
"Apa? Benarkah?" tanya Arka pada seseorang yang bicara dengannya menggunakan saluran telepon.
Sama dengan Ronald, dia baru saja mendapatkan kabar dari orang suruhannya, dan pria paruh baya itu mengepalkan tangannya.
Begitu juga dengan Deo dan Austin, mereka baru saja mendapatkan kabar yang mengejutkan.
Apa yang mereka semua dengar, tentu saja bukan hal yang baik. Bahkan mereka tanpa sadar menahan nafas, merasa kesal dan tidak percaya.
Kedua orang itu—meskipun sedang berada di tempat yang berbeda—langsung pergi menemui Ken.
"Masuk!" ucap Ken saat mendengar pintu ruangan kerjanya diketuk.
Arka masuk ke ruangan bosnya, dan melihat penampilan Ken yang berantakan.
"Tuan, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
"Jangan sekarang, Ar. Aku sedang tidak mood dan tidak bisa berpikir dengan baik."
"Tapi ini benar-benar sangat penting, Tuan."
"Tapi ...."
Belum sempat Ken selesai bicara, pintu ruangannya kembali dibuka dengan kencang, membuat Ken kesal dan ingin marah-marah. Tapi rasa kesalnya itu terpaksa harus dia tahan, karena opanya yang datang.
Ken menghela nafas berat.
"Opa, aku tahu aku salah, tapi bisakah Opa menahan kemarahan Opa dulu? Aku sedang sakit kepala berat, Opa."
__ADS_1
Ken memang tidak sedang berbohong, kepalanya begitu sakit, bahkan wajahnya sudah pucat.
"Tidak ada waktu untuk menunda ini, Ken!"
Ken menghela nafas. Tadi Arka, sekarang opanya. Bahkan Arka saja belum bicara apa-apa tentang apa yang ingin dia sampaikan.
"Ya baiklah. Apa yang mau Opa bicarakan padaku? Kamu juga Arka, apa yang mau kamu bicarakan padaku? Bicarakan saja sekalian."
"Tentang kecelakaan itu, seseorang memang ingin melenyapkan Khea/Nona Khea."
"Apa? Siapa?"
"Dari hasil penyelidikan, orang itu hanya disuruh oleh seseorang. Sepertinya orang itu menyimpan dendam pribadi pada keluarga Khea, entahlah. Ini masih menjadi teka-teki."
"Tapi kenapa Khea? Kenapa bukan Vara?"
"Khea telah memberikan keturunan untuk keluarganya. Suka tidak suka, Gean akan menjadi salah satu pewaris, apalagi Vara dinyatakan akan kesulitan mendapatkan keturunan. Entah orang itu tahu atau tidak."
"Arka!"
"Ya, Tuan?"
"Perketat keamanan untuk Khea dan Gean."
"Sudah saya lakukan, Tuan."
Ken menatap Arka dengan tatapan terima kasih. Asistennya itu memang benar-benar bisa diandalkan. Di saat Ken kacau seperti ini, Arka sudah bertindak lebih dulu, dan sangat tahu apa yang harus dilakukan olehnya.
__ADS_1
"Ada hal lain lagi yang ingin saya sampaikan, Tuan."
"Apa?"
Arka terlihat bimbang menyampaikannya, mengingat kondisi Ken yang tidak baik-baik saja sekarang.
"Katakan saja, Arka. Toh aku juga memang akan dan harus tahu, kan?"
"Ini tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, Tuan."
"Kejadian beberapa tahun yang lalu? Apa itu tentang ...."
"Benar, Tuan. Ini tentang Anda dan nona Khea. Saat kejadian, Anda sedang terpengaruh beberapa obat sekaligus."
"Obat? Obat apa?"
"Obat perangsang dan sejenis obat yang bisa membuat Anda kehilangan daya ingat."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Seseorang telah memberikan obat itu kepada Anda. Dari hasil tes kesehatan Anda saat Anda pergi ke luar negeri untuk mengunjungi opa dan Oma Anda, Anda mengalami gangguan kesehatan. Namun Anda mengabaikan hasil tes lab itu karena terlalu sibuk dan merasa kalau Anda hanya kelelahan saja."
💕💕💕
Di lain tempat, sahabat-sahabat Khea sedang berada di ruangan kerja perempuan itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Apa? Benarkah? Kalian tidak salah, kan?"
__ADS_1
"Tidak."