Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
101 Bertemu Dengan Juan


__ADS_3

Ken melihat ke sebelah kanannya. Seorang pria yang usianya mungkin hanya terpaut tiga empat tahun saja darinya. Dia sedang bersama dengan seorang perempuan yang cantik. Taki bukan itu yang menarik buat Kan, tapi sepasang anak yang usianya tidak jauh dari Gean.


Pria itu menghampiri Ken yang sedang menatap ke keluarga kecilnya.


"Halo, Anda datang sendirian ke sini?"


"Iya."


"Boleh saya duduk di sini?"


"Silahkan."


"Mereka istri dan anak-anak saya." Ken tersenyum memandang sepasang anak itu.


"Kembar?"


"Iya."


"Pasti Anda punya keluarga yang bahagia, ya."

__ADS_1


"Begitu, ya? Apa terlihat seperti itu?" Pria itu malah balik berta kepada Ken.


"Tentu saja, semua orang yang melihatnya juga akan mengatakan itu."


Pria itu hanya tersenyum.


"Saya Juna."


"Ken."


"Saya tahu."


"Siapa sih, yang tidak mengenal Anda. Seorang pebisnis muda yang sering muncul di televisi juga majalah bisnis."


Ken menatap Juna, yamg kembali menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Selain itu juga tentang skandal Anda tentunya."


Ken menghela nafas, dia semakin terkenal saja, karena masalah pribadinya yang kini diketahui oleh orang banyak.

__ADS_1


Bangga?


Tentu saja tidak.


Juna menghela nafas, dia lalu melihat ke depan.


"Sebenarnya saya menikah dengan istri saya itu hujan karena cinta."


Perkataan Juna itu sontak memb Ken langsung menoleh pada Juna.


"Kami dijodohkan, hidup dengan kepura-puraan saling mencintai dan bahagia. Saat itu, saya mencintai perempuan lain, dan tetap mencintai perempuan lain itu meski saya sudah memiliki istri ...." Juna tidak ucapannya, berpikir apakah baik mengatakan semua ini pada orang yang baru pertama kali dia temui atau tidak.


"Jujur saja, ketika saya tahu berita tentang Anda, saya mulai berpikir, kalau saya cukup beruntung. Ada seorang sahabat yang dulu mengatakan ... apakah pantas bagi saya menelantarkan anak dan istri saya hanya untuk keegoisan saya sendiri. Istri saya itu, dulunya juga menolak pernikahan kami. Dia juga memiliki seorang kekasih ketika itu. Saya lalu berpikir, bukan hanya saya yang kecewa. Kalau memang saya berjodoh dengan kekasih saya, pasti kami akan bersama. Tapi untuk apa larut dengan perasaan pada seseorang yang belum tentu menjadi masa depan saya. Lebih baik mensyukuri apa yang sudah ada, apa yang ada di depan mata, karena hanya dengan mengikuti nafsu, tidak akan pernah ada habisnya. Setelah memiliki anak, saya memang lebih bertanggung jawab, karena tidak adil rasanya kalau anak-anak saya ikut menjadi korban keegoisan saya."


Benar, Ken juga berpikir begitu. Gean menjadi korban karena keegoisan dia dulu. Andai dulu dia tidak bersi gegabah yang langsung menyangkal perbuatannya tanpa mencari tahu dulu kebenarannya, hanya bermodalkan karakter Vana yang egois, maka semuanya tidak akan seperti ini.


Dia akan bertanggung jawab, menikahi Vana dan membesarkan Gean bersama. Rasa cinta itu mungkin akan tumbuh seiring waktu, dan mungkin ... Gean sekarang sudah memiliki adik yang lucu dan menggemaskan.


Memikirkan tentang adik Gean, membuat hati Ken menghangat. Dia membayangkan ada bayi kecil dalam gendongannya. Mau itu laki-laki atau perempuan, pasti akan sangat pas dalam pelukannya. Wajah pria itu langsung tersenyum.

__ADS_1


"Anak adalah anugerah, karena tidak semua orang bisa memiliki anak dalam waktu dekat, bahkan setelah menikah belasan tahun, ada juga yang belum memiliki anak. Jadi, kenapa saya harus menyia-nyiakan anugerah itu?"


__ADS_2