Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
30 Di Depan Pintu


__ADS_3

30 DI DEPAN PINTU


Vean mengepalkan tangannya saat melihat di Billboard, wajah Khea yang sedang memegang produk minyak wangi.


Belum lagi saat pertama kali dia melihat iklan yang ada di layar besar, Khea yang mengiklankan produk itu dengan seorang model bule yang tampan.


Dia cemburu, itulah yang terjadi.


Pandangan model pria itu pada Khea seolah menunjukkan hasrat.


Sialan! Kenapa Khea harus bermain iklan seperti itu!


Ken jadi frustasi sendiri. Dulu juga begini, pada Khea, Gean dan Nio.


Dia seperti orang yang kecolongan. Lagi-lagi merasa seperti sesuatu direbut darinya, seperti kejadian saat Khea dan Gean bermain film dengan Nio dulu.


Setiap kali Khea dekat dengan seorang pria, entah itu hanya dalam pekerjaan, Ken menjadi cemas. Dia ketakutan, takut kalau Khea akan terlibat cinta lokasi.


Rasanya, Ken ingin sekali mengurung Khea di dalam rumah, tapi itu jelas tidak mungkin.


đź’•đź’•đź’•


Pria itu mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ingin segera tiba di tempat tinggalnya, atau lebih tepatnya—bertemu dengan Khea.


Tubuhnya gerah, dan hatinya panas. Gerah karena melihat Khea bersama pria lain yang tidak dikenalnya, dan panas karena emosi.


Begitu Ken tiba di koridor, dia melihat Khea yang berdiri di depan pintu unit Ken. Ken tiba-tiba teringat sesuatu.


Sesuatu di masa lalu ....


Saat itu ....


Tubuh Ken tiba-tiba terasa panas dingin dan gemetaran.


"Khea ...."


"Kamu ...."


Wajah Khea pun mendadak pucat. Tubuhnya juga ikut bergetar dan keringat dingin.


"Ka ... kamu kenapa?" tanya Khea, melihat Ken yang terlihat pucat.


"Khea ...."

__ADS_1


"Aaaa ... lepas!"


"Khea, aku ...."


"Aaa ... Tolong!"


Gean yang mendengar teriakkan mommy-nya, langsung berlari ke luar.


"Mom, Mommy! Apa yang kamu lakukan pada mommy?"


Ken panik melihat Khea yang seperti itu. Ingin menolong, tapi keadaan dirinya sendiri juga tidak baik-baik saja.


Keduanya langsung saja pingsan, membuat Gean bingung dan ketakutan.


"Mom? Hei?" Gean segera mengambil ponsel dan secepat mungkin berlari lagi ke luar.


"Halo, Khea?"


"Uncle! Tolong mommy. Mommy pingsan, dan pria itu juga pingsan!"


"Apa? Baiklah, Uncle segera datang."


"Jangan lama-lama, Uncle. Kasihan mommy di depan pintu, Gean tidak kuat mengangkat mommy."


"Oke jagoan. Kamu juga jangan panik, ya. Atur nafas kamu."


Austin langsung menghubungi Deo dan Jessi. Siapa pun dari mereka yang jaraknya paling dekat dengan tempat Khea, akan lebih memudahkan memberikan pertolongan.


Ternyata mereka tiba di waktu yang hampir bersamaan. Ketiganya segara memasuki lift.


"Ya ampun!"


Mereka melihat Gean yang duduk sambil memeluk kepala Dhea. Wajah anak itu juga pucat pasi—ketakutan.


"Kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi, Gean?"


"Tidak tahu. Gean mendengar mommy yang berteriak meminta tolong. Dan pria itu juga terlihat tidak baik-baik saja."


"Cepat angkat mereka!"


Austin menggendong Khea, sedangkan Deo dan Jessica memapah Ken.


Austin memeriksa kondisi Khea, setelah itu memeriksa kondisi Ken.

__ADS_1


"Apa ada yang aneh pada pria itu?"


"Aku tidak mencium bau alkohol sedikit pun."


"Coba periksa CCTV."


Deo lalu memeriksa CCTV. Dimulai dari Ken yang tiba di loby, masuk ke lift dan tiba di koridor. Lalu kejadian selanjutnya.


"Kita berjaga di sini. Takut terjadi apa-apa."


"Gean, kamu sudah makan?"


"Sudah."


"Gean sekarang tidur, ya."


"Tapi, mommy?"


"Mommy tidak apa-apa. Hanya syok saja, besok pasti sudah sehat kembali. Jangan takut, uncle Deo, uncle Austin dan aunty Jessica akan tidur di sini. Tidak akan ada yang bisa menyakiti Gean dan mommy Gean."


"Ya, aunty. Tapi Gean mau tidur bersama mommy."


"Oke."


Gean lalu membersihkan dirinya, lalu tidur di sebelah Khea.


Tidak ada yang boleh menyakiti mommy.


Gean memeluk tubuh mommy-nya.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Deo.


"Sepertinya dia mengalami rasa syok yang berlebihan."


"Syok? Syok karena apa, dan kenapa bisa?"


"Mana aku tahu. Wajahnya terlihat sangat pucat."


"Aku akan tidur di kamar Gean. Kalian berdua tidur saja di sini menjaga dia," ucap Jessi.


"Ya."


"Kalau ada apa-apa, segera bangunin aku."

__ADS_1


"Oke."


Deo dan Austin akhirnya tidur di sofa bed, menjaga Ken, jangan sampai pria itu melakukan kejahatan.


__ADS_2