Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
45 Kejadian Yang Bertubi-tubi


__ADS_3

45 KEJADIAN YANG BERTUBI-TUBI


"Bagaimana keadaan mereka, Dok?"


"Mereka baik-baik saja. Ada yang harus mendapatkan jahitan karena luka robek yang cukup besar. Juga ada yang kakinya terkilir dan harus beristirahat samapi cedera di kakinya benar-benar sembuh."


"Bagaimana dengan Khea?" tanya Ken.


"Nona Khea baik-baik saja, tapi harus dirawat karena mengalami cedera punggung, tangan dan kaki."


"Berikan penanganan yang terbaik untuk para pasien."


Pihak perusahaan tentu saja akan bertanggung jawab atas musibah ini. Salah satu perwakilan dari pihak perusahaan juga langsung datang ke rumah sakit untuk melihat langsung keadaan para korban. Begitu juga dengan keluarga dari para korban, mereka sudah ada di rumah sakit.


Mereka langsung dipindahkan ke ruang perawatan masing-masing, yang tentu saja VVIP, mau bagaimana pun tingkat keparahan yang diderita.


💕💕💕


"Khea, syukurlah kamu sudah sadar."


"Gean?"


"Dia baik-baik saja. Itu, sedang tidur karena kelelahan."


Khea melihat jam, yang ternyata sudah sore. Perempuan itu menghela nafas, dan seketika merasakan nyeri di punggungnya.

__ADS_1


"Sepertinya aku salah sudah kembali ke sini."


"Maksudnya?"


"Sejak kembali ke sini, ada saja yang terjadi padaku dan Gean. Ada yang mengirimkan paketan padaku, isinya tentang ancaman soal Ken."


"Apa? Kapan itu terjadi?"


"Saat aku pingsan di depan pintu, bersama dengan dia."


"Kenapa tidak cerita?"


"Lupa." Khea menghela nafas, dia memang sudah lupa dengan itu, karena pingsan dan kesibukan dalam pekerjaan.


"Apa?" Kali ini Ken yang bertanya. Dia diam-diam mendengar perkataan Khea di depan pintu. Pria itu baru saja kembali dari ruangan dokter.


"Kenapa tidak cerita?" tanya Ara.


"Aku pikir itu perasaan aku saja. Lagipula di sana ramai, apa mungkin ada yang akan berbuat jahat? Lagipula, aku tidak mau Gean merasa cemas. Dan tadi pagi, ban mobilku bocor, menabrak pohon. Lalu yang terakhir kejatuhan lampu."


Ken mengepalkan tangannya. Siapa pun yang berencana melukai Kena dan Gean, akan berurusan dengannya. Dia bersumpah akan membalas orang itu.


"Dia juga menyakiti Gean. Aku yakin itu bukan sekadar tabrak lari saja. Aku ... harus membawa Gean pergi dari sini."


"Tidak! Kalian tidak boleh lagi pergi dariku. Lagi pula, ada aku yang akan menjaga kalian. Kalau kalian pergi, siapa pun orang itu, akan dengan mudah menyakiti kalian."

__ADS_1


"Kali ini aku setuju dengan dia, Khea," ucap Deo.


"Dia pasti musuh kamu, kan? Musuh kamu itu malah membuat Khea dan Gean celaka!" ucap Ara.


"Ara, jangan bicara seperti itu. Bisa saja itu musuh Khea. Selama ini Vara yang pernah menjadi tunangan Ken, tidak pernah terluka," ucap Marco, yang malah menimbulkan spekulasi baru di pikiran mereka masing-masing.


"Khea, jangan pergi lagi. Jangan bawa anakku lagi. Aku berjanji tidak akan membiarkan kalian berdua terluka. Siapa pun orang itu, aku pasti tidak akan membiarkan dia lolos. Jadi tetaplah di sisiku, tetap bersamaku."


"Mommy!" Gean yang baru bangun dari tidurnya, langsung menghampiri Khea, menghentikan pembicaraan yang sebaiknya Gean tidak perlu mendengarnya.


"Maafkan Gean yang tidak bisa menjaga mommy."


"Bukan salah Gean. Mommy saja yang kurang berhati-hati."


"Oya, bagaimana dengan keadaan yang lain?" tanya perempuan itu.


"Ada yang cedera ringan, ada juga yang cukup parah. Polisi sedang menyelidiki masalah ini di TKP."


"Oya, aku sudah memesan makanan, sebentar lagi akan datang," ucap Jessica.


Ken membantu memberikan sandaran di bagian punggung Khea. Gean hanya melihatnya saja, karena dia sedang menyiapkan makanan yang baru saja dipesan oleh Jessica.


Teman-teman mereka juga hanya bisa melihat tanpa ada yang mau berkomentar, karena ada masalah yang lebih serius daripada mengomentari sikap lembut Ken pada Khea.


Apa semua kejadian yang menimpa Khea dan Gean murni kecelakaan, atau memang perbuatan orang lain?

__ADS_1


__ADS_2