Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
14 Di Pesta Pertunangan


__ADS_3

Hari ini adalah pesta pertunangan Ken dan Vara. Wajah keduanya selalu berbinar sejak pagi tadi. Acara yang diadakan di hotel berbintang ini sudah nampak ramai oleh para tamu yang berasal dari rekan bisnis, petinggi dan karyawan perusahaan, juga para teman-teman mereka, dan tentunya kerabat besar.


Jantung Vara sudah berdetak semakin kencang, rasanya ini seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan.


"Kamu pasti deg-degan, kan?" tanya Rissa.


Di ruangan ini sudah ada mama Vara, mama Ken, Rissa, dan kerabat perempuan lainnya, hanya Vana saja yang tidak ada. Itu tentu saja membuat Vara sedih dan kecewa, kebahagiaannya tidak sempurna.


Di detik ini, Vara masih berharap kalau Vana mau mendampinginya.


"Jangan memikirkan apa pun, semuanya akan baik-baik saja."


Mereka lalu menuju ballroom hotel, ya g dekorasinya sangat mewah. Maklum saja, ini adalah pesta pertunangan dua penerus keluarga besar. Acara pertunangan saja semewah ini, apalagi pesta pernikahannya, begitulah pikir para tamu undangan.


Setelah menyapa beberapa tamu VIP, acara segera dimulai.


"Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi keluarga kami. Hari ini, kami mengadakan pesta pertunangan putra putri kami, dan itu menandakan akan menyatunya dua keluarga besar."

__ADS_1


Orang-orang bertepuk tangan, sambil mengagumi kecantikan dan ketampanan Vara dan Ken.


"Besar harapan kami, dengan menyatunya keluarga ini, akan semakin memperkokoh bisnis keluarga."


Setelah kata penyambutan dari ayah Ken dan Vara, selanjutnya adalah tukar cincin. Mama Ken menyerahkan kotak cincin itu kepada Ken. Namun sebelum Ken menyematkan cincin itu ke jari Ken, suara seseorang menghentikannya.


"Tunggu dulu, pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan!"


"Vana! Apa yang kamu lakukan?"


"Mereka tidak bisa bertunangan! Akulah yang akan menjadi istri Kak Ken."


"Jangan membuat malu, Vana. Seharusnya kamu bisa menerima kalau Ken akan menjadi kakak ipar kamu."


"Tapi mereka memang tidak boleh bersama. Aku lah yang yang paling berhak bersama Ken."


Ken mengepalkan tangannya, kenapa gadis ini selalu saja keras kepala dan membuat ulah. Apalagi saat ini adalah pertunangan dia dan Vara. Seharusnya Vana sadar, kalau cinta tidak bisa dipaksakan.

__ADS_1


Vara memandang sendu adiknya itu. Dia tahu betapa besar cinta Vana untuk Ken, tapi haruskah dia bersikap seperti ini. Ingin sekali Vara menyerah dan mengalah pada Vana, tapi hatinya dengan keras menolak. Dia juga ingin bahagia dengan pria yang dicintainya.


"Kak Ken, Kakak harus menikahi aku."


"Aku tidak akan menikahi kamu, karena aku tidak pernah mencintai kamu, Vana!"


"Aku tidak peduli Kakak mencintai aku atau tidak, tapi Kakak tetap Haris menikah denganku."


Gadis ini benar-benar gila.


"Vana, kamu masih muda, jalanmu juga masih panjang. Kamu akan bertemu dengan banyak pria dan pasti salah satunya akan menjadi jodoh yang terbaik untuk kamu. Kamu ikhlaskan Ken, dia bukan jodoh kamu," ucap mama Ken.


"Aku bilang enggak, ya enggak. Ken Haris menikah denganku."


Ingin sekali Ken menampar perempuan di hadapannya itu, karena sudah sangat menguji kesabarannya.


"Sidah aku bilang berkali-kali, aku tidak akan pernah menikah dengan kamu!"

__ADS_1


"Kakak tetap harus menikah denganku, karena aku sedang mengandung anak Kakak!"


__ADS_2