Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
68 Egois Teriak Egois


__ADS_3

"Apa?"


"Biarkan Ken menikah dengan kamu dan menjadi ayah yang bertanggung jawab pada Gean," ucap Hendrick.


"Daddy!" Vara mencoba protes pada papanya Ken, bagaimana bisa Ken disuruh menikahi Khea, lalu bagaimana dengan dirinya? Apa mereka tidak memikirkan dia?


"Ternyata kalian lebih gila dari yang aku sangka. Kenapa aku harus mau dijadikan istri kedua? Kalian pikir karena masa laluku yang burik, jadi tidak ada pria baik-baik yang mau menikah denganku dan menjadi ayah untuk anakku?"


"Aku dan Vara belum menikah, Khea," jawab Ken dengan cepat, seolah tidak ingin membuat Khea semakin salah paham padanya.


"Apa?" Khea tertegun. Ini berita baru baginya. Dia memang tidak pernah sekali pun mencari tahu tentang hubungan mereka, tapi dia pikir Ken dan Vara sudah menikah sejak enam tahun yang lalu. Bukankah mereka dulu sangat menggembar-gemborkan hubungan mereka dan ingin segera menikah? Menyingkirkannya dari kehidupan mereka.


Khea tertawa dan bertepuk tangan sangat senang.

__ADS_1


"Wah, enam tahu hanya dijadikan tunangan. Jangan-jangan dia tidak pernah serius dengan kamu!" Khea semakin tertawa meledek Vara.


Wajah Vara sudah sangat merah, antara marah dan malu.


"Atau jangan-jangan kamu tidak menggairahkan baginya."


"Vana!" bentak Vara, perempuan itu memijit keningnya dan menunduk malu.


"Dulu katanya saling cinta, mau cepat-cepat menikah dan punya anak. Pantas aku tidak melihat ada anak di antara kalian, tadinya aku pikir kamu mandul!"


"Khea, jangan bicara seperti itu, Sayang. Bagaimana Kun juga Vara itu kakak kandung kamu." Khea tidak peduli. Kenapa dia Haris berhenti tertawa saat ada yang lucu menurutnya.


"Jadi, kamu mau kan, menikah dengan Ken?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak!"


"Khea, jangan egois. Pikirkan masa depan Gean."


"Apa? Egois? Kalau aku egois, sudah sejak awal aku menggugurkan kandunganku. Untuk apa aku menderita sendiri dan menahan malu? Kalau aku egois, sudah sejak awal aku meninggalkannya di rumah sakit setelah melahirkan, atau membuangnya di tempat sampah, atau yang jauh lebih baik lagi, meletakkannya di depan pintu rumah yatim piatu!" teriak Khea.


"Kalian yang tidak tahu apa-apa masih saja seenaknya menghakimiku! Dasar tidak tahu diri!"


"Khea, bukan maksud mama begitu," ucap mamanya Ken.


Khea menatap perempuan paruh baya itu dengan sinis. Perempuan yang dulu dia pegang tangannya untuk meminta dukungan, berharap agar dia mau membujuk anak laki-lakinya itu agar bertanggung jawab padanya. Tapi tangannya langsung dilepas, berkata kalau dia percaya anaknya tidak seburuk itu. Berkata kalau Vara adalah menantu yang terbaik untuk mereka.


Ken menatap Khea dengan sendu. Bagaimana jadinya kalo apa yang dikatakan oleh Khea barusan, dulu dia lakukan. Menggugurkan anak mereka, atau meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


Ken mendekati Khea, duduk bersimpuh di hadapan perempuan itu.


"Khea, aku benar-benar berterima kasih, karena kamu tidak menggugurkan anak kita. Aku sangat bersyukur, kamu tidak membuang anak kita, dan aku sangat bangga padaku, karena kamu sudah merawat dan membesarkan anak kita dengan sangat baik. Aku tahu dan sadar akan kesalahanku selama ini. Andai saja saat itu aku bisa mengingat semua perbuatanku padamu, aku pasti langsung bertanggung jawab, Khea. Aku benar-benar menyesal."


__ADS_2