Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
97 Ragu


__ADS_3

Mereka keluar dari ruang bioskop dengan wajah sembab, seolah baru saja mendatangi acara pemakaman, sedih rasanya.


Melihat orang-orang yang keluar dari pintu teater itu, yang sudah bisa dipastikan baru selesai memutar film terbaru berjudul Akhir Penantian, dengan wajah penuh duka seperti itu, membuat mereka penasaran.


Filmnya sedih?


Bad ending?


Sad ending?


Itulah pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka.


"Nonton itu, yuk!"


"Jadi penasaran, kayaknya bagus, deh."


Tiket selanjutnya ternyata sudah habis jauh sebelumnya, membuat mereka harus menunda untuk menonton sampai pemutaran berikutnya, atau mungkin besok dan besoknya lagi.


Berita di internet langsung mengabarkan fenomena penjualan tiket di hari pertama ini. Cuplikan-cuplikan film yang diberikan oleh pihak produksi yang sebelumnya menjadi iklan, menambah antusiasme masyarakat.

__ADS_1


Ken masih duduk di dalam.


Ruangan itu sudah sepi, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah keluar.


Kenapa?


Padahal sejak tadi dia sudah tidak tahan untuk segera keluar.


Vara duduk di sebelah pria itu, pria yang dicintainya menunduk dengan mata terpejam. Vara ingin menghibur Ken, tapi apa kata penghiburan itu berarti buat pria itu?


Marco dan Rissa juga masih ada di dalam sana, tidak mau meninggalkan sahabat mereka yang saat ini tidak baik-baik saja.


"Marco."


"Kalau kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan?" Marco tidak langsung menjawab. Dia melirik Vara dan Rissa.


Tidak bijak menurutnya menjawab pertanyaan Ken di hadapan kedua gadis itu. Biasanya di saat seperti ini, ada Nio yang dengan bijak memberikan saran.


Tapi si pria bijak itu tidak ada.

__ADS_1


Dia seolah menjadi pengkhianat bagi Ken.


"Ayo kita pergi dari sini. Kamu butuh istirahat yang cukup!"


Marco langsung merangkul Ken, mengajaknya keluar.


Mereka lewat secepat mungkin, tidak ingin menarik pusat perhatian di kerumunan para pemain dan pihak Jang Entertainment.


Ken tentu saja juga akan ikut terseret dalam sesi wawancara. Meskipun dia tidak terlibat secara langsung atau tidak langsung, tapi karena hubungan dia dan Gean yang sudah diketahui oleh publik, maka tidak lengkap rasanya jika tidak ikut mendengar komentar pria itu.


"Kalian pulang berdua saja, aku dan Ken akan pergi bersama." Tanpa menunggu jawaban dari Vara dan Rissa, Marco langsung masuk ke mobil bersama, dan pergi.


"Kamu yang sabar ya, Vara. Aku sangat yakin kalau kamu dan Ken akan baik-baik saja. Dia hanya sedang merasa bersalah dan galau saja saat ini. Yakinlah, kalau kamu adalah tempatnya untuk pulang. Ingat apa kata orang? Kalau menjelang pernikahan, maka ada saja godaan dan ujiannya. Itu sebagai bentuk tes apakah kalian mampu untuk bertahan bersama atau tidak. Kata orang juga nih, ujian dalam rumah tangga itu akan lebih berat lagi. Jadi, kalau kalian berdua tidak bisa melewati ini bersama dengan baik, bagaimana nanti mau melewati ujian yang lebih berat lagi?" Rissa mengusap punggung Vara, mencoba menenangkan hati sahabatnya yang juga sedang cemas.


Vara mendengar nasihat yang diberikan oleh sahabatnya itu. Mamanya dulu juga sering berkata seperti itu. Setiap kali ada masalah menjelang pernikahan mereka, dan akhirnya pernikahan itu selalu tertunda.


"Lebih baik menunda pernikahan, daripada memaksakan kalau akhirnya berpisah." Begitulah dulu yang sering mamanya katakan.


"Toh buktinya Ken tetap bersama kamu, kan. Dia tidak pernah berpaling, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Dia tetap setia, tetap perhatian dan tetap ada untuk kamu." Itu juga yang dulu papanya katakan.

__ADS_1


Tapi sekarang?


Entahlah, Vara sendiri ragu.


__ADS_2