Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
37 Kekesalan Ken


__ADS_3

"Baiklah, saya setuju dengan kerja sama ini. Tapi saya tetap menginginkan Anda dan anak Anda menjadi pemain di film terbaru saya."


"Akan saya pertimbangkan untuk masalah itu."


"Baiklah, nanti asisten saya akan menghubungi asisten Anda untuk membahas kontrak kerja sama kita."


"Oke."


Mr Jang meninggalkan Khea dan Gean.


"Gean, nanti kalau mommy sudah mendapatkan kerja sama ini, Gean mau minta apa pada mommy?"


"Tidak ada."


Khea menghela nafas. Anaknya itu selalu saja seperti itu. Dia ingin Gean seperti anak lainnya, yang meminta sesuatu pada mommy-nya. Kenapa anaknya itu berbeda dari yang lain?


Gean memang suka bermanja-manja padanya, tapi manjanya bukan dalam bentuk meminta mainan, makanan, atau jalan-jalan ke tempat-tempat mahal.


Gean melihat kesedihan dalam wajah mommy-nya.


"Mommy, ayo kita membuat video bersama."


"Video, video apa?"

__ADS_1


"Apa saja. Kita akan melakukan kegiatan bersama satu hari penuh. Di hari itu mommy tidak boleh membuat design. Bagaimana?"


"Oke."


Gean lalu menghabiskan es krimnya sambil menunggu sahabat-sahabat Khea yang belum datang.


"Hai, sudah lama menunggu?"


"Tidak juga."


Satu persatu mereka datang, ikut membeli es krim karena cara makan Gean membuat mereka jadi ingin menikmati es krim itu.


"Kita ke mana sekarang?"


"Kalian tidak harus selalu membeli produk milikku. Kan bisa juga membeli merk lain."


"Tidak, aku memang lebih suka rancangan kamu."


"Jadi kita makan saja. Sudah jam makan siang."


Mereka memilih restoran Korea. Gean makan dengan teratur. Dia memang tidak pernah memilih makanan apa pun. Apa yang dimaksud atau diberikan oleh sang mommy, maka itu yang akan dia makan.


"Mommy harus makan banyak. Jangan sampai mommy kurus dan orang-orang mengira aku tidak menjaga mommy."

__ADS_1


Mereka tertawa. Bukankah seharusnya Khea yang mengatakan semua itu pada Gean, agar dia makan yang banyak dan tidak kurus, jadi tidak ada yang berpikir kalau dia tidak mengurus anaknya dengan baik.


Gean itu, sering mengeluarkan kata-kata ajaib tapi selalu dengan wajah datar.


"Iya, Sayangnya mommy. Mommy akan banyak hari ini karena uncle Deo yang akan mentraktir kita semua."


Mereka kembali makan sambil tertawa. Memang ada-ada saja kelakuan mereka saat bersama.


Deo lalu memesan banyak makanan untuk dikirimkan ke tempat bunda Risti. Bukan hanya itu, mereka juga mengirimkan banyak barang, jadi bunda Risti tidak perlu repot saat yang dibutuhkan tidak ada, karena mereka sudah menyediakan semuanya.


Kegiatan mereka itu dilihat beberapa orang hanya melalui video yang dikirimkan.


Bryan, Ken juga papa dan opanya sudah menyuruh orang untuk mengawasi Khea. Kebahagiaan Khea dan Gean itu membuat rasa iri.


Kini mereka yang terlihat bahagia meski pernah menderita.


Bukan Ken tidak mau berusaha untuk bertemu dengan Khea lagi. Tapi urusan perusahaan semakin membuat dia sibuk. Sejak acara fashion show itu, perusahaan milik keluarga Ken dan Vara semakin dituntut oleh pemegang saham untuk tetap menjaga kestabilan keuntungan.


Ken merasa geram. Selama enam tahun ini, dialah yang sudah membuat perusahaan keluarganya semakin jaya. Dia bahkan juga membuat perusahaan sendiri karena tidak mau selalu dianggap mendompleng nama keluarga.


"Kalau mau menarik saham mereka, ya sudah lakukan saja! Mereka pikir mereka itu siapa? Mereka sendiri yang akan rugi setelah tidak lagi berdampingan denganku, bukan aku yang akan rugi. Sialan!"


Brak!

__ADS_1


Ken menggebrak meja kerjanya. Sang asisten hanya diam, dia tahu bos besarnya itu sedang pusing dengan masalah pribadinya. Bertemu dan berbicara dengan nona Kheara tidak akan semudah bertemu dan bicara dengan calon relasi bisnis, atau tidak semudah meningkatkan keuntungan perusahaan yang selama ini selalu berhasil Ken lakukan.


__ADS_2