Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
17 Tidak Tahu Malu


__ADS_3

17 TIDAK TAHU APA-APA


Ken berjalan lunglai menuju kantornya. Perkataan Vara benar-benar sudah merusak mood pria itu. Para karyawan melihat Ken dengan takut. Wajahnya terlihat sangat kesal dan siap memarahi siapa saja yang mungkin tidak bersalah.


Arka bisa merasakan mood buruk dari bosnya. Dia harus menyiapkan telinga jika nanti bosnya marah-marah.


Ken menghela nafas berat. Belum juga mulai bekerja, dia sudah melonggarkan dasinya. Rasanya terlalu sesak, hingga membuat nafasnya berat. Bukan sesak karena dasi yang terlalu kencang, tapi karena hati yang tak tenang.


Aku memang bukan pria baik. Tapi aku juga tidak pernah dengan sengaja menjadi brengsek dan pengecut. Karena itulah aku ingin bersama mereka. Apa itu salah? Toh hubunganku dengan Vara juga masih sebatas tunangan. Bukan seorang istri yang tiba-tiba aku ceraikan hanya untuk perempuan lain. Aku juga tidak pernah berbuat lebih pada Vara dan mengambil kesuciannya. Hanya Vana saja yang pernah aku sentuh.


Ken berdecak kesal saat melihat tumpukan berkas yang ada di atas meja kerjanya, dan rasanya semakin pusing saja.


Bagaimana caranya aku bisa fokus bekerja, kalau mood-ku sedang rusak begini.


“Arka!”


“Ya, Tuan?”


“Ikut aku, dan bawa semua berkas itu ke dalam mobil.”


“Baik, Tuan.”


Mereka berdua turun ke loby, dan langsung masuk ke dalam mobil.


“Kita ke mana, Tuan?”


“Butik.”

__ADS_1


“Butik?”


“Butik Khea, Arka.”


“Baik, Tuan.”


Sesampainya di butik, Ken langsung menuju ruang kerja Khea.


“Mau apa kalian ke sini?”


“Aku mau kerja di sini saja.”


“Kamu sudah bangkrut?”


Ken terkekeh mendengar perkataan Khea yang terdengar lucu baginya. Memang diucapkan dengan kasar, tapi bagi dia itu menggemaskan. Toh Khea sendiri juga pasti tahu itu tidak mungkin.


“Mana mungkin. Aku akan bekerja keras untuk menafkahi kamu dan anak-anak kita.”


“Cepat keluar dari sini!”


“Ar, letakkan semuanya di atas meja.”


“Baik, Tuan.”


“Kamu bisa mencari ruangan lain untuk bekerja,” perintah Ken, seolah itu adalah tempatnya sendiri.


Arka melirik Khea yang terlihat sangat geram. Tentu saja pria itu masih ingat bagaimana Khea yang memukulnya dengan sangat kencang karena berani membawa pergi dirinya dengan paksa atas perintah Ken.

__ADS_1


“Saya permisi, Nona.”


Begitu Arka menutup pintu itu, dia melihat Gean yang membawa peralatan lukisnya.


“Selamat pagi, Tuan Muda Gean.”


Gean menatap tajam Arka, membuat pria dewasa itu malah salah tingkah. Masih kecil saja, Gean sudah bisa membuat orang lain segan kepadanya.


“Tuan Muda anak yang baik. Tuan Ken sangat menyayangi Tuan Muda, tolong maafkan Tuan Ken.” Arka menunduk hormat.


Meskipun masih kecil, tapi sikap Gean sudah terlihat dewasa. Mungkin selain karena hidup hanya berdua dengan ibunya saja, membuat dia lebih dewasa, juga karena tinggal di luar negeri.


Gean membuka pintu ruang kerja Khea, dan melihat pria itu yang sedang membaca berkas-berkas.


“Mom.”


“Kamu sudah selesai belajar, Gean?”


“Sudah, Mom.”


Ken melihat Gean yang hanya menggunakan kaos lengan panjang berwarna putih. Anaknya itu benar-benar mirip dengan dirinya.


“Gean, Daddy membawakan buku baru dan alat lukis untuk kamu.”


Gean memalingkan wajahnya. Masih sulit baginya untuk menerima kehadiran Ken. Anak itu mengepalkan tangannya saat teringat dengan masa lalu.


Rasanya masih sakit sampai saat ini. Kalian tidak pernah tahu apa saja yang sudah terjadi pada mommy dan aku. Aku benci ... aku benci. Benci!

__ADS_1


Gean lalu masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan itu. Dia memukul-mukul bantal yang ada di atas kasur. Meninjunya dengan sekuat tenaga hingga tangannya terasa sakit.


Gean benar-benar melampiaskan kekesalannya, namun tetap saja tidak pernah merasa puas.


__ADS_2