
Ken turun dari mobilnya, dan segera masuk ke apartemen tempat di mana Khea dan Gean tinggal. Satu tangan Ken memegang buket bunga, sedangkan yang satunya lagi memegang beberapa kantong mainan untuk Gean. Meskipun cukup sulit, tapi Ken ingin membawanya sendiri, tidak ingin meminta bantuan sekuriti untuk membantunya.
Ken membunyikan bel apartemen Khea dengan perasaan gelisah. Dia ingin hari ini bisa bicara dengan Khea dan bertemu dengan Gean.
Jantung Ken berdetak kencang saat melihat Gean yang membukakan pintu untuknya.
"Hai Gean, mommy kamu ada?"
Gean menatap Ken yang tangannya memegang buket bunga mawar putih. Sidah pasti itu untuk mommy-nya, kan?
Gean tidak menjawab. Pandangannya terlihat datar melihat pria dewasa yang berdiri di hadapannya itu.
"Oya, ini untuk Gean."
Ken mengulurkan tangannya untuk memberikan kantong-kantong mainan itu, tapi lagi-lagi Gean diam saja.
"Siapa, Gean?" Khea datang sambil mengeringkan rambutnya. Wajahnya terlihat cantik alami dengan baju rumahan yang sederhana.
"Tidak tahu, orang asing, Mom."
Perasaan sakit saat dia dianggap orang asing oleh anaknya sendiri. Memangnya dia mau dianggap apa? Daddy?
Khea melihat siapa yang datang, tatapan matanya sama persis seperti Gean.
__ADS_1
"Anda salah alamat, Tuan."
"Vana, aku mau bicara dengan kamu."
"Mommy aku namanya Khea, bukan Vana."
"Khea, ayo kita bicara."
Ken mengalah, tidak lagi memanggil Khea agar bisa bicara dengan perempuan itu. Khea atau Vana, tetaplah perempuan yang sama, pikir Ken.
"Saya tidak mengenal Anda, Tuan."
"Khea, aku mohon. Ayo kita bicara. Ijinkan aku menjelaskan semuanya. Ijinkan aku meluruskan kesalahan di masa lalu."
"Di masa lalu saya juga tidak mengenal Anda, Tuan."
"Pergi dari rumah kami!" Bukan Khea yang mengatakannya, tapi Gean.
"Khea, ini bunga untuk kamu. Juga ini mainan untuk Gean. Tolong jangan ditolak."
Ken meletakkan bunga dan mainan-mainan itu di meja dekat pintu.
"Aku pergi dulu," ucapnya pada Khea. Saat dia ingin mengusap rambut Gean, anak laki-laki itu langsung mundur dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Gean menutup pintu itu dengan kencang, membuat Ken tersentak.
Khea menatap bunga mawar itu. Dia mendengus kesal. Dulu, jangankan memberikan dia bunga sebagus itu, memberikan dia coklat yang murah saja, Ken tidak pernah.
"Mommy, Gean tidak mau mainan-mainan ini. Gean juga tidak suka dia memberikan Mommy bunga."
"Besok akan mommy kembalikan padanya."
Keesokan harinya, di loby perusahaan Ken, sudah tergeletak bunga mawar putih dan beberapa paper bag yang yang bertuliskan toko mainan.
Para karyawan di perusahaan itu melihatnya dengan heran, tapi tidak ada yang berani memindahkannya. Sekuriti juga khawatir, takut apa yang ada di dalamnya adalah barang berbahaya. Memang mereka sudah melihat kalau di dalamnya adalah mainan-mainan, tapi siapa tahu kan, di dalam mainan itu ada sesuatu yang berbahaya. Siapa tahu saja bahan peledak. Salah satu sekuriti langsung menghubungi Arka, tangan kanan Ken.
"Halo Pak Ken, saya mau memberitahukan kalau di loby perusahaan ada buket mawar putih dan bungkusan yang bertuliskan toko mainan. Kami khawatir kalau barang di dalamnya adalah barang yang berbahaya."
"Apa kalian sudah memeriksa CCTV, siapa yang meletakkannya di sana?"
"Sudah Tuan, tapi wajahnya tidak kelihatan dalam CCTV."
"Saya akan segera sampai."
"Ada apa, Arka?" tanya Ken.
"Di loby perusahaan, ada buket mawar putih dan kantong yang bertuliskan toko mainan. Sekuriti sudah memeriksanya melalui CCTV tapi orang yang meletakkannya tidak bisa dilihat dengan jelas."
__ADS_1
"Tidak perlu. Mawar dan mainan-mainan itu aku yang memberikannya untuk Vana dan Gean kemarin."
Arka melirik Ken, tidak lagi membahas soal itu, karena tahu suasana hati Ken jadi rusak.