
Vaye sampai di kediaman Nicholas dan terlihat Nely yang sedang menata meja makan sendirian.
" Halo ibu.." Sapa Vaye dan langsung memeluk Nely seperti ibunya sendiri.
" Halo, nak.. Akhirnya kalian sampai juga, ayo kita makan.." Ujar Nely.
" Mama tidak mengundang dokter Abraham?" Tanya Nicholas.
" Ha? Dokter Abraham pasti lelah jika harus datang dan pergi dari sini terus. Mama juga sudah baik baik saja, sepertinya mama tidak membutuhkan dokter lagi." Ujar Nely, dan Nicholas mengangguk.
" Ayo makan, sayang.. Ini semua kesukaan Nicholas." Ujar Nely.
" Woah.. Ibu memang the best." Ujar Vaye sambil mengacungkan dua jempolnya.
Pasalnya bukan hanya satu dua makanan yang tersaji di meja makan, tapi hampir sekitar enam menu makanan dalam porsi besar untuk mereka makan bertiga.
" Makanlah, kamu pasti suka. Masakan mama selalu juara." Ujar Nicholas, sambil menyajikan makanan di piring Vaye.
" Baik, semuanya makan.." Ujar Vaye dan mulai memakan makanan nya tanpa malu malu.
Nely senang bertemu dengan Vaye yang ceria itu, dirinya yang selalu sendu jadi ikut ceria karena terbawa suasana hebohnya Vaye seorang. Sepanjang makan malam itu sesekali di selingi candaan dan tawa yang terdengar bahagia.
Tidak baku dan kaku seperti makan malam orang kebanyakan. Jika kebanyakan orang kaya lain mungkin hanya akan makan sambil diam diam dan hanya terdengar dentingan sendok, itu tidak berlaku bagi Vaye. Dia selalu mengekspresikan tiap makanan yang masuk kedalam mulutnya.
"Oh ya ampun! Ibu.. Apa nama makanan ini? Aku suka rasanya, manis." Ujar Vaye, Nicholas dan Nely sampai terkekeh di buatnya.
" Itu adalah bubur sum sum, nak. Apakah kamu suka? Jika kamu suka ibu akan membuatkan itu untuk mu sering sering." Ujar Nely.
" Sum sum apa?" Tanya Vaye, dan Nely kembali terkekeh.
" Itu bukan sum sum sungguhan, tapi tepung beras yang di buat menjadi bubur dengan santan dan di beri kuah gula merah yang manis. " Ujar Nely menjelaskan.
" Ohhh... pantas rasanya begitu enak." Ujar Vaye.
Setelah selesai makan, mereka bertiga pun kini duduk di ruang keluaraga.
" Kapan sidang Timothy di lanjutkan?" Tanya Nely.
" Seharusnya besok, ma. Entah jadi atau tidak." Ujar Nicholas.
" Semoga saja dia mengakuinya dengan benar tanpa harus berbelit belit seperti kemarin. Oiya, hampir saja lupa, Mommy menitipkan salam untuk ibu, dan berharap bisa makan bersama dengan ibu." Ujar Vaye.
" Oh, ya ampun.. Nyonya dominique pasti tidak lama ada di tanah air, kan? Katakan pada nyonya Dominique untuk beliau yang memilih tempat, ibu pasti datang kesana." Ujar Nely.
" Baik, nanti Vaye sampaikan. " Ujar Vaye sambil tersenyum manis.
" Ini sudah malam, ayo aku antar pulang." Ujar Nicholas.
__ADS_1
" Hmm.. ayo. Ibu, Vaye pulang dulu ya??" Ujar Vaye pada Nely.
" Hati hati dijalan kalian.. " Ujar Nely, lalu Nicholas dan Vaye pun pergi dari sana.
Sekitar 15 menit mereka pun sampai di apartemen Vaye.
" Aku masuk, ya? Hati hati di jalan." Ujar Vaye.
" Begitu saja?" Ucap Nicholas.
" Ha?? Apanya?" Tanya Vaye bingung.
" Aku kekasihmu, sayang.. Bukan supirmu." Ujar Nicholas.
" Ya, kamu memang kekasihku.. tidak ada yang bilang kamu supirku, kan ? Ucap Vaye bingung.
" Haih.. Bukan itu maksudku." Ujar Nicholas.
" Lalu??" Ucap Vaye semakin bingung.
" Astaga, kamu menggemaskan sekali. Aku boleh menciummu tidak?? Kalau di ingat ingat kita hanya pernah berciuman satu kali saat aku mengucapkan perasaanku padamu." Ujar Nicholas akhirnya.
Vaye seketika menahan senyumnya, ia hampir tersedak liurnya sendiri mendengar apa yang Nicholas ucapkan.
" Tidak usah.." Ujar Vaye, dan Nicholas pun menyendu.
" Maksudku tidak usah izin." Ujar Vaye sambil tersenyum manis, Nicholas pun ikut tersenyum.
Akhirnya keduanya mendekatkan wajah mereka dan berciuman sangat manis. Itu adalah ciuman perdana mereka secara sama sama sadar dan sama sama menginginkan nya.
" I love you, Vaye. " Ucap Nicholas setelah ciuman itu terlepas.
" I love you too, Nicholas Levi." Ucap Vaye.
" Masuklah, ini sudah malam." Ujar Nicholas, dan Vaye mengangguk.
" Bye, hati hati di jalan." Ujar Vaye sambil tersenyum, dan Nicholas pun melambaikan tangan nya.
Ada orang yang sedang mengalami manisnya hidup, ada juga yang sedang meratapi pahitnya hidup. Seperti Timothy contohnya, saat ini dirinya masih berkutat dengan bukunya.
Entah apa yang sedang di tulis di buku itu, sejak ia meminta buku dan pulpen ia hanya terus berkutat dengan dua benda itu.
" Huft.. Akhirnya selesai. " Gumam Timothy.
Senyum Timothy mengembang ketika melihat lembar demi lembar sesuatu yang ia buat di buku itu. Tangan nya meraba buku itu, lalu ia memejamkan matanya.
Ke esokan harinya..
__ADS_1
Sesuai jadwal yang sudah di tetapkan, Hari ini Timothy menjalani sidang nya kembali. Semua orang menyaksikan jalan nya persidangan itu, pandangan Timothy menyapu ruangan itu seperti mencari seseorang, namun hanya ada ibunya saja yang duduk disana.
" Timothy.." Gumam Tamara, dan Timothy tersenyum sangat manis seperti biasanya.
Vaye dan Nicholas tidak ada disana, karena mereka bersekolah. Prasetya bahkan tidak datang disana, hanya Tamara saja satu satunya orang yang Timothy kenal. Ada juga orang tua Bagas yang menatap sinis kearahnya saat ini.
" Saudara Timothy, kita mulai persidangan ini. Mohon anda bekerja sama dengan baik." Ujar penyidik.
" Baik." Ujar Timothy.
Timothy sama sekali tidak terlihat takut atau gelisah. Ia seakan sedang duduk di tempat tongkrongan nya, dan tersenyum seperti biasanya.
' Bagaimana bisa kamu melakukan pembunuhan nak, mama merasa menjadi orang tua yang gagal. Mama bahkan tidak tahu bahwa kamu selama ini menderita sendirian. Maaf kan mama Timothy.' Batin Tamara.
Tamara terus meneteskan air matanya, ia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Timothy. Ia tidak menyangka bahwa Timothy diam diam sakit, bahkan menjadi pembunuh di usia dini.
' Mama berjanji Timothy, setelah ini.. Kita akan memulai hidup baru kita sendiri. Mama tidak mau lagi egois, mama akan memperhatikan kamu baik baik. Mama tidak akan lagi mengejar hal yang bukan milik Mama.' Batin Tamara.
Sidang berjalan cukup normal, Timothy bahkan menjawab dengan jujur tanpa sedikitpun kebohongan. Seperti yang saat ini Timothy katakan..
" Aku menyayangi mereka, yang juga menyayangi aku. Dan karena aku menyayangi mereka, aku ingin selalu melindungi mereka entah dari apapun itu." Ujar Timothy.
" Lalu apa yang saudara Bagas lakukan pada anda? Kenapa anda menyiksa nya hingga mengakibatkan dia koma, dan lagi anda mengulaingi perbuatan anda dengan menyuntikan obat pembeku jantung? " Ujar Penyidik.
" Karena dia mengambil sesuatu dariku." Ujar Timothy.
" Sejak kemarin anda mengatakan itu, sebenarnya sesuatu apa yang saudara Bagas ambil dari anda?" Tanya penyidik.
" Perhatian Nicholas." Ujar Timothy.
Semua orang tentu mengernyit bingung, alasan macam apa itu? Apakah hanya karena sebuah perhatian Timothy harus mencelakai orang.
" Apakah anda memiliki ketertarikan pada sejenis anda?" Tanya penyidik, dan Timothy menggeleng.
" Nicholas adalah orang pertama yang melindungi aku saat aku di ganggu orang. Dia adalah malaikat yang baik, tapi aku harus kehilangan malaikat itu karena sebuah kesalahan dari kelahiranku. "
" Dia jadi jauh dariku, dan membanciku. Aku sangat menyayanginya seperti saudaraku sendiri, dan aku berjanji akan melindungi dia apapun yang terjadi. Tapi Bagas.. Dia menjadi begitu dekat dengan Nicholas, atas dasar apa?? " Ujar Timothy.
" Alasan konyol macam apa itu!! " Teriak ibu Bagas.
" Nyonya, harap tenang." Ujar petugas.
" Mungkin terdengar konyol bagi kalian semua, tapi bagiku yang mengidap Skizofrenia itu sangatlah penting. Tidak ada yang mendukung aku, tapi Nicholas melakukannya." Ujar Timothy akhirnya dengan air mata yang menetes.
Tamara melihat putranya yang begitu menderita sendirian. Fisik boleh di katakan sehat dan baik baik saja, tapi siapa yang tahu mentak seseorang seperti apa. Yang Timothy rasakan adalah.. mentalnya terombang ambing.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1