
"Jangan diulangi lagi, Rissa. Meskipun kamu tidak menyukai Khea, tapi kamu juga perempuan."
"Iya, aku tahu. Tadi hanya spontanitas saja."
💕💕💕
Entah bagaimana caranya mereka menebus semua kesalahan itu.
Sementara itu, sahabat-sahabat Khea menemui Khea. Mereka khawatir Khea akan kembali stres dan membahayakan dirinya sendiri.
"Jangan cemas, aku baik-baik saja."
"Jangan memendamnya sendiri, Khea."
"Aku tidak memendamnya sendiri, aku memang baik-baik saja."
Khea sudah tidak peduli apa yang orang-orang katakan dan pikirkan tentang dirinya. Ini hidupnya, mereka hanya bisa bicara saja, tapi tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan.
Tentu saja yang bisa memahami semua ini, adalah mereka yang juga para korban pelecehan seksual. Dsn setidaknya Khea bersyukur, masih memiliki sahabat-sahabat yang baik.
💕💕💕
Khea kembali beraktivitas, dia pergi ke butik, ingin melihat secara langsung, apakah dengan beredarnya berita buruk tentang dirinya, maka dia akan kehilangan pelanggan? Apa mereka yang dulu sering menyanjung-sanjung dirinya, akan tetap baik? Apa kontrak kerja samanya sebagai brand ambassador dengan produk-produk akan diputus sepihak? Apa kerja sama yang telah ditanda tangani tapi belum direalisasikan akan dibatalkan?
Khea membuka pintu kaca butiknya.
Sepi!
__ADS_1
Dia tidak akan kaget, ini sudah diprediksi olehnya.
"Selamat pagi, Nona," ucap karyawannya.
Khea memperhatikan ekspresi para karyawannya.
"Yang tidak nyaman bekerja di sini, bisa ke ruangan saya, ambil gaji dan pesangon kalian sekarang juga!"
Mereka diam, dan menunduk. Khea lalu pergi ke dalam ruangannya diikuti oleh Gean. Perempuan itu menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya yang nyaman dan empuk. Gean pun sama, langsung duduk di kursinya sendiri dan mengeluarkan peralatan lukisnya.
Lima menit
Sepuluh menit
Bahkan hingga satu jam lamanya, tidak ada yang datang. Bukan pembeli yang Khea tunggu, tapi karyawannya yang akan mengundurkan diri.
"Masuk!"
"Permisi, Nona ...."
"Apa kamu ingin mengundurkan diri?"
"Tidak, Nona, tapi ada yang ingin bertemu dengan Anda."
Orang yang dimaksud segera masuk. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Halo, Khea. Apa kabar?"
__ADS_1
"Tante?"
"Tante ke sini mau pesan gaun. Ini sahabat Tante, anaknya mau bertunangan."
Khea terdiam sesaat, lalu dia tersenyum.
"Silahkan duduk, Tan."
Perempuan itu adalah ibunya Nio, yang mengajak salah satu sahabatnya ke butik Khea untuk memesan gaun. Mereka mendiskusikan gaun seperti apa yang diinginkan untuk pesta pertunangan itu.
"Kalau bisa, anak Tante dan tunangannya datang ke sini, agar aku lebih bisa memberikan pendapat."
"Tadinya mau begitu, tapi hari ini mereka sangat sibuk. Jadi kami dulu saja yang datang ke sini, memastikan apa kamu bersedia merancang pakaian untuk mereka."
Kedua perempuan itu terlihat santai, tidak menunjukkan perasaan risih, jijik, atau ilfil.
"Tante boleh, ya, foto bersama kamu?"
"Boleh, Tan."
Mereka bertiga foto bersama, dan langsung diupload di sosial media milik mamanya Nio dan sahabatnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang membahas tentang berita Khea, seolah berita itu tidak pernah ada.
Dalam hati Khea tersenyum, ternyata masih ada orang baik seperti itu.
Mereka—orang-orang—yang melihat postingan dua wanita sosialita itu, memberikan banyak komentar. Begitu juga dengan Ken dan keluarganya, juga Vara dan keluarganya. Mereka memang tidak berkomentar apa-apa, tapi merasa sesak melihat ekspresi Khea yang biasa saja.
Entah memang tegar, atau pura-pura tegar.
__ADS_1