Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
38 Di Lobby Perusahaan


__ADS_3

Hari ini Khea dan Mr Jang melakukan pertemuan untuk melakukan kerja sama seperti pembicaraan sebelumnya.


Kalau pebisnis lainnya, mungkin tidak akan membawa anak dalam membahas pekerjaan apalagi penanda tanganan kontrak kerja sama, maka berbeda dengan Khea. Dia akan selalu membawa belahan jiwanya itu ke mana pun dia pergi.


Baru ada di pelataran gedung Jang Entertainment saja, ibu dan anak itu sudah menjadi pusat perhatian. Penampilan mereka ya g sangat stylish membuat orang-orang berdecak kagum.


Lingkungan itu sudah pasti banyak wartawan dan para publik figur, dari model, penyanyi, pemain film, produser dan sutradara.


"Nona Khea, bolehkah saya berfoto dengan Anda dan anak Anda?" ucap seorang model.


"Saya sangat mengagumi karya-Anda," lanjutannya.


Khea memperhatikan model itu, lalu mengangguk.


Mereka bertiga berfoto bersama. Setelah model yang bernama Anggun itu memintanya, maka yang lain pun ikut meminta. Bahkan mereka semua meminta ijin pada Khea u mengunggahnya di semua sosial media milik mereka.


Para wartawan yang mencari berita untuk berita gosip pun, mengabadikan semua itu dalam lensa mereka. Mereka merekamnya dan merasa senang hari ini akan mendapatkan berita yang bagus.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya, kami sudah ditunggu."

__ADS_1


Khea dan Gean memasuki lift. Orang-orang bertanya dalam hati, ada keperluan apa Khea datang ke tempat ini, apa benar dia adalah simpanan pria kaya? Apa jangan-jangan dia adalah pacar gelap Mr Jang?


Khea dan Gean tiba di lantai 10. Asisten Mr Jang sudah menunggu kedatangannya.


"Selamat pagi, Mr Jang."


"Panggil saja saya Dennis."


Khea dan Gean duduk di salah satu sofa.


"Ini berkas kerja sama kita."


"Tuan Dennis, saya ingin memilih sendiri siapa yang akan menggunakan brand saya."


"Kenapa, apa ada yang tidak cocok dengan Anda?"


"Ini bukan masalah cocok atau tidaknya dengan saya. Tapi apakah mereka cocok memakai brand saya atau tidak. Secara pribadi, tentu saja saya tidak punya masalah dengan mereka."


"Siapa yang ingin Anda pilih?"

__ADS_1


"Saya tidak bisa mengambil keputusan saat ini, meski sebenarnya saya sudah memiliki beberapa kandidat."


"Baiklah kalau begitu, saya percaya akan pilihan Anda, Nona Khea."


Saat berada di dalam lift untuk kembali turun, beberapa orang pemain film masuk disertai seorang sutradara. Sutradara itu melirik Khea dan Gean, lalu berpikir kalau ibu dan anak itu memiliki karakter yang kuat.


Jika membuat suatu film dengan dibintangi oleh keduanya, bisa dipastikan film itu akan booming.


Mereka tiba di lantai dasar. Di lobby perusahaan itu, sedang di adakan shooting. Kegiatan itu sedikit terganggu karena salah satu pemain terlihat tidak fokus saat melihat Khea. Hal itu tentu saja menarik perhatian yang lainnya.


Aura yang dipancarkan oleh Khea dan Gean memang sangat kuat. Masih seperti ini saja, mereka sudah menyita perhatian banyak orang, apalagi kalau nanti mereka menjadi artis?


Gean melirik pada kru yang ada. Melihat perlengkapan syuting yang dipasang di berbagai sudut. Langkah Gean berhenti, membuat Khea juga ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Gean?"


"Tidak, Mommy."


Gean kembali melirik pada pemain yang di antaranya ada beberapa artis cilik. Mereka juga memandang Gean. Putra Khea itu lalu mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Bisik-bisik mengiringi kepergian ibu dan anak itu.


__ADS_2