Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
117 Kondisi Ketiganya


__ADS_3

Ambulans tiba di rumah sakit. Mereka bertiga dilarikan ke ruang UGD. Ken berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu, sangat cemas. Bagaimana dengan nasib anak dan istrinya?


Tanpa sadar, dalam hati Ken menyebut Khea sebagai istrinya. Dia memikirkan ketiganya dengan cemas. Anaknya, ibu dari anaknya, dan tunangannya.


Ken bisa melihat dengan jelas kalau tadi Khea berusaha menjangkau sesuatu untuk menahan dirinya dan Gean. Jadi bukan Khea yang dengan sengaja menarik Vara.


Dia lalu teringat belum menghubungi keluarganya dan keluarga Vara.


"Ya, Ken?"


"Dad, segera ke rumah sakit sekarang."


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Aku tidak punya banyak waktu untuk menceritakan semuanya. Hubungi juga orang tua Vara."


Kurang dari satu jam kemudian mereka tiba.


"Kamu di mana, Ken?"


"UGD."


Suara langkah yang terburu-buru menandakan kedatangan keluarga mereka.

__ADS_1


"Ken, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa baju kamu penuh darah? Siapa yang terluka?" Pertanyaan bertubi-tubi itu semakin membuat kepala Ken berdenyut.


"Mereka bertiga."


"Mereka bertiga?"


"Gean, Khea dan Vara."


"Apa? Memangnya apa yang terjadi?"


Ken tidak menjawab, membuat para orang tua itu semakin mendesaknya.


"Ken, jangan diam saja."


Mereka yang mendengarkan seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan di kerongkongan.


"Jangan ada yang menyalahkan Khea. Ini bukan salahnya, apalagi Gean."


"Ken, kenapa kamu bicara begitu? Tentu saja kami tidak akan menyalahkan Khea, apalagi Gean."


"Benar. Kenapa kamu berpikir kalau kami akan menyalahkan Khea?"


"Itu ... itu karena sejak dulu kalian selalu menyalahkan dia, kan. Selalu menganggap dia pembuat onar ... termasuk, termasuk aku. Dulu aku juga selalu menyalahkannya kalau ada suatu yang tidak baik." Ken sangat sadar diri bagaimana dia yang dulu, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

__ADS_1


Kedua orang tua Ken dan Vara, juga opa oma Ken saling tatap. Sikap Ken ini seolah menunjukkan kalau ... apa mungkin hatinya telah berpaling?


"Kenapa dokter lama sekali?" tanya Ken.


Suara langkah-langkah kembali terdengar. Mereka semua menoleh. Sahabat-sahabat Khea datang dengan wajah emosi. Di belakang mereka juga ada sahabat-sahabat Ken. Pria itu menghela nafas, dia sudah cukup lelah tanpa harus dicecar dengan berbagai pertanyaan lagi juga mendapatkan kemarahan teman-teman Khea.


"Kamu, kenapa kamu selalu saja mencari masalah, hah? Tidak puas kamu menyakiti Khea, sekarang malah membuat Khea dan Gean terluka!"


Tuh kan!


Ken menghela nafas. Doa tidak akan membela diri. Dia memang tidak mendorong Khea dan Gean, tapi secara tidak langsung dia juga bersalah dalam hal ini. Kalau bukan karena dia yang memeluk Khea, maka Vara tidak akan salah paham. Lagi pula, siapa yang menyangka kalau Vara akan datang ke butik dan melihat Ken memeluk Khea?


Pintu akhirnya terbuka.


"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi pada mereka?"


"Nona Vara baik-baik saja, hanya perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat apakah ada luka dalam atau tidak." Mereka bernafas lega.


"Bagaimana dengan Khea dan Gean?"


"Nona Khea mengalami patah tulang di bagian tangannya ...."


"Apa? Dok, dia itu seorang designer, bagaimana bisa tangannya cedera!" teriak Ara.

__ADS_1


"Selain patah tulang di bagian tangan, kakinya juga terkilir."


__ADS_2