
25 UNCLE
"Dok, tidak ada cedera serius kan, dalam tubuh anak saya? Misalnya ... retak, patah tulang, geger otak, atau apa pun itu?"
"Tidak ada, Nona. Dari hasil pemeriksaan, semuanya baik-baik saja."
Khea dan Ken bernafas lega. Apa jadinya kalau ada hal serius pada Gean? Gean masih kecil, selain itu dia juga suka melukis. Khea khawatir Gean tidak bisa melukis lagi. Khawatir dengan masa depan Gean yang masih sangat panjang
"Semaunya baik-baik saja, Sayang. Jadi kita bisa lebih lega sekarang." Ken memeluk Khea, tapi lang ditepis oleh perempuan itu.
"Dengar, aku memang bilang kamu boleh menemui Gean, tapi bukan berarti kamu bisa merebut dia dariku. Kamu memang memberikan darah kamu padanya, tapi bukan berarti kamu bisa menjadikan itu sebagai alat untuk menekan aku!" Khea mengacungkan telunjuknya di depan wajah Ken.
Ken, bukannya merasa tersinggung apalagi marah, malah tertawa.
"Apa? Kamu menertawakan anakku?"
"Tidak, tentu saja tidak." Ken buru-buru berbicara, sebelum Khea salah paham.
Ken hanya berpikir, kenapa Khea sampai berpikiran sejauh ini? Dia tidak akan pernah menggunakan cara licik untuk merebut Gean. Tidak akan memisahkan ibu dan anak itu.
Dia sangat tahu bagaimana rasanya jauh dari anak.
Jadi, mana mungkin dia memisahkan mereka, yang bisa menyebabkan akhirnya dia sendiri yang semakin dibenci.
__ADS_1
Ken ingin mendapatkan keduanya dengan cara yang benar, dengan cara yang baik.
Vara hanya bisa melihat mereka. Perempuan itu mengepalkan tangannya. Dulu, Ken tidak pernah perhatian pada Vana.
Ya, itu kan dulu.
Tapi, benarkah Ken memang tidak pernah perhatian pada Vana?
💕💕💕
"Mom?"
"Mommy lagi di kamar mandi. Gean mau apa?"
Anak itu diam saja saat Ken bertanya padanya.
"Kalau ... kalau Daddy yang menjadi Gean, mungkin Daddy juga akan bersikap sama seperti Gean. Membenci orang yang menyakiti mommy dan Gean. Tapi Daddy berani menjamin, kalau saat itu ...."
Entah bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Gean. Menjelaskan sesuatu yang mudah dimengerti oleh anak itu. Tidak melebih-lebihkan, tapi juga tidak mengurangi. Masalah itu sangat rumit, bahkan Ken sendiri—hingga saat ini—masih sangat bingung.
"Kalau saat itu, Daddy tidak sedang dalam keadaan pikiran yang jernih, sehingga Daddy salah mengambil keputusan. Daddy menyesali sikap Daddy saat itu. Suatu saat nanti, jika Gean sudah semakin dewasa, Gean akan mengerti. Daddy tidak bisa menjelaskan secara rinci sekarang, karena Gean masih terlalu kecil."
Ya, bagaimana bisa dia menjelaskan pada Gean bagaimana hubungan dia dan Khea dulu.
__ADS_1
Khea diam-diam mendengarkan dari pintu kamar mandi. Perempuan itu mengusap sudut matanya.
"Gean ... boleh memanggil Daddy dengan sebutan uncle. Daddy tidak masalah, tapi Daddy mohon, jangan anggap daddy ini tak kasat mata."
Mereka sama-sama mengalihkan pandangan mata mereka. Jika tadinya Ken memandang Gean, kini pria itu menoleh ke samping, mengusap sudut matanya yang sudah keluar air mata.
Sedangkan Gean, yang tadinya menunduk, juga ikut mengalihkan pandangannya, berlawanan dengan wajah Ken.
Kedua orang tua Ken dan Vara menunduk sedih. Ken sampai bersedia dipanggil uncle oleh anaknya sendiri. Orang tua mana yang sanggup dipanggil uncle, padahal seharusnya dipanggil Daddy, papa, ayah atau lainnya.
Bagaimana rasanya memohon kepada anak kandung sendiri? Kepada seorang anak kecil yang bahkan umurnya belum ada separuh dari umur Ken.
Miris!
"Jangan abaikan daddy."
Marco dan Nio menghela nafas berat. Mereka merasa iba pada Ken. Hati mereka ikut merasa sakit. Rasanya mereka juga jadi ingin ikut menangis. Andai saja dulu Ken mengikuti nasihat Nio.
Tapi apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.
"Gean bisa datang pada Daddy kalau membutuhkan sesuatu. Bisa meminta Daddy untuk menemani Gean belajar, melukis, atau sekedar jalan-jalan ke taman. Membeli es krim atau membeli burger. Ya, meskipun Daddy tahu, Gean sangat mandiri dan bisa melakukan semua itu sendiri. Kita juga bisa main bola bersama."
"Kalau ada yang berbuat tidak baik pada Gean, Gean boleh langsung mengadu pada Daddy. Apa pun itu, meskipun gak yang sangat kecil, tolong libatkan Daddy."
__ADS_1
Suara Ken bergetar. Jantungnya terpompa dengan cepat.
Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini?