Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
60 Vara Harus Mengerti


__ADS_3

Mendengar Ken yang justru membela dia dan malah membentak Rissa, Khea lalu tersenyum mengejek pada Rissa.


"Kamu ingat, dulu kamu juga merasa sangat puas kan saat pria ini membela kamu dan justru membentak aku di hadapan orang-orang. Bagiamana rasanya? Sakit bukan? Pasti malu sekali, kan?"


Ken, Vara, Marco dan Rissa terdiam. Tentu saja mereka ingat semua itu. Di mana Ken malah membela Rissa saat bertengkar dengan Khea.


"Dunia terasa terbalik saat ini, ya?" ejek Khea lagi.


Rissa mengepalkan tangannya. Menjadi tontonan di dalam restoran mewah ini adalah hal yang memalukan.


"Dengar, aku ini bukan manusia suci yang mudah memaafkan apalagi bersikap tidak pernah ada masalah. Aku ini pendendam, dan semuanya pasti akan aku balas sampai tuntas."


Senyum Khea semakin berkembang, melihat kekesalan dari Rissa, dan keterdiaman Vara. Khea sangat puas. Tidak, dia tidak akan puas sampai mereka merasakan apa yang dia rasakan dulu.


"Kamu!"

__ADS_1


"Cukup Rissa! Vana, aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi sebelumnya. Jadi jangan campur adukkan masalah ini dengan masalah kita. Tolong!" Ken menggenggam tangan Khea. Khea tidak menepis tangan itu, bukan karena apa-apa, tapi dia ingin menikmati ekspresi wajah Vara yang cemburu.


Perempuan yang sok lemah lembut itu bahkan tidak mampu melarang pria yang dia cintai menyentuh perempuan lain. Cih, dasar bodoh dan masih tetap bodoh sampai sekarang.


Bagi Vara sendiri, bukan berarti hatinya baik-baik saja melihat Ken yang seperti itu. Dia hanya tidak mau menambah keributan. Dia harus menjaga sikap, bukan hanya untuk dirinya sendir, tapi juga untuk Ken dan keluarga besar mereka berdua.


"Pergi!" perintah Khea seraya menarik tangannya dari genggaman Ken.


"Gean, Daddy pergi dulu, ya."


Mendapatkan penolakan seperti itu tentu saja rasanya sangat sakit. Ditolak di hadapan orang-orang. Apa ini yang dulu Khea rasakan? Ya, kasti seperti ini rasanya.


Ken menunduk sedih, lalu dia meninggalkan restoran itu diikuti oleh Vara, Nio, Marco dan Rissa.


"Jangan ada yang berani merekamnya dan menyebarkannya ke mana pun, atau kami akan menuntut kalian!" ucap Deo.

__ADS_1


Para tamu restoran itu hanya bisa menebak-nebak, mengambil kesimpulan sendiri dengan apa yang mereka dengar. Bukankah tadi Ken menyebut dirinya Daddy pada anak Khea?


Di luar restoran


"Ken, kenapa kamu malah membela perempuan itu?" tanya Rissa tidak suka pada sikap Ken.


"Cukup Rissa! Apa kamu tidak mengerti juga?"


"Apa?"


"Vana itu ibu dari anakku!"


Mendengar itu hati Vara serasa dicubit. Dia menahan air matanya. Dia merasa ada yang salah dari kata-kata Ken. Tapi apa? Toh memang kenyataannya Gean itu anak dari Ken, pria yang sangat dia cintai dari dulu sampai sekarang.


"Kenapa kamu malah bicara begitu, seharusnya kamu bisa menjaga perasaan Vara. Perempuan itu memang ibu dari anak kamu, tapi kan bukan pacar apalagi istri kamu!" ketus Rissa.

__ADS_1


"Vara juga pasti akan mengerti. Gean itu juga keponakannya, dan Vara itu adiknya. Jadi tidak ada masalah dan Vara juga paham. Iya kan, Var?" Vara hanya bisa mengangguk. Ditodong pertanyaan yang seolah jawabannya Sidah mutlak, memangnya dia bisa menjawab yang lain? Meski hati dan pikirannya malah bertentangan saat ini.


__ADS_2