Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
116 Tubuh Yang Bersimbah Darah


__ADS_3

Sepanjang jalan, Ken terus saja mengusap sudut matanya. Andai waktu bisa kembali diulang, ingin sekali Ken kembali di hari pertunangannya dengan Vara dulu ... atau mungkin kembali sebelum terjadi malam kelam itu ....


Jika semuanya bisa terulang lagi, dia ingin memperbaiki segalanya. Dia tidak akan menyakiti hati Vana, dia dia tidak akan menyangkal anaknya meski saat itu kebenarannya masih abu-abu. Dia akan mencari Vana dan mencari tahu kebenarannya.


Pria itu lalu pergi ke butik, ingin menemui ibu dari anaknya.


"Ada ap ...."


Ken langsung memeluk Khea tanpa sempat Khea menyelesaikan perkataannya. Mendapatkan pelukan itu, sekujur tubuh Khea langsung menegang. Keringat dingin membasahi kulitnya yang putih mulus. Deru nafas Ken yang terasa di telinga dan leher Khea, membuat perempuan itu gemetaran.


Khea berusaha mendorong Ken, tapi pria itu malah semakin memeluknya dengan erat.


"Lepas!"


"Tidak."


"Lepas!"


"Tidak akan, aku tidak akan melepaskan kamu lagi, Vana."


"Apa yang kalian lakukan!" Vara yang datang ingin menemui Khea, begitu kaget saat melihat Ken dan Khea berpelukan.


"Vana, beraninya kamu menggoda calon suamiku!"


"Vara, bukan begitu!" bela Ken.


"Apa? Kamu mau membela diri?"

__ADS_1


"Tidak." Ken memang tidak akan membela diri, tapi Ken juga tidak akan membiarkan Vara salah paham.


Plak


Vara yang kalut karena melihat mereka berpelukan, langsung menampar Khea. Khea yang tidak terima tentu saja membalasnya. Ken berusaha memisahkan mereka.


"Vara, sudah. Jangan sakiti Vana, dia tidak salah apa-apa." Mendengar itu, bukannya membuat Vara berhenti, malah semakin menjadi. Dia merasa cemburu, sikapnya ini mengingatkan Ken pada Vana yang dulu.


Gean yang mendengar suara keributan di ruang kerja Khea, langsung keluar dari kamar tempat dia beristirahat saat berada di butik.


"Mommy! Lepaskan mommy aku!" teriak Gean.


"Gean, jangan dekat-dekat." Ken berusaha menjauhkan Gean dari perkelahian dua perempuan itu.


"Lepaskan aku! Mommy, Mommy!"


"Kenapa kamu malah membela dia, Ken?"


Keributan itu tentu saja membaut para karyawan Khea datang. Mereka masih saling jambak dan cakar.


"Pergi kalian dari tempat ini. Pergi!"


"Khea, aku ...."


"Pergi!"


"Mommy bilang pergi, ya pergi!" Kali ini Gean yang mengusir mereka. Anak itu mendorong tubuh Vara. Mereka sudah ada di pinggir tangga. Gean terus mendorong agar Vara turun, tapi perempuan itu menggeser tubuhnya, menyebabkan Gean kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


"Gean!" jerit mereka.


Khea memegang tangan Gean, tapi akhirnya mereka berdua terhuyung. Tangan Khea memegang tangan Vara, akhirnya mereka bertiga jatuh berguling-guling sepanjang tangga.


Para karyawan dan pengunjung butik berteriak histeris. Ken langsung turun menghampiri ketiganya yang sudah bersimbah darah. Slash satu pegawai langsung menelpon ambulans.


Ken melihat Khea yang memeluk tubuh Gean. Melindungi tubuh kecil itu, terutama di bagian kepalanya.


"Khea, Gean ...." Ken lalu melihat Vara. Pria itu menghampiri Ken dan Khea. Keduanya terlihat sangat parah. Entah darah siapa itu, Ken tidak tahu. Apa itu darah Khea? Apa itu darah Gean?


Ken mendekap ibu dan anak itu, hingga menodai kemeja putihnya dengan darah segar.


"Jangan ... jangan tinggalkan aku, aku mohon! Maafkan Daddy, Gean. Jangan tinggalkan Daddy, maaf kan Daddy, maafkan Daddy. Khea, bangun! Gean, bangun sayang ... aaarrggghh!"


Tidak lama kemudian ambulans datang. Orang-orang yang ada di luar butik, melihat ada dua ambulans datang tentu saja bertanya-tanya. Tim medis langsung mengangkat tubuh ketiganya dengan hati-hati.


Ken ikut masuk ke dalam ambulans dengan keadaan sangat kacau.


Aku janji tidak akan meninggalkan kalian, jadi kalian juga jangan meninggalkan aku lagi!


.


.


.


Yang punya vote, ayo vote. Udah dia bab ya hari ini😃

__ADS_1


Jangan lupa like dan kasih gift. Nonton juga videonya


__ADS_2