
38 LELAH SETELAH SEHARIAN
"Belum tahu. Lagian kayaknya maruk banget, ya. Semuanya diambil. Nanti yang nyinyir, tambah nyinyir, deh."
Mereka tertawa mendengar perkataan Khea yang malah menyindir orang-orang julid itu.
"Biarkan saja. Memang suaranya bagus, mau apa!"
"Khea, nanti kalau jadi penyanyi, datang ke radio ini untuk promosi lagu pertama."
"Eh, kita ini patut berbangga diri, loh. Kita menjadi bukti dan saksi pertama yang menunjukkan ke orang-orang kalau seorang Khea ini ternyata punya banyak bakat. Nyanyi salah satunya."
"Benar, benar banget."
"Kami siap mempromosikan semua lagu dan album kamu, Khea. Apa kita minta tanda tangan sekarang?"
Khea tertawa.
"Wah, gak terasa ya, ternyata ngobrol-ngobrol kita sama Khea sudah harus diakhiri. Kapan-kapan kita bakalan undang Khea lagi."
"Makasih ya, semuanya. Buat yang sudah mendukung saya. Bye semua!"
Lagu diputar, merasa melepaskan headset dan keluar dari ruang siaran.
"Foto-foto dulu kita. Nanti kita unggah di Channel resmi kita."
"Saling follow, yuk," ucap Khea.
__ADS_1
Foto itu langsung diunggah di semua akun sosial media radio itu. Tentu saja ada Gean juga yang tidak boleh ketinggalan.
"Makasih ya, semuanya."
Khea dan Gean pergi. Sekarang mereka akan menuju salah satu tempat pemotretan untuk majalah.
Lelah, pastinya. Tapi ini Khea lakukan juga untuk masa depan Gean. Gean diam-diam menghela nafas. Dia tahu sang mommy sangat lelah.
Mommy, Gean juga bisa menghasilkan uang.
Tentu saja Khea tahu itu. Tapi semua uang Gean, mana mau Khea memakainya, untuk alasan apa pun. Biar uang itu tetap utuh, dan hanya untuk Gean saja.
Bagi Khea, apa yang Gean lakukan dan mendapatkan uang itu, itu hanya sebatas hobi yang menghasilkan. Bukan sebuah pekerjaan, apalagi kewajiban.
"Kalau Gean lelah, Gean tidak perlu ikut. Gean bisa tinggal di rumah."
"Tidak. Gean mau ikut terus sama mommy."
Mereka tiba di studio foto.
"Kita akan melakukan pemotretan indoor dan outdoor. Hari ini indoor dulu, ya."
Salah satu kru memberikan wardrobe untuk Khea. Perempuan itu menggantinya di ruang ganti.
Riasan untuk Khea juga sangat pas. Perempuan itu menatap penampilannya di cermin.
"Oke, sudah siap? Kita mulai sekarang, ya."
__ADS_1
Khea memberikan berbagai macam gaya dan ekspresi. Tidak sulit, karena sejak kecil dia sudah biasa melakukannya. Ya, meski sedikit telat untuk mewujudkan impian itu.
Kipas angin dinyalakan, membuat rambut perempuan itu berterbangan. Ada empat busana yang harus Khea gunakan hanya untuk pemotretan indoor ini.
"Aku minum dulu, ya."
Khea kembali bergaya di depan kamera. Sikap natural yang dilakukan oleh Khea benar-benar memuaskan. Bahkan mungkin nanti mereka yang akan bingung untuk memilih yang mana yang harus diambil.
"Bang, minta foto pribadi sama Gean, dong."
"Oke. Ayo Gean."
Fotografer itu memang sudah mengenal Khea dan Gean.
"Nanti aku kirim ke ponsel kamu, Khea."
"Makasih banyak, Bang."
"Hari ini sudah oke semuanya, ya. Besok lagi."
"Gean mau makan malam apa?"
"Beli saja, Mom. Mommy tidak perlu masak."
Ken yang mendapatkan kabar tentang kegiatan Khea, hanya bisa menghela nafas.
Pergi ke sana ke mari, pastinya sangat melelahkan. Dia jadi teringat perkataan Khea pada opa, kalau jadwal pekerjaan dia selama beberapa bulan ke depan, memang sangat padat.
__ADS_1
Ya, ini belum ada apa-apanya. Bagaimana kalau Ken tahu Khea sudah menandatangani beberapa kontrak kerja sama?
Bahkan untuk satu tahun ini, jadwal Khea sudah sangat padat. Dia mengurusnya seorang diri. Sepertinya Khea harus mencari manager dan asisten pribadi.