
Khea sudah mulai beraktivitas kembali, setelah satu minggu beristirahat di tempat tinggalnya. Dia kembali melakukan pemotretan, dan merancang gaun-gaun yang pasti akan langsung laris begitu jadi. Semua dia lakukan dengan penuh semangat.
Gean juga sudah mulai home schooling lagi. Anak itu bersikeras tidak mau sekolah normal. Tidak ingin memiliki teman atau melakukan kegiatan apa pun dengan orang lain.
"Kenapa Gean tidak sekolah normal?"
"Kamu masih bertanya kenapa?" tanya Austin, yang bukan menjawab pertanyaan Ken, tapi malah balik bertanya.
"Dia tidak mau mendengar penghinaan lagi. Bukan sedih karena dirinya yang dihina, tapi tidak mau mendengar Khea yang dihina. Meskipun bukan Khea yang bersalah, tapi tetap ada saja orang-orang yang berpikir kalau Khea itu wanita penggoda."
"Kamu pasti masih ingat kejadian saat masalah ini terbongkar di sosial media, kan?"
Hati Ken merasa nyeri. Mereka kembali mengenang saat-saat di mana kasus ini terbongkar untuk publik. Saat itu, foto-foto Khea saat masih remaja tersebar luas. Khea yang sering pergi ke klub malam, memakai pakaian seksi dan terlihat nakal.
Mereka menganggap Khea lah yang menggoda Ken, menjebaknya, lalu memfitnahnya. Bersikap seperti korban yang dirugikan dan memanfaatkan keadaan.
"Jadi, tanpa harus dijelaskan lebih detail lagi, kamu pasti sudah paham, kan?"
__ADS_1
Di lain tempat, Arka sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh bosnya. Dia menemui beberapa orang, juga mendatangi beberapa tempat, bahkan melibatkan orang-orang yang ada di luar negeri. Arka melakukan semua ini secara diam-diam, agar tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
Pria itu menyusun data-data yang dia kumpulkan seperti menyusun potongan puzzle. Mencocokkan satu data dengan data lainnya.
Arka juga sudah mendapatkan riwayat medis Ken selama beberapa tahun belakangan ini.
Dalam hatinya, dia berjanji akan membantu bosnya itu dan selalu setia padanya. Arka memang bukan dari lingkaran pertemanan Ken seperti Nio atau Marco. Bahkan mereka tidak pernah satu sekolah atau satu kampus.
💕💕💕
Ken berdecak kesal saat melihat punggung Khea yang putih mulus itu terlihat jelas. Pria itu mengepalkan tangannya, nafasnya naik turun dan emosi menguasai hatinya.
Aku bisa memberikan kamu apa saja, Khea. Tapi berhentilah memakai pakaian seperti itu!
Mendadak Ken merasakan sakit kepala yang begitu besar. Dia langsung mengambil obat yang ada dalam tas kerjanya. Pria itu melonggarkan dasinya dan menghubungi Arka untuk datang ke tempatnya. Ken tidak mau mati sekarang sebelum mendapatkan kata maaf dari Khea dan Gean, dan hidup bersama mereka.
Tubuh Ken mengeluarkan keringat dingin, dia mematikan AC mobilnya dan membuka jendela. Pria itu kembali menghela nafas.
__ADS_1
Arka datang dengan cepat, melihat wajah pucat bosnya. Dia datang bersama dengan seorang dokter, meski Ken tidak memintanya. Asisten Ken memang cepat tanggap, dia mendengar suara Ken yang lemah dengan nafas tak beraturan, berinisiatif datang bersama dokter pribadi.
"Jangan banyak pikiran. Sebaiknya istirahat dulu, dan makan makanan yang sehat. Kalau kamu ingin mengejar tujuan kamu, jangan sampai lemah dan sakit-sakitan."
"Ck, apa maksudnya dengan sakit-sakitan?"
"Kamu nguntit Khea?"
Tidak menjawab, tapi malah bertanya balik. Dokter itu memang melihat keramaian, banyak kru yang membawa kamera dan perlengkapan syuting.
"Aku dengar, mereka akan menginap di hotel, karena syuting hari ini akan dilanjutkan besok pagi," ucap si dokter.
"Arka!"
"Saya akan memesan kamar untuk Tuan, bersebelahan dengan kamar nona Khea."
See, tidak perlu menjelaskan, tapi Arka sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Kalian soulmate?"
"Sialan!"