
Hari ini Khea pergi ke butik seorang diri, karena Gean sedang flu. Sebenarnya dia ingin di apartemen saja dan menjaga Gean, tapi karena ada hal penting yang membuat dia harus pergi ke butik, jadi dia terpaksa pergi. Gean di apartemen bersama dengan asisten rumah tangga yang belum lama ini dia pekerjakan. Wanita paruh baya yang membutuhkan pekerjaan karena baru saja keluar dari pekerjaan sebelumnya.
Khea memasuki ruangannya dan di sana Sidah menunggu beberapa orang yang ingin menggunakan design miliknya.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
Mereka bersalaman dengan Khea. Pembicaraan langsung dimulai, membahas tentang pakaian seperti apa yang ingin digunakan dan segala detil yang juga harus diperhatikan.
Gaun-gaun ini nantinya akan digunakan dalam ajang kontes kecantikan. Khea yang sejak kecil sudah sering melihat bagaimana kontes-kontes seperti itu, tentu saja sudah sangat paham.
Kontrak kerja sama langsung dilakukan setelah mencapai kesepakatan. Ini tentu saja menjadi kebanggan juga buat Khea dan seluruh karyawannya. Setiap mendapatkan proyek baru dengan nilai yang fantastis, Khea tidak lupa memberikan bonus untuk semua karyawannya di berbagai negara.
Setelah semua tamunya pergi, Khea langsung membereskan barang-barangnya. Di ingin segera sampai di apartemen dan melihat keadaan Gean.
Keluar dari butiknya, ada yang menarik lengan Khea dan memasukkannya ke dalam dalam mobil.
"Lepas!"
"Kita harus bicara."
__ADS_1
Ken mengapit tubuh Khea dan meminta Arka untuk segera menjalankan mobilnya.
"Turunkan aku, aku harus segera pulang."
"Kita harus bicara."
"Kau bilang aku mau pulang. Anak aku sedang sakit."
"Anak kita sakit?"
"Anakku, bukan anak kamu!"
"Gean juga anak aku."
Ken akhirnya meminta Arka untuk mengantar mereka ke apartemen Khea. Bagaimana pun juga dia sangat cemas dengan anaknya yang sekarang sedang sakit.
"Aku ingin melihat keadaan Gean."
"Tidak boleh. Kamu tidak punya hak untuk bertemu anak aku."
"Aku punya ajak karena dia ana kandung aku."
__ADS_1
"Anak langsung yang kamu tolak dan buang? Anak yang saat masih di dalam rahim tidak kamu akui? Anak yang dulu kamu bilang anak haram? Anak yang dibilang tidak jelas siapa ayahnya? Tapi benar juga, ayahnya Gean memang tidak jelas, manusia laknat yang seharusnya mati saja!"
Arka yang mendengar perkataan Khea itu melihat Ken dari kaca spionnya. Kata-kata kasar dan menyakitkan tanpa filter. Terlihat jelas kebencian di suara itu.
Semoga saja aku terhindar dari masalah seperti tuan Ken, ucap Arka dalam hati.
"Maafkan aku, Vana."
"Aku bukan Vana."
"Maafkan aku, Khea."
"Sudah aku bilang, jangan pernah lagi mengusik aku dan anak aku. Hidup kamo selama enam tahun ini sangat damai dan bahagia."
Kan melihat Khea. Apa benar hidup mereka selama ini baik-baik saja? Tapi melihat Khea dan Gean saat ini, bukankah itu menunjukkan kalau apa yang dikatakan oleh Khea memang benar adanya.
Apa mereka bahagia tanpa aku?
Kalau saja Khea mendengar pertanyaan dari Ken itu, pasti Khea sudah tertawa nyaring. Apa mereka, orang-orang yang telah menyakiti hati Khea di masa lalu itu berpikir kalau Khea justru seharusnya menderita?
"Apa benar selama ini kalian baik-baik saja?"
__ADS_1
Khea mengepalkan tangannya. Wajahnya mengeras mendengar pertanyaan itu. Apa pun yang telah terjadi di masa lalunya, rasa bencinya pada orang-orang itu tidak pernah sirna.