Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
54 Bantuan Nio


__ADS_3

"Nio, apa maksud kamu mendekati Vana dan Gean?" tanya Ken.


Nio menghela nafas, dia menatap wajah sahabatnya yang terlihat sangat kesal dengan dirinya.


"Aku kemarin datang ke sana hanya mau memesan jas. Terserah mau percaya atau tidak."


"Tapi kenapa harus memesan langsung pada Vana? Kenapa tidak meminta pada asistennya saja?"


"Ya kalau bisa langsung dengan designer-nya langsung, kenapa tidak? Kamu ini sebenarnya kenapa sih? Cemburu?"


Ken terdiam. Apa dia cemburu?


"Tidak."


"Ya sudah, jadi apa masalahmu? Kau pun kamu cemburu, cemburu kamu itu tidak ada tempatnya. Kamu bukan siapa-siapa Khea."


"Tapi aku ini ayah dari anaknya! Kamu harus ingat itu."


"Aku ingat, tentu saja aku ingat. Aku sangat ingat kalau kamu saat itu tidak mau mengakui anak itu, ya kan?"


Jleb

__ADS_1


Kalimat yang sangat tepat sasaran itu menusuk hati Ken. Egonya serasa dikoyak. Dia tidak bisa menyangkal, dan kini sangat menyesalinya.


Ken mengusap wajahnya, sangat gusar dan terlihat sekali kalau pria itu banyak beban pikiran.


"Aku ingin memperbaiki semuanya, Nio."


"Dengan cara? Meminta maaf dan mengakui Gean? Meninggalkan Vana dan bersama Khea? Menyenangkan yang satu tapi menyakiti yang lainnya?"


Ken menunduk, lalu menghela nafas berat. Dia akui, belakangan ini hubungan dia dengan Vara merenggang. Bukan karena Ken yang menginginkannya, tapi itu terjadi dengan sendirinya. Dimulai dari Ken yang sangat sibuk untuk menjaga kestabilan perusahaan, lalu jika ada waktu luang lu, dia akan sibuk mendekati Khea dan Gean meski semua itu sia-sia belaka.


Dia seperti kehilangan arah.


Bukan, bukan kehilangan arah, tapi mengubah arah. Opanya selalu saja bertanya, bahkan mendesak dirinya untuk menyelesaikan masalah ini. Hanya saja, tidak mudah membujuk Khea agar mau bicara dengan mereka dengan cara kekeluargaan. Perempuan itu masih sangat keras kepala.


"Begini saja, kalau nanti aku bertemu dengan Khea, aku akan bicara dengannya. Siapa tahu saja hatinya tergerak, meski aku sendiri tidak yakin."


"Terima kasih."


Mendengar Nio yang akan membujuk Khea, entah Ken Haris merasa senang atau tidak. Kenapa harus orang lain yang berhasil membujuk ibu dari anaknya itu?


Setelah Ken pergi, Nio menghela nafasnya. Dia banyak berpikir, haruskah dia terlibat dengan masalah mereka?

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Hari ini Nio akan mengambil jasnya yang ada di butik Khea.


"Hai Khea, ada yang mau aku bicarakan dengan kamu."


"Ck, kalau mau bicara mewakilkan mereka, aku tidak punya waktu."


Khe bukan perempuan yang bodoh, tentu saja dia tahu apa yang akan dibicarakan pria tampan di hadapannya itu.


"Ayolah, sebentar saja. Lagi pula, mau sampai kapan kamu menghindar?"


Gean menatap intens Nio. Nio yang merasa sedang diperhatikan oleh Gean, mengalihkan pandangannya pada bocah laki-laki itu, lalu tersenyum.


"Gean, uncle mau mengajak Gean dan Mommy makan siang bersama. Mau ya? Gean mau makan apa?"


"Gean mau makan sushi."


Khea terperangah saat mendengar pertanyaan Gean. Bukankah itu berarti anak ya itu menyetujui ajakan dari Nio?


"Oke jagoan, ayo kita makan."

__ADS_1


Khea mendengkus. Gean bukannya sengaja menerima ajakan Nio, hanya saja dia memang ingin sekali makan sushi. Dia juga tidak akan sembarangan menerima ajakan orang, tidak tidak begitu saja menerima seorang pria yang ingin mendekat mommy dia.


Wajah anak itu tetap saja terlihat datar. Dia hanya mengandeng tangan Khea dengan posesif, membuat Nio tertawa pelan.


__ADS_2