
Pagi ini hujan turun dengan deras. Khea sedang menyiapkan sarapan untuk dia dan Gean. Sekarang dia akan membuatkan nasi goreng seafood dan telur gulung. Cuaca yang dingin memang sangat cocok di hari Minggu ini. Keadaan yang pas untuk bersantai-santai di rumah.
"Morning, Mommy."
"Morning, Darling."
Gean meminum air putih yang Khea letakkan di atas meja, setelah itu dia meminum sedikit susunya. Anak itu memperhatikan Khea yang sedang memasak. Dilihatnya ruangan di sekitarnya, lalu dia berdiri. Gean merapihkan bantal sofa yang berantakan. Mengelap perabot yang sebenarnya tidak berdebu karena rajin dibersihkan.
Apartemen milik Khea ini memang tidak besar, tapi sambat nyaman. Orang-orang mungkin tidak akan percaya kalau designer terkenal seperti dia hanya tinggal di apartemen ini. Bukannya Khea tidak sanggup membeli rumah. Tentu saja dia sangat sanggup karena penghasilannya sebagai designer sangat besar. Bahkan jika dibandingkan dengan gaji yang didapatkan oleh Vara yang bekerja di perusahaan milik keluarganya, apa yang dihasilkan oleh Khea bisa disandingkan.
Para pelanggan Khea yang dari berbagai kalangan memberikan Khea banyak peluang untuk mengembangkan karirnya.
Khea tersenyum saat melihat Gean ya g ikut membantu, meski Khea rasa itu tidak perlu.
"Ayo Sayang, kita sarapan."
__ADS_1
Saat Khea dan Gean asik sarapan, lagi-lagi masyarakat dikejutkan dengan berita yang menghebohkan. Tersebar video tentang Khea saat pertunangan Vara dulu. Video yang menunjukkan pernyataan bahwa Khea sedang hamil dan mengatakan kalau Ken adalah pria yang telah menodainya. Video itu sangat lengkap tanpa sensor atau pemotongan.
Sahabat-sahabat Khea yang tidak menyaksikan kejadian dulu dengan mata kepala mereka sendiri, merasa sangat kesal. Mereka marah Khea diperlakukan seperti itu. Berbagai hujatan untuk Ken dan keluarganya juga keluarga Vara langsung dilontarkan. Mereka memaki Ken yang dianggap tidak bertanggung jawab.
Ara, Jessica, Deo dan Austin segera pergi ke apartemen Khea. Khea sendiri belum tahu apa-apa. Ponselnya mati sejak tadi malam, dan dia tidak menyalakan televisi.
Bel apartemen berbunyi, Khea langsung membuka pintu dan kaget melihat rombongan yang ada di depannya.
"Kalian ngapain pagi-pagi datang ke sini? Kenapa tidak bilang-bilang? Sudah pada sarapan belum?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Khea bingung mendengar pertanyaan dari Ara dan Jessica.
"Kalian kenapa sih? Memangnya aku kenapa?"
__ADS_1
"Memangnya kamu belum tahu?"
"Apa yang aku harus tahu?"
Mereka kalau menjelaskan dengan cepat apa yang terjadi. Ekspresi wajah Khea langsung berubah.
"Tidak perlu menonton video itu! Itu terlalu menyakitkan untuk ditonton," ucap Ara geram.
"Ya, dan lebih menyakitkan lagi saat mengalaminya," ucap Khea.
Mereka memeluk Khea. Benar apa yang dikatakan oleh Khea. Melihat itu saja dari sebuah video terasa sesak, apalagi yang menjalaninya.
Sementara itu di keluarga Vara dan Ken, semuanya sangat kacau. Meskipun hari Minggu, tapi sudah banyak para investor yang menghubungi kedua keluarga itu. Mereka menekan keluarga Ken untuk memberikan klarifikasi agar berita tidak simpang siur dan saham terkendali.
"Kenapa berita ini bisa tersebar? Siapa yang menyebarkannya?" tanya Ronald. Keluarga Ken dan Vara juga sedang berkumpul. Mereka dengan cepat melakukan pertemuan sebelum para wartawan menyerbu kediaman mereka.
__ADS_1
Mereka menerka-nerka siapa pelakunya, sedangkan Ken sendiri menyuruh Arka untuk mencari tahu siapa yang berani melakukan ini.
"Apa mungkin Vana sendiri yang melakukan ini?"