Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 172. SEASON 2. MENJAUH..


__ADS_3

Nicholas dan Vaye akhirnya justru mampir ke danau. Seperti yang sudah sudah, Nicholas akan belajar bersama dengan Vaye. Dan seperti biasanya juga, Nicholas menjadi bulan bulanan Vaye.


" Astaga!! Aku bisa mati muda menjadi guru lesmu. Bagaimana bisa hasilnya menjadi begini, aku sudah mengajarimu berkali kali." Ujar Vaye.


" Ya mau bagaimana lagi, otakku tidak sampai disana." Ujar Nicholas sambil menaruh pensil di antara mulut dan hidungnya dengan bibirnya yang di manyunkan.


Vaye menepuk keningnya berkali kali, mau menolak mengajari, tapi Nicholas temannya. Tapi jika di teruskan dia yang akan pusing tujuh belas keliling.


" Pokoknya, jika sampai ujian nanti kau tidak ada kemajuan dan masih menduduki peringkat pertama dari belakang, aku tidak mau berteman denganmu." Ujar Vaye.


Mendengar hal itu, pensil di mulut Nicholas jatuh, dan Nicholas menatap Vaye begitu serius. Wajah Nicholas menjadi begitu datar.


" Kamu malu berteman dengan orang yang bodoh? Kamu malu berteman dengan orang yang menduduki peringkat pertama dari belakang??" Ujar Nicholas serius.


Vaye menjadi merasa bersalah, ia tidak berkasud untuk mengatakan demikian. Ia hanya ingin Nicholas memiliki dorongan belajar.


" Bukan begitu, kau tidak pernah serius saat belajar." Ujar Vaye.


" Kamu lelah mengajari aku?? Kalau begitu aku minta maaf, mulai besok kau tidak perlu mengajari aku lagi." Ujar Nicholas.


Nicholas membereskan buku bukunya dengan wajah datarnya. Vaye menghentikan pun tidak berguna, Nicholas menolaknya.


" Nicholas, kau marah padaku??" Ujar Vaye, dan Nicholas menggeleng.


" Lalu kenapa kau diam?? Dan kenapa kau bereskan buku bukumu?" Tanya Vaye.


" Kamu lelah, kita pulang saja." Ujar Nicholas.


" Aku tidak lelah, ayo lanjutkan. Jangan anggap serius ucapanku, aku hanya berniat memberimu dorongan belajar." Ujar Vaye.


" Aku tahu.. Ayo kita pulang." Ujar Nicholas.


Walau Nicholas tersenyum, Tapi matanya menunjukan sebaliknya. Vaye benar benar merasa bersalah sudah berkata demikian. Bahkan sepanjang mengemudikan mobil pun Nicholas hanya diam tidak ada percakapan hingga akhinya mereka sampai di parkiran.


" Jika untuk menjadi temanmu aku harus menjadi pintar, maka akan aku buktikan aku bisa. Aku tidak akan menduduki peringkat pertama dari belakang di ujian nanti. Kamu adalah temanku satu satunya Vaye, aku tidak mau kehilangamu. " Ujar Nicholas, setelah sampai di parkiran.


" Nicholas, aku tidak serius dengan ucapanku." Ujar Vaye.


" Tapi aku serius. Aku akan buktikan padamu, pertemanan kita bukan hal yang bisa di pertaruhkan. Aku akan giat belajar, agar aku pintar." Ujar Nicholas.


" Terimakasih untuk hari ini, dua minggu lagi adalah ujian akhir semester, aku akan buktikan bahwa aku bisa naik peringkat." Ujar Nicholas.

__ADS_1


Nicholas keluar dari mobil Vaye, dan entah mengapa air matanya menetes begitu saja tanpa permisi. Saat mendengar Vaye mengatakan bahwa tidak mau berteman lagi dengan Nicholas, seketika hatinya merasakan sakit.


' Aku harus giat belajar, agar Vaye tidak malu memiliki teman seperti aku.' Ujar Nicholas.


Vaye masih duduk di dalam mobilnya sambil menatap Nicholas yang berlari kecil menuju lift.


" Hufft... Apakah aku terlalu kasar padanya? " Gumam Vaye.


____________________________________


Ke esokan harinya..


Vaye sampai di parkiran mobil, dan rupanya tidak ada Nicholas disana. Biasanya Nicholas akan duduk di kap mobil sambil tersenyum cerah menyambut Vaye, tapi kini tidak ada sama sekali.


Vaye pun akhirnya berangkat sendiri. Setelah sampai di sekolah, Vaye melihat motor Nicholas. Rupanya Nicholas menggunakan motornya kesekolah.


" Apa dia marah padaku?" Ujar Vaye.


Vaye berjalan menuju kelas, dan sesampainya di kelas Vaye tidak melihat Nicholas. Entah kemana dia, yang ada hanya Timothy yang menatap ke arah Vaye.


" Vaye, apakah kita bisa bicara?" Ujar Timothy.


" Jam istirahat nanti, aku ingin bicara padamu." Ujar Timothy.


Dan saat bel sekolah berbunyi, Nicholas masuk dengan membawa setumpuk buku dan menaruhnya di sisi kanan. Buku itu menutupi pandangannya dari Vaye. Semua orang di kelas terheran heran dengan Nicholas yang membawa begitu banyak buku.


" Tidak biasanya Nicholas begitu." Ujar teman kelasnya.


" Apakah dia akhirnya mendapatkan mukjizat?" Ucap yang lain.


Nicholas sangat fokus pada buku bukunya, dan fokus juga mendengarkan guru yang menerangkan pelajaran padanya. Hingga akhirnya jam istirahat berakhir, Nicholas kembali pergi dari kelas dengan setumpuk bukunya.


Vaye hendak mengejar Nicholas, namun Timothy mencekal tangannya.


" Vaye, kita harus bicara." Ujar Timothy.


Vaye seperti dilema saat ini, tapi akhirnya dia mengangguk. Timothy tersenyum dan mereka berdua pun pergi dari kelas. Mereka sampai di lorong sekolah yang sepi, lorong yang menuju ke perpustakaan.


" Ada apa?" Tanya Vaye.


" Aku minta maaf.." Ujar Timothy.

__ADS_1


" Aku minta maaf padamu karena membawamu ke club malam. Aku juga minta maaf karena diriku, kamu jadi sasaran Henry. Vaye, aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu, aku hanya ingin berteman denganmu." Ujar Timothy.


" Bukankah kita memang teman satu kelas?" Ujar Vaye.


" Bukan pertemanan seperti itu maksudku, aku ingin berteman denganmu seperti bagaimana kamu berteman dengan Nicholas." Ujar Timothy.


" Kita semua teman.. Dan aku minta maaf atas nama Nicholas, karena dia telah menghajarmu." Ujar Vaye.


" Tidak masalah, aku pantas mendapatkannya. Vaye maukah kamu menjadi temanku juga?" Tanya Timothy.


Rupanya di balik dinding perpustakaan Nicholas mendengar percakapan mereka berdua. Nicholas memegangi dadanya yang entah mengapa merasakan sakit. Ia tidak ingin Vaye menjadi teman orang lain, ia ingin Vaye hanya menjadi temannya seorang.


" Kita semua teman satu kelas, jadi kenapa kau meminta berteman denganku. Aku harus pergi mencari Nicholas, permisi." Ujar Vaye dan pergi dari hadapan Timothy.


Nicholas tersenyum mendengar jawaban Vaye. Hingga akhirnya orang yang ia tunggu tunggu datang, dia adalah orang yang akan mengajari Nicholas. Dia adalah peringkat pertama di satu sekolah, anak yang jenius dan cerdas namun berpenampilan cupu bernama Bagas.


' Apakah semua orang pintar itu berpenampilan sangat cupu? ' Batin Nicholas saat melihat Bagas.


Nicholas pun belajar dengan anak bernama Bagas itu.


Vaye menuju parkiran, ia melihat motor Nicholas tapi tidak dengan orangnya.


" Motornya ada, tapi kemana dia? Ish, lelahnya mencari dia." Gumamnya.


Hingga hari hari berikutnya pun demikian.. Nicholas hanya muncul saat di jam pelajaran tapi setelah itu dia menghilang. Vaye semakin merasa bersalah saja, ia beranggapan mungkin Nicholas marah padanya.


Vaye juga merasa ada yang hilang di hari harinya, sudah semingguan lebih Nicholas mendiaminya dan tidak sedikitpun bicara pada Vaye.


' Kenapa hatiku rasanya tidak karuan? Aku seperti merindukan dia, Rasanya ini sama dengan saat aku di tinggal pertama kali oleh kak Edmund dan kak Nathan. Tapi kenapa sekarang ini lebih sakit, aku ingin sekali bertemu dengannya.' Batin Vaye.


Saat ini Vaye sedang duduk di atap sekolah, telinganya ia pasangi headset dan ia mendengarkan lagu. Tapi tiap lagu yang memutar di telinganya itu seakan mengingatkannya dengan sosok Nicholas. Mereka sering mendengarkan lagu lagu itu bersama.


" Si bodoh.." Gumamnya..


Tiba tiba air mata Vaye menetes begitu saja. Vaye tidak tahu perasaan apa itu yang sedang ia rasakan, ia hanga ingin agar bisa bertemu Nicholas dan ingin memeluknya. Hingga tiba tiba Timothy muncul dan melihat Vaye yang meneteskan air matanya.


Ya, beberapa hari itu.. Timothy selalu mencoba mendekatkan dirinya pada Vaye. Timothy ingin selangkah lebih dekat dengan Vaye tapi dia tidak mampu. Vaye seakan memberi pembatas yang sangat tinggi untuknya.


' Kamu bahkan menangis hanya karena dia tidak lagi bersamamu.. Vaye, pakah kamu mencintai Nicholas tanpa sadar?' Batin Timothy.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2