Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
55 Di Tempat Bunda Irna


__ADS_3

Khea menghela nafas berkali-kali. Memandang langit malam yang terang dengan cahaya bulan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang seperti batu yang semakin mengeras, yang memenuhi hatinya.


Tuhan, aku ingin melupakan semuanya, tapi kenapa rasanya begitu sulit?


💕💕💕


Perasaan Gean sangat tidak enak. Dia terus saja melihat sang mommy. Anak itu duduk dengan gelisah.


Mommy, ucapnya dalam hati.


Laptop yang ada dalam pangkuan Gean langsung jatuh.


Berita heboh muncul di internet.


Bukan hanya Gean, bahkan semua orang, termasuk orang-orang yang mengenal Khea langsung speechless.


VANA, ATAU YANG SEKARANG DIKENAL DENGAN NAMA KHEA, ADALAH SEORANG PASIEN YANG MENGIDAP GANGGUAN JIWA.


BERIKUT BUKTI-BUKTINYA ....


Tangan Ken bergetar men-scroll berita itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. Tapi ada bukti yang disertakan dalam berita itu.


Sementara itu, Khea yang juga membacanya, wajahnya langsung berubah. Tangannya terkepal menahan getaran. Nafasnya tercekat dengan mata yang meredup. Sahabat-sahabat Khea saling menghubungi, juga berusaha menghubungi perempuan itu, namun tidak ada tanggapan.


"Mom, Mommy!" panggil Gean.


Anak itu berusaha membuka pintu kamar Khea, tapi tidak bisa karena pintunya terkunci.

__ADS_1


Khea memeluk tubuhnya, meringkuk di lantai yang dingin.


Ingatan masa lalu itu kembali hadir ....


...FLASH BACK ON...


Vana keluar dari ballroom hotel itu, tempat diadakannya acara pertunangan Vara dan Ken. Dia berjalan tanpa arah dalam keadaan terpuruk.


Vana memegang perutnya yang terasa sakit. Dia lapar dan haus, tapi tidak memiliki uang karena tasnya jatuh di dalam acara tadi.


Perempuan itu meringis pelan. Hujan rintik-rintik mulai turun, memberikan hawa dingin pada kulitnya yang tidak tertutup kain.


Pikirannya kosong, kalut dan bingung apa yang harus dia lakukan. Kakinya terus melangkah sampai akhirnya tiba di panti asuhan tempat dia sering datang bersama dengan teman-temannya.


Dengan tangan dan kaki gemetaran karena lelah, Vana mengetuk pintu panti. Sampai akhirnya perempuan paruh baya membuka pintu.


"Ibu."


"Kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu?"


"A ... aku hamil."


"Apa?"


Tidak lama kemudian Vana pingsan, lalu anak-anak panti membantu mengangkat Vana ke kamar.


Berhari-hari Vana mengurung diri di kamar. Tidak makan apa-apa karena perutnya selalu saja menolak makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Dia mulai terisak.


"Bagaimana aku membesarkan anak ini?"


Ibu panti yang bernama Irna, biasa dipanggil dengan sebutan bunda, mengelus pundak Vana.


"Bagaimana aku menjalani semua ini?"


Stres berat, itulah yang Vana rasakan. Korban pemerkosaan yang kemudian diusir okeh keluarganya sendiri. Bukannya mendapatkan dukungan dan kepedulian, malah dicaci maki.


Sahabat-sahabat Vana juga sudah dihubungi oleh bunda Irna. Mereka juga terpukul dengan apa ya g terjadi dengan sahabat mereka.


"Aku akan mencari Ken dan mengejar pria itu."


Mendengar nama Ken disebut, Vana langsung berteriak histeris.


"Aaa, pergi kamu sialan. Bajingan! Sialan!"


Vana mulai menjambak keras rambutnya sendiri.


"Vana, hentikan!" ucap Yuri. Dia dibantu oleh Chia dan Airu menarik tangan Vana agar tidak menyakiti diri sendiri.


Vana mendorong keras tubuh Yuri hingga gadis itu terjengkang, untung saja ditahan oleh Deo.


Gara dan Qavi juga menjaga Chia dan Airu, agar tidak ada yang terluka.


Tidak sampai di situ saja, Vana mulai menggigit tangannya sendiri, hingga menimbulkan bekas dan berdarah.

__ADS_1


__ADS_2