aku benci itu, aku benci. Aku muak saat melihat orang-orang mengatakan kalau Ken, Nio dan Marco mau berteman denganku hanya karena ada kamu, Vara. Aku muak, aku benci! Padahal kamu hanya perempuan bodoh yang naif."


Rissa lalu tertawa meledek. Terlihat menjengkelkan dan rasanya ingin mencekik dirinya.


"Kamu selama ini tidak pernah menyadari kebodohan kamu, Vara. Kamu pikir Ken benar-benar mencintai kamu, karena mau saja menuruti keinginan kamu menunda pernikahan. Padahal aku rasa itu karena dia tidak pernah benar-benar mencintai kamu. Hanya aku ... dan mungkin Nio saja yang sadar itu. Makanya kan, Nio selalu mengatakan agar Ken seharusnya bersikap baik pada Vana. Kamu pikir kamu adalah segalanya bagi Ken? Kamu pikir kamu satu-satunya yang dicintai Ken hingga dia setia selama bertahun-tahun? Lihatlah, betapa bodohnya dirimu!"

__ADS_1


__ADS_2