Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
70 Merasa Diledek


__ADS_3

"Lebih baik membanggakan keluarga, daripada menyusahkan dan memberikan aib!" ucap Ken dengan ketus.


"Membanggakan keluarga, bukan berarti harus mengikuti apa yang mereka mau. Masih banyak jalan lain. Membuktikan kesuksesan diri sendiri dengan kemampuan sendiri, bukannya mendompleng nama besar keluarga," ucap Vana, sama ketusnya.


Kamu benar, tapi kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa mereka andalkan? Di keluarga kamu, masih ada Vara yang bisa diatur.


Ronald yang mendengar perdebatan itu, merasa senang. Dia semakin menyukai Vana.


Yang seperti ini, yang pantas mendampingi cucu kesayanganku. Dia punya prinsip, tidak mudah goyah, dan berpikir dewasa.


"Seharusnya kamu membantu Vara, bukannya hanya bermain-main saja. Dia itu gadis yang mandiri."


Vara yang juga diam-diam mendengar perkataan Ken, merasa bahagia. Dia berjanji akan selalu berusaha. Tidak apa dia terkadang merasa tertekan, yang penting dia bisa membanggakan kedua orang tuanya, mendapatkan perhatian dan kasih sayang mereka, karena sekarang orang tuanya selalu kesal dengan Vana yang tidak mau menurut. Apalagi, Ken juga memuji dirinya, merasa bangga akan dirinya. Tanpa Vara tahu, sebenarnya Ken sedang menipu dirinya sendiri. Ken merasa kesal, karena apa yang setiap Vana katakan, memang benar.


Ken tidak bahagia!


Ken semakin menjauhi Vana, karena setiap kali bicara dengan gadis itu, Ken akan semakin iri.

__ADS_1


Hanya Vara yang akan menjadi tempat dia bercerita, tapi bukan masalah di hati terdalamnya. Hanya masalah-masalah ringan saja. Tentang rasa lelahnya, tentang hobi yang harus dibatasi, tentang impian yang tersimpan di hati.


Saat Ken dan Vara sekolah menengah atas, Nio yang masih kerabat dengan Ken, kembali dari luar negeri. Mereka bertiga akhirnya berteman dengan Bram dan Rissa.


Vara menceritakan tentang apa saja. Tentang keluarganya, tentang Vana dan tentang Ken.


"Aku ke rumah kamu ya, Ris?"


"Boleh. Tapi kosan aku kecil."


"Di luar negeri. Ada kerabat di sini, tapi gak nyaman kalau tinggal sama mereka. Maunya mandiri aja, lah. Jadi kalau ada teman yang mau kerja kelompok atau menginap, tidak akan mengganggu."


"Iya juga, sih. Kalau begitu, nanti aku, Ken, Nio dan Bram ke kosan kamu."


"Oke."


Saat akan ke kosan Rissa, Vana datang dan langsung minta ikut. Tidak ada yang bisa melarang, karena gadis itu keras kepala. Mereka tiba di kosan yang cukup mewah, dan nyaman.

__ADS_1


Kosan itu, kosan khusus perempuan. Ada juga kosan khusus laki-laki yang tidak jauh dari situ.


"Wah, kosan kamu enak banget, ya," ucap Vara. Vana menuju balkon kamar Rissa, yang berhadapan dengan kosan pria yang begitu elite.


Terdengar siulan-siulan dari para anak kos, yang rata-rata adalah mahasiswa dan pekerja kantoran. Melihat itu, Ken menjadi tidak suka. Dia lantas menarik Vana untuk masuk dan Rissa segera menutup jendela.


Setiap kali akan ke rumah temannya, hanya untuk kerja kelompok atau main, Vana akan ikut, membuat yang lain jadi kesal. Hanya Nio saja yang terlihat biasa-biasa saja.


"Kami ini mau kerja kelompok, Vana. Bukan main," ucap Rissa.


"Ya sudah. Belajar, ya belajar saja. Apa harus aku yang kerjakan?"


"Dasar bocil!"


"Bocil juga aku pintar. Emangnya kalian, kaya begini aja sampai harus kerja kelompok."


Rissa dan Marco, merasa diledek. Mereka jadi semakin tidak menyukai Vana.

__ADS_1


__ADS_2