Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
43 Kegelisahan Ken dan Vara


__ADS_3

Ken menatap barang-barang itu, yang digeletakkan begitu saja di tengah lobi.


"Bawa semuanya ke atas, Arka!"


"Baik, Tuan."


Hati Ken bergemuruh. Bukan hanya dirinya saja yang ditolak, tapi juga barang-barang pemberiannya.


Di lain tempat


"Gean, apa Gean mau menjadi bintang di acara televisi?"


"Ya."


"Apa? Gean serius?"


"Ya mommy."


Khea yang sudah mendapatkan persetujuan dari Gean, langsung menghubungi prosedur acara tersebut.


"Halo Produser An?"


"Ya, Nona Kheara?"


"Anak saya sudah setuju untuk mengisi acara di tempat Anda."

__ADS_1


"Benarkah? Terimakasih banyak kalau begitu. Baiklah, acaranya akan berlangsung dia hari lagi. Biar nanti sopir perusahaan menjemput kalian."


"Ah, tidak perlu. Saya dan Gean akan ke sana sendiri."


"Baiklah kalau begitu Nona Khea. Sampai bertemu dia hari lagi."


Vara melihat jam di tangannya. Sebentar lagi jam makan siang, dia ingin mengajak Ken makan siang bersama. Dia merapihkan berkas-berkas yang ada di atas mejanya, setelah itu membenarkan riasannya di kamar mandi pribadinya.


Wajah Vara selalu tersenyum. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Ken. Para karyawan di perusahaan Ken menunduk memberikan hormat padanya.


"Selamat siang, Nona Vara," ucap sekretaris Ken.


"Selamat siang. Ken ada?"


Vara langsung masuk ke dalam ruangan Ken.


"Hai, Sayang."


Suara lembut itu mengalihkan perhatian Ken dari berkasnya. Wajah Ken tersenyum melihat kedatangan Vara.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang?"


"Kejutan. Aku mau mengajak kamu makan siang bersama. Bagaimana?"


"Baiklah. Tapi tunggu sebentar lagi, ya."

__ADS_1


"Tenang saja Sayang, aku akan menunggu kamu."


Ken kembali melanjutkan pekerjaannya. Vara melihat wajah tampan Ken yang serius dalam bekerja. Wajah yang semakin hari semakin tampan saja, menurut Vara. Mata Vara lalu melihat sofa yang ada mawar putih dan kantong-kantong mainan.


Vara mendekati barang-barang itu. Jelas sekali kalau itu mainan-mainan untuk anak laki-laki.


Apa ini untuk Gean? Dan mawar putih ini, apa ini untuk Vana?


Hati Vara merasa dicubit. Dia merasa cemburu, jika memang benar mawar putih itu untuk Khea. Dia mendadak gelisah. Vara kembali duduk di sofanya. Sesekali melirik barang-barang itu juga Ken.


"Ayo kita pergi."


Vara tersadar dari lamunannya, lalu mengangguk.


Di loby, mereka menjadi pusat perhatian. Ken dan Vara memang selalu menjadi bahan perbincangan karyawan di kedua perusahaan mereka. Mereka berdua jauh dari gosip miring. Tentu saja ada yang tahu tentang skandal enam tahun yang lalu, tapi mereka yang tahu itu, dilarang membicarakannya pada siapa pun. Lagi pula mereka juga tidak percaya begitu saja.


Para petinggi perusahaan yang ada di acara pertunangan Ara, juga tutup mulut rapat-rapat. Mereka tidak mau nama perusahaan tercemar dan akan menggangu nilai saham, dan bisa membahayakan pekerjaan mereka.


Sepanjang perjalanan menuju restoran, Ken dan Ara diam saja. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, yang intinya sama saja, yaitu Khea dan Gean.


Vara dalam hati menunggu Ken menceritakannya semuanya. Mengatakan untuk siapa bunga dan mainan-mainan itu, meskipun dia sendiri memang sudah menebak.


Ken sendir diam, merasa kegelisahan yang terus ada dalam hatinya. Wajah Gean dan Khea tidak bisa dia hilangkan dari pikirannya. Dia ingin bertemu dengan Gean, memeluk anak itu dan mengatakan kalau dia adalah daddy-nya.


Apa Gean akan senang dan menerimanya, memeluknya dan memanggil dia daddy?

__ADS_1


__ADS_2