Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
83 Menenggelamkan Dia


__ADS_3

Ken kembali masuk ke dalam. Melihat mereka yang wajahnya sulit untuk dijelaskan. Rissa sendiri Mukai berdiri, memegang pinggangnya yang terasa sangat sakit akibat pukulan-pukulan dari Khea.


"Kamu benar-benar licik sekali, Ris!" Ken menjambak rambut Rissa, hingga kepala perempuan itu mendongak ke atas.


"Ken, sudah!" Marco menarik tangan Ken.


Ken berpikir, apa yang harus dia lakukan pada perempuan ini. Ingin sekali memasukkannya ke dalam penjara, tapi dia ingat apa kata Khea. Menuruti keinginan Khea harus dia lakukan, agar perempuan itu tidak marah kepadanya.


Ken langsung pergi, ingin mendinginkan pikirannya. Rissa ditinggalkan sendirian di sana.


"Apa kita akan membiarkan saja dia di sana?" tanya Vanya.


"Tentu saja tidak."


💕💕💕


Rissa meringkuk di atas kasurnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan terbongkar sekarang. Rencana yang sudah dia susun selama bertahun-tahun, dan berhasil selama bertahun-tahun juga, nyatanya sekarang malah terbongkar.

__ADS_1


Bagaimana bisa Khea mendapatkan bukti sebanyak dan selengkap itu?


Di rumahnya, Ken membanting barang-barangnya. Ini juga salahnya, yang membiarkan Rissa masuk ke dalam kehidupannya. Tidak, ini bukan salahnya. Salahkan saja Vara yang begitu bodoh. Dia menerima Rissa dalam lingkup pergaulannya hanya karena Rissa itu sahabat Vara.


"Sekarang kalian sadar, kan? Kenapa opa lebih menginginkan Vana sebagai cucu menantu opa, bukan Vara. Itu karena opa sadar, kalau Vara itu mudah dipengaruhi! Dia tidak punya sesuatu yang bisa memperkuat posisi Ken dalam dunia bisnis atau kehidupan pribadi. Bagaimana nanti kalau ada musuh yang mempengaruhi Vara untuk menghancurkan Ken dan keluarga kita? Hah!"


Vara menunduk, dia benar-benar merasa bodoh. Bodoh yang sebenarnya.


"Bagaimana bisa selama bertahun-tahun dia dibodoh-bodohi seperti itu dan tidak pernah sadar? Apa dia tidak pernah berpikir dengan akal sehatnya? Apa dia tidak berpikir secara logika?"


"Kalian ini, benar-benar membuat aku emosi saja. Ini gadis yang kalian bangga-banggakan itu, hah?"


"Ternyata kalian semua bodoh!"


Mereka menunduk mendengar kemarahan Ronald.


Para pelayan hanya bisa berdiri diam di dapur. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka sadar ada sesuatu hal serius yang sedang terjadi, dan itu bukan hal yang baik.

__ADS_1


Kemarahan Ronald ini persis seperti kemarahan Ronald dulu saat tahu ternyata Ken memiliki anak di luar nikah dan telah berusia lima tahunan.


Para pelayan itu saling menatap. Ada yang bergandengan tangan. Tidak ada yang berani bersuara atau pun keluar dari dapur. Jangankan mereka, anak cucu Ronald saja diam. Vara dan kedua orang tuanya juga diam.


"Kalau sudah begini, apa yang bisa kalian lakukan? Jawab!"


"Seumur hidup, aku tidak pernah merasa seperti ini. Memiliki orang-orang bodoh seperti kalian!"


"Dan kamu Vara!"


Vara mundur satu langkah. Tubuhnya bergetar, tidak ada yang bisa membantunya saat ini.


"Kenapa kamu bisa seperti ini? Ambisimu tidak pada tempatnya. Akhirnya semua orang menjadi hancur!"


"Maafkan aku, maafkan aku, Opa."


"Apa maafmu ada gunanya sekarang? Apa maafmu bisa mengubah masa lalu? Apa maafmu bisa membuat perempuan biadab itu musnah ditelan bumi? Apa maafmu bisa mengembalikan semuanya? Apa maafmu bisa membuat semuanya baik-baik saja?"

__ADS_1


__ADS_2