Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
66 Tidak Punya Harga Diri


__ADS_3

"Apa kalian tahu bagaimana rasanya menjadi aku saat itu? Apa kalian tahu, yang paling menyakitkan dari semua itu bukan karena pria bejat ini tidak mau mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab, tapi karena keluargaku sendiri tidak mempercayai aku. Mereka yang seharusnya ada di posisi terdepan membela aku, merangkul aku dan memberi aku kekuatan. Tapi apa yang aku dapatkan? Aku hanya dianggap sebagai tukang tipu yang buta akan cinta. Dianggap sebagai perempuan murahan yang mau saja tidur dengan seorang pria yang bukan suaminya. Aku yang kalian anggap egois dan pemaksa, merelakan segala cara untuk mendapatkan pria ini. Tidak ada satu pun yang membela aku, tidak ada yang percaya padaku. Justru orang lain yang merasa iba dan ingin menjadi ayah dari anakku. Di mana kalian pada saat itu?" Nafas Khea terengah, dia meluapkan segala emosi yang selama enam tahun ini dia pendam.


"Aku yang terkatung-katung pada saat itu, mencari tempat untuk berlindung tanpa memiliki apa pun selain janin yang aku bawa dalam perutku. Apa selama enam tahun ini kalian mencari aku? Tidak ada!"


"Bahkan seandainya pun aku yang salah, tidak ada dalam pikiran kalian untuk mencari aku, untuk memaafkan kesalahanku, untuk membawa aku pulang. Mana yang katanya darah lebih kental dari pada air?"


"Sekarang di saat semuanya terbongkar dan orang-orang membicarakan keburukan kalian, kalian baru mencari aku dan meminta maaf. Cih!"

__ADS_1


"Saat pria bejat ini melakukan perbuatan biadabnya, bisa saja aku diam dan menikmatinya, tapi aku masih punya harga diri. Aku si egois dan mau menang sendiri ini, tidak semurah dan tidak sebuta itu akan cinta."


"Dan kamu, gara-gara kamu masa depanku hancur!" Khea menunjuk Vara dan menatap benci pada perempuan itu.


"Gara-gara kamu memaksa aku untuk pergi ke apartemen pria ini, hidupku menjadi hancur. Aku membenci kamu, Vara. Sangat benci! Apa kamu ingin pamer kalau kamu sangat bahagia? Aku sudah berkali-kali mengatakan pada kalian untuk membatalkan pertunangan itu dan menikahkan aku padanya. Tapi kalian tetap saja tidak peduli, terus saja berpikir kalau aku ini tidak mengerti perasaan kalian. Sehingga aku terpaksa membatalkan pertunangan itu dengan membuka aibku sendiri, di hadapan orang-orang. Tapi apa yang aku dapat? Hanya rasa malu yang berkali lipat. Dianggap murahan, jual diri, pembohong, egois. Tidak diakui dan diusir. Bahkan kalian (menunjuk kedua orang tua Ken) selalu berpikir kalau anak lain adalah pria baik-baik yang tidak mungkin melakukan hal bejat itu. Berpikir kalau anak kalian itu adalah pria yang bertanggung jawab."


"Vana ... Khea, maafkan kami. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

__ADS_1


Khea hanya mendecih, mudah saja mereka bilang begitu, lalu bagaimana dengan dia yang menjalani semua ini berdua dengan Gean? Tentu saja tidak mudah.


Khea kembali teringat masa-masa itu. Masa kelam yang harus dia jalani dengan sangat berat. Semua rasa sakit itu semakin mengobarkan kebencian dalam hatinya.


"Khea, bagaimana pun juga Gean itu anakku. Ikatan darah tidak bisa dihapus begitu saja."


"Benar, Khea. Gean itu cucu kami, penerus keluarga kita."

__ADS_1


"Mudah sekali sekarang kalian mengakuinya? Apa kalian tidak punya harga diri?"


__ADS_2