Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
118 Bangun, Sayang


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan Gean?"


"Anak itu baik-baik saja, hanya terkilir saja, namun akan segera sembuh dan mengalami syok. Untung saja tidak ada benturan keras di tubuhnya."


"Itu karena Khea melindungi Gean. Khea menumbalkan tubuhnya sendiri agar Gean tidak cedera," ungkap Ken.


"Saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan pada mereka bertiga, apakah ada luka dalam atau hal berbahaya lainnya, agar bisa ditangani secepat mungkin.


"Lakukan yang terbaik untuk mereka bertiga, Dok."


Mereka bertiga dipindahkan ke ruang perawatan. Ken meminta ruangan Gean dan Khea disatukan, agar bisa menjaga keduanya sekaligus.

__ADS_1


Ken memasuki ruangan Gean dan Khea. Wajah perempuan itu pucat. Tangannya dipasangi infus dan tangan kakinya dipasang gips. Ken merasa pilu melihat kondisi Khea. Bagaimana nanti saat Gean sadar dan melihat Khea seperti ini? Memisahkan kamar mereka juga pasti akan membuat anak itu mencari-cari keberadaan sang mommy.


Yang lain duduk di sofa. Ara meringis melihat ibu dan anak itu. Tadi dia pergi ke butik, tidak lama setelah ambulans membawa mereka. Pegawai Khea menceritakan apa yang terjadi, meski tidak secara rinci karena memang tidak tahu dengan pasti. Hanya mengatakan terjadi keributan di lantai atas. Ara lalu menghubungi sahabat-sahabat Khea yang lain.


Ini semua gara-gara mereka. Kenapa mereka masih saja membuat Khea menderita? Dulu saja, tidak mau mengakui Khea dan Gean! Sekarang malah ngarep! Jilat tuh ludah!


Marco yang melihat Ara menatap Ken dengan benci, hanya bisa diam saat ini. Tidak ada gunanya bicara saat ini, hanya akan memperkeruh suasana saja.


Keluarga Ken dan Vara membuka pintu kamar Khea. Mereka terlihat sedih melihat kondisi Khea dan Gean. Khea lah yang kondisinya paling memprihatinkan. Tubuhnya menjadi tameng untuk Gean dan Vara. Kalau tidak ada Khea, sudah pasti keduanya akan lebih parah lagi.


Setelah melihat keadaan Gean dan Khea z mereka kembali ke ruang perawatan Vara. Bukan karena tidak mau menjaga Khea dan Gean, tapi karena di kamar itu sudah penuh dengan yang lainnya.

__ADS_1


Keesokan paginya Ken membuka mata. Dia sedikit bingung dan lupa ada di mana dia saat ini.nPandsmgan matanya lalu melihat ke arah brankar. Dua brankar yang bersebelahan itu, membuat Ken langsung tersadar. Dia bergegas menghampiri Gean dan Khea. Dua-duanya masih belum membuka mata. Anaknya itu terlihat pucat. Dulu Ken penasaran, bagaimana wajah anaknya saat tidur, apa akan semakin menggemaskan?


Kini dia bisa melihat anaknya yang sedang tidur, tapi kenapa harus dalam kondis seperti ini? Ken mengusap kening anaknya, lalu mengecup kening itu.


Tidak ada penolakan, tidak ada larangan, dan tidak ada tatapan tajam.


Kalau saja ini dan anak dalam keadaan sadar, tentu saja dia tidak akan pernah bisa melakukannya.


Dia mencium kening dan kedua pipi Gean. Memeluk dengan pelan tubuh kecil itu. Kenapa karena kondisi ini dia baru bisa melakukan semua ini?


"Bangun Sayang, jangan baut Daddy khawatir. Daddy tahu, Daddy salah. Tolong jangan hukum Daddy lagi. Daddy sangat sayang pada kamu," baik Ken di telinga Gean.

__ADS_1


Dia mengambil tangan kecil itu dan mengelukannya di pipinya, lalu mengecup tangan itu.


__ADS_2