Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
115 Jangan Pergi Lagi


__ADS_3

Gean sudah benar-benar tidak mau ke sekolah lagi, dan Khea tidak mau memaksakan kehendaknya. Untuk apa Gean sekolah kalau dia tidak bisa belajar dengan nyaman, memiliki teman yang selalu mem-bully dan berkelahi. Lebih baik memanggil guru privat agar dia bisa home schooling, yang penting anaknya bisa tetap mengikuti pelajaran.


Ken mendatangi sekolah Gean, untuk menemui anak itu.


"Gean sudah satu minggu ini tidak pernah sekolah lagi, Tuan."


"Apa? Kenapa? Apa dia sakit?"


Kepala sekolah menghela nafas. Tanpa bertanya, tentu saja dia tahu siapa pria ini. Bukan karena Ken adalah pengusaha, tapi dia tentu tahu kalau pria ini adalah ayah biologis Gean.


Sebagai perempuan, ingin dia memaki pria di hadapannya ini, kerena pria ini yang membuat Gean dibully.


Sebagai pendidik, dia tidak mau menghakimi, Harus bijak dalam bersikap dan berkata, karena dia akan menjadi contoh untuk guru-guru juga murid-murid, dan lingkungan sekitarnya.


Sebagai orang luar, tentu doa juga tidak berhak ikut campur.


"Gean sepertinya tidak akan bersekolah lagi, setidaknya di sini."


"Apa, kenapa?"


"Sejak awal Gean sekolah, dia selalu saja mendapatkan perundungan dari teman-temannya. Mereka sering berkelahi ...."


Nafas Ken tercekat, dia tidak menyangka anaknya akan mendapatkan hal buruk seperti ini.

__ADS_1


Tapi ... tapi kenapa malah tidak menyangka.


Ralat!


Bukan tidak menyangka, tapi menolak untuk berpikir negatif. Tetap berharap itu hanya prasangka buruk saja.


Menjadi anak orang terkenal, bukan berarti tidak akan dihina. Dihina tetap, tapi secara diam-diam, karena takut dituntut dan sebagainya. Fenomena yang sebenarnya memang terjadi.


"Sudah beberapa kali orang tua mereka dipanggil ke sini. Yang terakhir, Gean bilang pada nona Khea untuk berhenti sekolah saja. Itu yang terakhir Gean ada di sini."


Ken mengepalkan tangannya.


Dia yang bersalah, kenapa anaknya yang harus dibully?


Tekad Ken untuk menjaga kedua orang itu semakin kuat. Dia akan memberikan kehormatan untuk Khea dan Gean. Tidak akan lagi dia biarkan mereka berdua dihina oleh orang-orang.


Ken berjalan gontai, melewati sebuah kelas. Dia menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan seorang anak.


"Lihat, teman kalian yang anak haram itu tidak pernah sekolah lagi. Pasti dia sangat malu, juga malu memiliki ibu yang seperti itu."


"Jaga bicara kamu, kenapa kamu itu sungguh menyebalkan."


"Dasar, anak broken home. Kamu kan juga ditinggalkan sama mommy kamu saat masih kecil."

__ADS_1


"Jangan menghina Chiro!"


"Apa, kalian juga anak-anak yang tidak jelas. Mama kalian itu pelakor."


Ken mengepalkan tangannya, kenapa ada anak sekecil itu yang bisa berkata menyakitkan seperti itu, bahkan kini menghina ketiga anak lainnya.


"Apa orang tua kalian tidak pernah mendidik dsn mengajarkan kalian sopan santun?" Anak-anak yang menghina Chiro, Radhi dan Raine itu langsung mundur. Mereka takut melihat wajah garang Ken.


"Kalian seharusnya berteman dengan baik. Bagaimana kalau kalian yang dihina? Bagaimana kalau orang tua kalian yang dihina? Apa kalian senang?"


Mereka menunduk, hampir menangis malahan.


"Uncle daddy-nya Gean?" tanya Chiro.


"Iya, kamu tahu dari mana?"


"Wajah Uncle mirip dengan Gean. Apa Gean home schooling? Dulu juga Chiro lebih suka home schooling. Sejak mommy pulang, Gean jadi semangat untuk sekolah bersama Radhi dan Raine."


"Pulang?"


"Iya, pulang. Bunda Radhi dan Raine juga sudah pulang. Uncle juga jangan pergi-pergi lagi, kasihan Gean ditinggalkan terus."


Hari Ken merasa teriris mendengarnya, dia mengusap ujung matanya yang basah.

__ADS_1


Maafkan aku, aku janji tidak akan pergi lagi.


__ADS_2