
Ke esokan harinya..
Ryu tengah bersedih hati, saat ini dirinya tengah duduk di hadapan cermin di kamarnya. Sementara Sandy tengah tertawa puas melihat tuan nya itu berulang kali meghela nafas. Bagaimana tidak, penampilan nya yang selalu ia banggakan itu kini harus rela ia korbankan demi sebuah penyamaran.
Rambut abu abu yang ia banggakan selama ini harus rela ia ubah menjadi warna cokelat. Benar, setelah mendengarkan ucapan Sandy, dirinya mau tidak mau harus mengubah warna rambutnya agar sama seperti Yara.
" Rambutku... " Ucap Ryuchie.
" Astaga tuan muda, kau merengek seperti anak kecil begitu. Jika nona melihatnya bisa jatuh harga dirimu." Ucap Sandy.
" Diam kau! Jika Yara tahu itu pasti karena dirimu." Ucap Ryu.
" Aku tidak mungkin membongkar aibmu tuan muda. Tapi anda juga terlihat tampan dengan rambut cokelat. Benar benar persis dengan adik mu." Ucap Sandy.
" Tentu saja aku tetap tampan, aku adalah Ryuchie Jhose Maxwell." Ucap Ryu bangga.
' Aku curiga, sepertinya nona lah yang seharus nya menjadi kakak. Nona jauh lebih dewasa.' Ucap Sandy dalam hati.
" Kau mengumpatku lagi Sandy.? " Ucap Ryu sembari menatap Sandy tajam.
" Tidak tuan.. Hanya saja aku penasaran. Sebenarnya siapa yang dilahirkan lebih dulu.? Apakah sungguh tuan muda.?" Tanya Sandy.
" Kenapa.? Kau mau bilang sifatku seperti anak anak.?" Ucap Ryu
" Begitulah.." Ucap Sandy.
" Kurang ajar. Cepat ambilkan soflens nya, lalu pasangkan." Ucap Ryu.
" Tapi aku tidak bisa memasang benda seperti ini tuan muda." Ucap Sandy.
" Lalu.?? Aku juga sama tidak bisa." Ucap Ryu.
Mereka berdua membaca keterangan yang ada di dalam box soflens itu, lalu pelan pelan mencoba memasangnya.
" Aduh perih.. Perih. " Teriak Ryu.
" Sedikit lagi tuan muda.. Ini tinggal aku dorong, sedikit lagi masuk." Ucap Sandy.
" Aduhh... Aw.. Aw.. Aw.. Kau sudah cuci tangan belum sih?" Ucap Ryu sambil keperihan.
" Astaga tuan muda aku tidak sejorok itu, apa lagi ini bagian tubuh yang sensitif." Ucap Sandy.
" AAAAAA.!!! Sial, sakit Sandy.!! " Teriak Ryu lagi.
" Tuan muda, pelankan suaramu, yang tidak tahu akan mengira kita sedang melakukan sesuatu." Ucap Sandy.
" Bukankah kita memang sedang melakukan sesuatu.? AAA... Perih.!! " Jawab Ryu polos.
" Astaga.. " Ucap Sandy.
" Mengapa sulit sekali memasang benda yang lunak ini. Aku tidak percaya para wanita menggunakan nya setiap hari. Kenapa mereka baik baik saja." Ucap Ryuchie.
__ADS_1
" Mereka sudah terbiasa tuan muda, sekarang cepat berikan padaku, biar aku yang pasang." Ucap Sandy.
Sandy mengambil satu soflens yang berada di tangan Ryu, ia kemudian mencoba menggunakan tangannya untuk memasang.
" Apakah sudah terpasang.?? " Ucap Ryu.
" Belum, sungguh ini lebih sulit dari pada membunuh musuh dan buronan." Ucap Sandy.
" AAAA... SANDY.. LEPAS, MATAKU PERIH.!! Teriak Ryu.
Ryuchi mengibaskan tangan nya, dan ia juga memejamkan matanya rapat rapat, matanya terasa sangat perih, seperti terkena saus sambal.
" Tuan, sepertinya sudah terpasang." Ucap Sandy.
" Benarkah.?? " Ucap Ryu senang.
" Iya, benda itu sudah tidak ada ditanganku, lihat." Sandy menunjukan tangan nya yang kosong.
Ryuchie perlahan membuka matanya, dan menatap ke cermin. Ia sangat penasaran bagaimana rupa benda bernama soflens itu berada didalam bola matanya.
" Kenapa aku tidak merasa warna mataku berubah? Ini masih tetap abu abu." Ucap Ryu.
" Iya juga.. Apakah tidak berpengaruh pada mata tuan.?" Tanya Sandy.
" Kau yakin sudah terpasang.??" Tanya Ryu.
" Sudah tuan muda, lihat.. Benda itu tidak ada lagi ditanganku." Ucap Sandy menunjukan tangannya lagi.
" Bagaimana mau berubah warna, benda itu ada di kakimu. Nah, lihat.. " Ucap Ryu sembari matanya menunjuk kearah bawah.
Sandy mengikuti arah pandang Ryu dan terkejut, rupanya soflens itu jatuh.
" Pantas saja tidak berubah warna, rupanya dia jatuh ." Ucap Sandy.
" Ganti yang baru." Ucap Ryu.
" Baik, sebentar " Ucap Sandy.
Sandy kemudian kemudian mengambil satu kantong besar bertuliskan sebuah nama optik terkenal dan membuka satu kotak soflens lagi.
" Satu kantong besar ini berisi apa.?" Tanya Ryu.
" Soflens tuan muda, untuk ganti ganti jika di perlukan." Ucap Sandy.
Secara tidak langsung Ryu membayangkan setiap harinya ia harus bertarung dengan benda bernama soflens itu. Seketika ia membayangkan bagaimana nasib matanya kelak, mata indah yang tidak semua orang punya.
" Tuan muda , ayo.." Ucap Sandy menyadarkan Ryuchie.
" Huhh... " Terdengar Ryu menghela nafas.
" Biar aku coba pasang saja." Ucap Ryu.
__ADS_1
Sebelum itu, dia mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia membuka video tutorial memakai soflens dengan benar. Dan akhirnya ia menonton video itu hingga 3 kali putaran, begitu seterusnya dia ulang ulang
" Oke.. Hanya tinggal taruh di ujung tangan, pastikan tidak terbalik antara depan dan belakang, posisikan pada mata, melek atau melotot.. Lalu mas..uk...an.. Nah, bagaimana.? " Ucap Ryu.
Namun bukan nya masuk, soflens itu justru menggantung dibawah kelopak mata.
" Pffttt... Hahahaha.. " Tawa Sandy pecah.
"Arrgh..!!! Ini terlalu sullit, ini lebih sulit daripada membantai sebuah kelompok mafia." Ucap Ryuchi frustasi.
" Kenapa wanita di video itu mempraktekan nya dengan mudah." Ucap Ryu lagi.
" Sabar tuan.. Coba sekali lagi." Ucap Sandy.
" Huft.. Huft.. Sabar.. Demi Yara." Ucap Ryu mengendalikan emosinya.
" Benar, demi nona Yara." Ucap Sandy memberi semangat.
Ryu pun akhirnya mengulang apa yang di praktekan dalam Video tutorial itu.
" Satu... dua.. Tiga." Ucap Ryu.
Dan, akhirnya satu soflens berhasil masuk kedalam mata Ryu.
" Akhirnya.. Uhu.. " Teriak Ryu senang.
" Wah, tuan muda.. Itu persis seperti warna mata nona." Ucap Sandy.
Ryu pun memperhatikan dengan saksama warna bola matanya. Memang bagus, warna mata yang sama dengan Yara. Seketika ia benar benar merasa kembar identik dengan Yara.
" Ini baru satu, bagaimana nasib yang satunya lagi.? " Ucap Ryu.
" Tentu saja tuan pakai yang satunya, masa tuan mau beda warna mata ? " Ucap Sandy.
" Masalahnya adalah, aku lelah..terlalu sulit menghadapi Soflens." Ucap Ryu.
" Ayolah tuan muda, kau bilang mau menunjukan kepada Ethan dan yang lain bahwa kau adalah nona, masa langsung menyerah." Ucap Sandy.
" Iya iya.. " Ucap Ryu.
Akhirnya dengsn menghabiskan waktu sekitar 10 menitan, barulah soflens itu berhasil terpasang. Kini tampilan Ryuchie, sudsh sama percis dengan Yara, bola mata, warna rambut, mereka sama. Hanya saja, mungkin badan mereka berbeda. Bagaimanapun Ryu adalah pria asli, jadi tubuhnya benar benar berotot.
" Nah, sudah.. Gaya rambut nona, warna mata nona, warna rambut nona, semuanya sama dengan yang tuan muda kenakan saat ini." Ucap Sandy.
" Bagus, ayo kita pancing Kristin keluar, jika dia menyuruh anak buahnya untuk menangkap adikku, maka saat ini pasti mereka tengah berkeliaran diluar. " Ucap Rayson.
" Saat ini Kristin berada di sebuah pulau yang masih berada di tanah air, Sinyal suaranya terdeteksi dari pulau seribu, Jadi dia cukup dekat dengan kita." Ucap Sandy.
" Oh.. Dia malah mendekat , itu bagus. Ayo, segera pancing dia keluar. Dan dengan cepat mengakhiri ini semua." Ucap Ryu.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1