
9 Berita Buruk
Khea memberhentikan mobilnya di depan loby UGD.
“Tolong.”
Perawat langsung membawa brankar dan memindahkan Vara ke atas brankar.
Khea menggandeng tangan Gean. Dia tahu, kalau anaknya itu sama seperti Ara, malas berurusan dengan Vara dan ingin membiarkan saja.
Mereka berdua menunggu di ruangan UGD. Gean duduk sambil memainkan ponselnya. Sama sekali tidak peduli apa yang terjadi di dalam sana.
Khea duduk sambil memejamkan matanya. Dia tidak akan membiarkan dirinya disalahkan atas kejadian ini. Dia tahu, pasti dirinya akan kembali disalahkan, padahal menyentuh seujung kukunya saja, tidak.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Bukan hanya satu orang, tapi banyak.
“Apa yang ....”
“Bukan salahku. Dia sendiri yang datang ke butik dan langsung menyuruh aku dan anakku pergi dari negara ini.”
“Apa?”
“Tahu-tahu dia pingsan. Mungkin langsung kena azab karena bersikap seenaknya.”
Nio dan Marco mengusap tengkuk mereka, merasa kata-kata Khea itu sangat kejam.
“Kalian jangan coba-coba menyalahkan Khea,” bela Ara.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan mommy disalahkan. Masih bagus mommy mau mengantarkan nenek sihir itu ke sini. Kalau aku jadi mommy, aku akan membiarkan dia begitu saja,” ucap Gean.
Mereka menatap Gean, tapi anak itu memalingkan wajahnya.
“Ayo, kita pergi saja dari sini. Kamu tidak usah lagi menunggu,” ajak Ara.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, pintu ruangan UGD terbuka.
“Dok, bagaimana keadaan putri saya.”
Khea berhenti melangkah, dia ingin mendengar sendiri apa yang dokter katakan. Tidak mau nantinya disalahkan atau ditipu oleh mereka untuk menyudutkan dirinya.
“Bisa kita bicarakan di ruangan saya?”
“Bicara di sini saja, saya juga mau dengar. Saya yang membawa dia ke sini, jadi saya berhak tahu. Tadi dia pingsan di butik saya, saya tidak mau nanti disudutkan, dianggap bersalah karena dia pingsan.”
“Menurut diagnosa sementara, saya menduga kalau rahim pasien mengalami masalah. Saya perkirakan pasien akan kesulitan, atau mungkin tidak bisa memiliki keturunan. Ini baru diagnosa saja, untuk lebih jelasnya, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.”
“A ... apa? Tidak bisa memiliki keturunan?”
“Tapi kenapa? Apa penyebabnya?”
“Harus dilakukan pemeriksaan lebih dulu, Tuan, Nyonya.”
“A ... aku tidak salah dengar, kan?” tanya Khea.
Lalu tiba-tiba perempuan itu tertawa, tertawa miris.
__ADS_1
“Lihat, tanpa aku melakukan apa-apa, karma menimpa kalian sendiri. Dulu kalian membuang aku dan anakku, tidak mau mengakui dia sebagai anak dan cucu. Lihat sekarang?”
Tiba-tiba tawa itu langsung berhenti.
“Ingat, jangan ada yang berani merebut Gean dariku! Jangan kalian rebut dia hanya karena Gean akan menjadi satu-satunya cucu kalian.”
Khea menarik tubuh Gean dan memeluknya, ketakutan menimpa dirinya. Seharusnya dia tidak kembali ke negara ini.
“Mommy, Mommy jangan takut. Gean tidak akan pernah meninggalkan mommy. Gean akan selalu ada di sisi Mommy.”
“Khea, kami ....”
“Jangan rebut Gean dariku. Tidak akan aku biarkan siapa pun merebut Gean dariku setelah kalian mencampakkan kami.”
Khea langsung berlari menggandeng tangan Gean, disusul oleh Ara.
“Jangan lagi menyakiti hatinya, dia sudah cukup menderita,” ucap Ara sebelum pergi.
Ini kabar buruk untuk mereka. Kenapa Ada harus seperti ini? Keinginan untuk mendapatkan Gean, semakin besar ....
Papa Vara mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa masalah ini bisa terjadi? Benarkah anak pertamanya itu tidak bisa memiliki keturunan? Lalu, bagaimana dengan masa depannya?
Apa akan ada pria dan mertua yang akan menerima kekurangan untuk seorang perempuan?
Tidak bisa memberikan keturunan ... sama saja dengan memiliki kekurangan yang begitu besar.
Begitu juga dengan Ken. Perasaanya menjadi tidak enak.
__ADS_1