
6 KARMA
“Ken, tumben sekali kamu mengajak kami makan malam bersama. Apa kamu ingin membicarakan tentang pernikahan kita?” tanya Vara.
“Benar.”
Wajah Vara langsung cerah, seolah dia mendapatkan hadiah yang sangat dia impikan selama ini.
“Jadi, kapan kita akan menikah?” Suaranya terdengar antusias dengan binar mata kebahagiaan.
“Tidak akan ada pernikahan.”
“Ma ... maksud kamu?”
“Tidak akan akan ada pernikahan, setidaknya antara kita berdua.”
“Apa? Tapi kenapa? Apa salahku?"
“Kamu tidak salah. Akulah yang bersalah selama ini. Aku ingin bersama dengan anakku, dan tidak mau kehilangan dia lagi.”
“Ken, meskipun kita menikah, kamu masih tetap bisa bersama dengan Gean. Aku juga akan menerima Gean dengan tangan terbuka dan menyayangi dia seperti anak kandungku sendiri. Jadi tolong, jangan memutuskan hubungan sepihak. Kita sudah bersama selama bertahun-tahun tanpa ada pihak ketiga, kenapa sekarang malah jadi seperti ini?”
“Aku ... aku ingin memperbaiki semuanya, Var. Aku ingin menempatkan semua ke posisinya masing-masing, seperti yang seharusnya sejak dulu sudah terjadi.”
“Dan posisiku tetap ada di sisi kamu, Ken. Kita akan selalu bersama, sejak dulu dan sampai kapan pun, kan!”
__ADS_1
“Tidak. Aku, akan memilih Gean dan Khea.”
“Tidak, tidak! Kamu boleh bersama Gean, tapi aku yang akan menjadi ibu untuk Gean.”
“Bagaimana bisa seperti itu, Vara. Gean sudah punya mommy, mana bisa dia memiliki ibu lain?”
“Bisa saja kan, sebentar lagi juga kita akan menikah, dan otomatis aku akan menjadi ibu untuk dia juga.”
“Tidak, aku saja tidak mau kalau sampai Gean memanggil pria lain dengan sebutan Daddy. Jadi bagaimana bisa aku memberikan ibu yang lain untuk anakku. Itu tidak adil untuk Khea dan Gean. Sudah cukup aku menyakiti mereka selama ini. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.”
“Pokoknya aku tidak mau pernikahan kita dibatalkan. Kamu boleh menjadikan dia yang kedua, dan aku tetap yang pertama.”
Mereka tersentak mendengarnya, apa telinga mereka bermasalah saat ini?
“Itu karena aku terlalu mencintai kamu.”
“Dulu juga Khea terlalu mencintai aku.”
“Vana, Vana, Vana terus disebut. Benar, dulu dia terlalu mencintai kamu, tapi sekarang sudah tidak. Dia tidak lagi mencinta kamu, Ken, tapi sekarang membenci kamu, sangat benci. Apa kamu ingin bersama dengan seseorang yang membenci kamu, hah?!”
“Tidak masalah.”
“Apa kamu tidak punya harga diri, Ken? Apa kamu ingin merendahkan diri kamu sampai sejauh ini?”
__ADS_1
Ken tertawa, sangat miris.
“Benar ... sekarang aku percaya apa itu karma. Kita berdua yang sekarang sama-sama tidak punya harga diri, Vara. Apa kamu tidak sadar itu?”
Deg
Vara merasa tertohok, sakit rasanya mendengar perkataan itu dari mulut pria yang dicintainya.
Dulu ....
Khea lah yang ada di posisi ini.
Direndahkan, dihina dan dianggap murahan. Mengejar-ngejar seseorang yang sudah jelas-jelas menolaknya terang-terangan.
Ternyata rasanya seperti ini.
Malu dan sedih.
Sakit hati dan terhina.
“Aku ingin memiliki anakku. Tidak ingin dia pergi lagi, tidak mau dia terus membenciku meski aku akui semua memang salahku. Sudah cukup selama beberapa tahun ini jarak memisahkan kami. Aku ingin mendapatkan pengakuannya.”
Vara menunduk, dia tidak terima apa yang Ken katakan, tentang pembatalan rencana pernikahan mereka.
“Pokoknya aku tidak akan terima. Setelah dulu kamu menyakiti Vana, sekarang kamu ingin menyakiti aku? Tidak akan aku biarkan, Ken! Aku bukan barang yang bisa kamu pertahankan kalau kamu masih. butuh, lalu kamu buang kalau sudah tidak berguna lagi buat kamu. Apa begitu tingginya kamu menganggap dirimu sampai kamu menyakiti dia kakak beradik kandung? Kamu ingin menyakiti kamu bergantian? Hah?"
__ADS_1
Ken mengepalkan tangannya mendengar perkataan Vara yang sangat menohok itu.