Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
10 Pilihan Yang Tepat


__ADS_3

10 PILIHAN YANG TEPAT


Khea duduk gelisah di dalam kafe, ditemani oleh Gean dan Ara setelah mereka keluar dari rumah sakit.


“Jangan takut, Khea. Aku akan mendukung kamu,” ucap Ara.


Dia bisa paham apa yang Khea rasakan saat ini. Bukannya jahat, tapi Ara ingin tertawa saat mendengar kalau Vara sulit, atau mungkin tidak bisa memiliki anak.


Mereka pasti akan semakin mengincar Gean. Benar-benar tidak tahu malu, batin Ara.


“Mereka pasti akan merebut Gean dariku, Ra.”


“Jangan takut. Kita bisa menyewa pengacara yang handal untuk mempertahankan Gean. Lagipula, apa hak mereka merebut Gean? Si Ken itu hanya nanam benih, tapi dulu tidak mau mengakui. Dia juga tidak ikut mengurus dan membesarkan Gean. Sama sekali tidak ada kontribusinya. Keluarga kalian juga begitu. Sekarang giliran anak dan calon menantu ideal mereka susah hamil, malah mau merebut cucu yang dibuang. Gak waras!”


Khea tahu itu, hanya saja, dia tetap merasa cemas. Walau dia punya alasan yang kuat untuk mempertahankan Gean. Dia mampu secara materi untuk menafkahi Gean. Sehat lahir batin untuk mengurus anaknya. Tidak ada yang kurang dari diri Khea sehingga hukum memutuskan untuk memberikan hal asuh Gean pada Ken.


Khea sehat secara fisik dan jasmani. Juga mampu secara finansial. Semua kebutuhan Gean bisa terpenuhi dengan baik, bahkan sangat layak jika dibandingkan anak-anak lain seumuran dia yang memiliki orang tua lengkap. Bukannya Khea sombong, tapi itu fakta.


Itu berkat kerja keras Khea seorang diri, tanpa dukungan keluarga. Semua dia rintis dari nol. Bahkan untuk kuliah, dia mendapatkan beasiswa.


See?


Jadi, apa yang kurang dari diri Khea jika mengambil jalur hukum?


Gean memang anak hasil pemerkosaan, tapi Khea dengan berbesar hati dan penuh kasih sayang tetap mempertahankan janin itu dalam perutnya.


Tidak digugurkan.

__ADS_1


Tidak juga dibuang setelah lahir.


Jika dilihat dari kasus-kasus lainnya, banyak anak hasil hubungan terlarang yang dibunuh bahkan dibuang. Atau digugurkan sejak dalam kandungan.


Dan itu juga yang membuat Gean sangat ... sangat menyayangi sang mommy.


Gean hanya diam saja. Dipaksa seperti apa pun, dia juga tidak mau dipisahkan dari Khea.


“Mommy jangan takut dan sedih. Bagaimana mungkin Gean meninggalkan mommy dan memilih mereka.”


“Terima kasih, Sayang. Mommy akan selalu bersama Gean.”


Di rumah sakit, kedua orang tua Vara sangat sedih. Apa ini benar-benar karma seperti yang dikatakan oleh Khea?


Karma karena dulu tidak mau menerima dan mengakui anak dan cucu mereka. Sekarang, selain ditolak oleh Khea dan Gean, mereka justru terancam tidak bisa mendapatkan cucu dari anak pertama mereka.


Ken duduk di sofa, pikirannya berkecamuk.


Nio dan Marco merasa kasihan pada sahabat mereka itu.


“Kamu akan tetap menikahi Vara, kan?” tanya Nio.


Nio dan Marco memang belum tahu kalau Ken sudah membatalkan pertunangan mereka.


“Tidak.”


“Apa maksud kamu? Kamu tidak jadi menikahi Vara karena dia kemungkinan tidak bisa memberikan kamu keturunan?”

__ADS_1


“Bukan itu, tapi aku memang sudah membatalkan pertunangan kami tadi malam. Aku ingin bersama Gean. Aku tidak mau kehilangan anak aku lagi. Apa kalian mengerti?”


“Apa Vara setuju?”


“Tidak. Dia menolaknya.”


“Tentu saja dia menolaknya. Sudah sekian tahun kalian bersama, dan tiba-tiba saja kamu memutuskan hubungan kalian secara sepihak. Dia pasti akan membenci Khea dan Gean.”


Ken menoleh pada Nio.


“Bukan mereka yang salah.”


“Memang bukan mereka, tapi kalian.”


“Aku sarankan, kalau memang mau mendekati mereka, dekati dengan pelan-pelan. Tidak masalah kalau kamu tidak bisa tinggal bersama Gean, yang penting kamu bisa bertemu dengannya. Ingat, Gean sudah semakin besar. Dulu saja dia sudah cukup mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Jangan sampai dia semakin membenci kalian.”


“Ya, aku tahu. Aku akan mendekati Gean pelan-pelan.”


Ken menghela nafas, dia menatap brankar Vara. Gadis yang pernah menemani hari-harinya itu, kini masih memejam mata.


Ken merasa bersalah pada Vara, tapi dia harus memilih. Dan ini adalah pilihannya. Hatinya selalu tidak pernah tenang. Dia sudah memikirkan semua ini baik-baik, setiap hari.


Saat memikirkan keputusan ini, dia merasa lega. Padahal belum mengatakan apa-apa pada Vara dan keluarga mereka.


Dan Ken semakin tahu dan sadar, kalau memang keputusan inilah yang terbaik.


Perjuanganku baru akan dimulai ....

__ADS_1


__ADS_2