
Roger berdiri di depan pintu masuk saat mendengar suara ayahnya dan Ethan tengah berdebat. Roger mendengar banyak percakapan antara ayahnya dan Ethan. Ia tidak menyangka bahwa selama ini rupanya bukan hanya dirinya yang menderita sendirian. Mungkin karena ia terlalu tenggelam dalam asumsi asumsinya tentang Ethan dan ibunya, jadi ia menutup mata.
' Ternyata bukan cuma aku yang menderita sendirian. Ethan lebih menderita dari pada aku. Tapi aku selalu merasa bahwa akulah yang paling menderita.' Batin Roger bermonolog.
" Roger.. Kamu disini?" Tanya Ronald.
" Aku tinggal disini sudah beberapa hari yang lalu." Sahut Roger.
" Tapi bukankah kau membenci Ethan selama ini.?" Ucap Ronald tidak mengerti.
" Dulu begitu, tapi kemudian aku sadar bahwa justru sebenarnya dia lah yang paling peduli padaku. ??" Ucap Roger sembari menatap pintu ruangan Ethan.
"Apa maksudmu, ayah tidak mengerti.. " Ucap Ronald.
" Adakah diantara kalian yang peduli denganku? Ayah tahu, selama ini meskipun aku membenci Ethan, tapi Ethan tetap peduli padaku. Hal itu yang membuatku malu dengan diriku sendiri." Ucap Roger.
" Tapi ayah tidak tahu jika kamu terluka, kamu juga tidak memberitahu ayah." Ucap Ronald membela diri.
" Tidak harus menunggu ku terluka, selama ini aku di Nusa kambangan adakah diantara Kalian yang datang mengunjungiku?. Ada apa ayah datang kemari?" Ucap Roger.
Ronald diam, dia tidak bisa menjawab ucapan Roger karena memang dirinya tidak pernah mengunjungi Roger. Mereka hanya akan bertemu saat ada acara keluarga.
" Ayah.. Ingin tahu keadaan ibumu." Sahut Ronald.
" Ayah, Terkadang sesuatu yang kita abaikan itu justru adalah hal terpenting yang kita lupakan.Tidak semuanya harus menjadi kesalahan Ethan dan ibunya. Disini.. Ayah yang paling bersalah. " Ucap Roger.
"Jika saja ayah tidak berselingkuh dengan ibunya Ethan saat itu, maka tidak akan ada hari ini. Atau paling tidak, jika ayah bisa tegas menengahi kami saat itu, Maka mungkin kita semua bisa hidup rukun dan bahagia. Bahkan nama Ethan tersemat dalam kartu keluarga ayah dan ibu. Tidak tertulis nama ibunya Ethan di dalam kartu keluarga kita. Itu sudah membuktikan, bahwa ibunya Ethan adalah wanita yang baik." Ucap Roger lagi.
Ronald hanya menunduk diam, seringkali sifat egoisnya lebih mendominasi, hingga tidak sadar bahwa dirinya telah melupakan suatu hal yang penting, dan membuat kesalahan.
" Ayah.. Disini, Ethan yang paling menderita. Dia berjuang sendirian selama ini, Aku harap ayah jangan menyulitkan dia lagi, ayah kembali saja." Ucap Roger lalu ia melangkah hendak meninggalkan Ronald.
" Bagaimana ibumu.? " Tanya Ronald.
Roger menghentikan langkah kakinya lalu menunduk tanpa berbalik menghadap Ronald.
" Dia.. baik baik saja." Ucap Roger dengan memejamkan matanya.
Setelah mengatakan itu, Roger langsung mengambil langkah besarnya dan meninggalkan Ronald sendiri di ruangan besar itu.
Dibalik ruangan, Ethan tengah duduk diam sembari memandangi sebuah foto. Foto itu memperlihatkan sebuah keluarga yang nampak harmonis. Terlihat Ronald yang terlihat masih muda, dengan dua wanita di sampingnya, juga dua anak laki laki yang berbeda usia. Itu adalah fotonya keluargany saat kecil dulu.
" Dulu.. Sepanjang hari aku habiskan untuk mencari sedikit perhatian darimu. Aku belajar mati matian agar bisa menguasai berbagai macam hal, demi supaya bisa mendapatkan pujian darimu. Tapi aku selalu melupakan satu kenyataan, bahwa aku anak yang tidak di inginkan kehadirannya." Ucap Ethan sembari menatap wajah Ronald.
" Aku tidak menyerah, dan tetap belajar dan belajar. Hingga aku memiliki kekuatan sendiri, untuk melindungi keluargaku. Lalu kemudian aku tahu, kalian yang aku lindungi justru menginginkan kematianku. Sebenarnya dimana salahku.? Aku baik, kalian semua menginjak injak ku. Aku kejam, kalian mengataiku tidak berperasaan dan tidak tahu diri." Ucap Ethan lagi.
Ethan tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, jangan kira Ethan mendapatkan perhatian dari Ronald. Apa yang terlihat difoto, tidaklah seindah kenyataan. Ibunya hanya wanita biasa yang lemah, Ia hanya mengatakan selama Ethan bisa hidup bahagia di dalam keluarga Dominique, ia tidak masalah jika dirinya tidak diakui dihadapan publik, ia akan tetap sembunyi di belakang dan tidak akan pernah muncul ke publik.
Hal itu juga yang membuat Ethan membenci ibunya, ibunya lebih mementingkan masa depan Ethan bergelimang harta dan terjamin, dari pada memikirkan perasaan Ethan sendiri. Ibunya rela memberikan hak walinya kepada Kristin sebagai ibu kandung yang tertulis dalam kartu keluarga, sementara dirinya hanya bisa diam dirumah tanpa mengetahui apa saja yang dilalui Ethan.
Hingga akhirnya Ethan menyerah mencari perhatian ayahnya. Beruntungnya, saat itu Roger masih peduli padanya, hingga hari dimana Kristin dinyatakan meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hari itu, hari dimulainya perubahan sikap Ethan dari yang ceria, menjadi dingin.
Tok.. tok.. tok..
Suara pintu di ketuk dari luar.
" Masuk" Ucap Ethan.
Terlihat Roger membuka pintu ruangan Ethan, lalu berjalan menghampiri Ethan yang tengah duduk di meja kerjanya.
" Kau tidak apa apa.?" Tanya Roger.
" Apa yang bisa terjadi kepadaku.? Kau terlalu berpikir berlebihan." Ucap Ethan.
" Aku minta maaf.. " Ucap Roger.
" Untuk??" Tanya Ethan.
" Keterlambatan ku menyadari penderitaanmu. Selama ini aku mengira bahwa akulah yang paling menderita, tapi ternyata aku hanya terlalu egois. Tidak memikirkan perasaanmu, juga penderitaanmu selama ini." Ucap Roger.
" Sudahlah, yang sudah terlewat maka sudahlah. Setidaknya semua itulah yang membuatku tumbuh menjadi pria yang kuat seperti sekarang." Ucap Ethan
" Terimakasih.." Ucap Roger.
Roger hendak pergi dari ruangan Ethan, namun tiba tiba Ethan teringat dengan perkataan Yara yang memintanya untuk menahan Roger selama tiga hari kedepan. Ia menjadi bingung sendiri, jika saja itu adalah Roger yang dulu mungkin ia tidak akan dilema, namun ini adalah Roger yang sudah berubah lebih baik.
__ADS_1
" Kak, jika ada hari dimana kau melihat ibumu meninggal.. Apa yang akan kau lakukan.?" Ucap Ethan tiba tiba.
Roger menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Ethan.
" Jika itu sudah takdirnya maka aku bisa apa.? Aku hanya bisa merelakan nya." Ucap Roger.
" Jika ia meninggal karena dendam seseorang, Apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Ethan lagi.
Roger tahu siapa yang Ethan maksud, yang dimaksud oleh Ethan pasti adalah Yara. Mendengar pertanyaan itu, Roger menundukan kepalanya lalu menjawab..
" Maka itu juga adalah takdirnya. Dia hanya membayar karma atas apa yang telah ia perbuat." Ucap Roger.
Ethan melihat kesedihan yang mendalam dimata Roger, namun ia juga tidak bisa berbuat apapun. Bagaimana pun juga Kristin terlalu berbahaya jika hidup berkeliaran seperti sebelumnya.
" Yara memintaku untuk mengurungmu selama tiga hari." Ucap Ethan.
Roger mengangkat wajahnya lalu menatap Ethan dengan tatapan bingung.
" Kenapa kamu memberitahuku?" Tanya Roger.
" Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Aku memberitahumu ini, agar kamu bisa menilai.. Bahwa apa yang sedang kami lakukan ini adalah demi kebaikanmu, dan semua orang." Ucap Ethan.
" Maka lakukan saja apa yang seharusnya kamu lakukan. " Ucap Roger.
" Kamu tidak keberatan.?" Tanya Ethan.
" Tidak.." Ucap Roger.
" Terimakasih karena kamu masih saja memikirkan perasaanku, kalau begitu mulai besok aku akan diam dirumah." Ucap Roger.
" Baiklah.. " Ucap Ethan.
Ethan sengaja tidak mengurung Roger seperti tahanan, Ethan mencoba menaruh rasa percaya pada Roger.
' Semoga mulut mu tidak lain dengan hatimu. Aku mencoba percaya padamu kak.' Batin Ethan bermonolog.
.........
Di tempat lain, kediaman Yara.
" Siapa kau?? " Tanya Kristin pada Yara.
" Aku, salah satu orang yang pernah lewat di hidupmu." Ucap Yara.
Yara tidak mau menyebutkan namanya, karena ia tidak mau Kristin mengingatnya dialam bawah sadarnya.
" Apakah kau bisa jelaskan, ada apa dengan cucu Damian Maxwell.?" Tanya Yara.
Yara sedang mencoba mengorek informasi mengenai apa yang Kristin sempat bicarakan. Namun karena tiba tiba efek obat itu menghilang , Kristin tidak melanjutkan kata katanya.
" Damian maxwell... " Ucap Kristin. Entah mengapa saat menyebut nama kakek Yara, Kristin menjadi begitu mendendam.
" Apakah ada sesuatu yang akan terjadi pada cucu Damian Maxwell?" Tanya Yara lagi.
" Damian.. Dia sudah mengambil paksa segel ayahku. Lalu dia juga mencoba mengendalikan kelompok mafia ayahku. Untungnya ia di kutuk oleh simbol naga kelompok kami, hahaha.. " Ucap Kristin.
" Apa yang akan terjadi pada anak yang dikutuk itu.? " Tanya Yara.
" Dia.. Akan memiliki tato naga saat ia berusia 19 tahun,dan akan mati dalam waktu 1 tahun, jika tato itu tidak menyala di bawah sinar bulan purnama." Ucap Kristin.
" Lalu bagaimana cara agar tato itu menyala.?"
Tanya Yara lagi.
Tiba tiba Kristin menatap Yara tajam, namun Yara mencoba bersikap biasa saja.
" Dengan segel yang dicuri oleh Damian.. " Lalu tiba tiba Kristin jatuh pingsan.
" Tatapan nya tadi, apakah dia sudah terbangun sebelum efek obatnya habis?" Ucap Yara yang melihat Kristin hilang kesadaran saat ini.
" Sedikit lagi.. Harus aku apakan segel itu." Ucap Yara lagi.
Yara bangun dari duduknya dan berjalan hendak keluar dari ruangan itu, namun tiba tiba Kristin membuka matanya lebar dan langsung menatap tajam punggung Yara. Saat ini kondisinya tidak terikat, karena Yara ingin agar Kristin lebih leluasa bercerita.
Kristin perlahan bangun, dan berlari hendak menusuk Yara dari belakang. Yara yang merasakan ada pergerakan di belakangnya, langsung menoleh dan terkejut saat tiba tiba ia melihat Kristin berlari hendak menyerangnya.
__ADS_1
Untung saja dirinya merespon sangat cepat, jadi pisau di tangan Kristin tidak sempat mengenainya karena dengan sigap Yara menendang tangan Kristin dan membuat pisau itu terpental.
" Beraninya kau.!!" Teriak Kristin.
Mendengar keributan, anak buah Yara yang berjaga didepan pintu langsung masuk kedalam dan mengepung Kristin.
" Nona tidak apa apa.?" Tanya Ralf.
" Tidak apa apa, ikat dia dan jangan sampai lepas. Jauhkan semua benda tajam dari sekelilingnya." Ucap Yara.
" Baik nona." Sahut Ralf.
Yara terkejut, jika bukan karena ia peka dengan keadaan sekitar, kemungkinan saat ini ia tengah meregang nyawa. Namun satu yang membuat Yara bingung. Bagaimana Kristin tiba tiba bisa langsung sadar seperti itu, bahkan saat dirinya masih dibawah pengaruh obat.
" Lepaskan.!!! Brengs*k kau Yara.!! Apa yang kau lakukan padaku.!! " Teriak Kristin mengamuk, namun percuma saja ia mengamuk. Saat ini dirinya tengah di cekal 4 orang pria berbadan besar.
" Istirahatlah dengan tenang nyonya Evron, masih banyak yang hsrus kau ceritakan nanti." Ucap Yara, kemudian pergi dari sana.
Yara masuk kedalam kamarnya, ia membuka ponselnya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Ryu. Akhirnya Yara pun memanggil kembali Ryuchie.
" Adikku.. Akhirnya kamu menghubungi kakak, kamu baik baik saja kan.? " Ucap Ryuchie setelah langgilan video itu tersambung.
" Aku baik kak.. Astaga.. Kenapa kakak tidak pakai baju.? Apakah aku mengganggu kakak.?" Ucap Yara yang kaget melihat kakaknya bertelanjang dada.
" Mengganggu apa? Kamu jangan berpikiran macam macam oke. Kakak mu ini bukan pria seperti itu." Ucap Ryu.
" Hehe.. lalu kenapa kakak bertelanjang dada? Aurora kakak kemana mana." Ucap Yara.
" Aurora.?? " Sahut Ryu bingung.
" Iya, itu aurora kakak keman mana." Ucap Yara lagi.
Ryu semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Yara, ia justru melihat ke sekelilingnya dan mencari aurora yang dimaksudkan Yara. Melihat sang kakak kebingungan, Yara kemudian tertawa terbahak bahak.
" Apa ada yang lucu huh.?" Tanya Ryu.
" Kakak yang lucu, aurora yang aku maksud adalah tubuh kakak." Ucap Yara.
" Aurora.. Dasar gadis nakal. " Setelah menyadari arti aurora yang di maksudkan oleh Yara.
" Hehehehe.. " Tawa Yara yang terdengar.
" Kakak baru saja mengganti perban. Bagaimana? Apakah ada perkembangan dari Kristin Evron? Maafkan kakak karena tidak terlalu banyak membentumu, kakak mengalami kesulitan sendiri." Ucap Ryu.
" Astaga.. Apa yang kakak lakukan itu lebih dari banyak kak. Kristin masih ku kurung, dia baru saja bercerita tentang kutukan yang kakek John maksud saat itu." Ucap Yara.
" Lalu?? Apakah ada cara mematahkan kutukan itu?" Tanya Ryu.
" Dia bilang dengan segel itu. Jika nanti usia kita 19 dan salah satu diantara kita muncul tato naga, Maka kita harus bersembunyi kak." Ucap Yara.
" Kenapa.? Apakah sebegitu mencoloknya?" Tanya Ryu.
" Karena Kristin mengatakan bahwa setelah tato itu muncul dan dalam waktu satu tahun tato itu tidak menyala dibawah sinar bulan purnama, maka kutukan itu belum terpatahkan, dan kita akan mati." Ucap Yara.
Ryu menyadari keseriusan masalah itu. Dirinya juga terkejut, di zaman yang sudah maju dan semua serba canggih, masih ada yang namanya kutukan, dan itu dari zaman kuno. Namun ia tak bisa menganggap itu sepele, karena itu berkaitan dengan nyawa anatara dirinya dan adiknya.
" Maka kita harus terus memaksa Kristin bercerita tentang kutukan itu." Ucap Ryuchie.
" Kak, hari ini saat ia bercerita, aku menyadari ia sepertinya telah sadar ditengah tengah alam bawah sadarnya. Saat efek obat itu habis, dia langsung menyerangku. Mengapa bisa begitu?" Tanya Yara.
Ryu terkejut, bertahun tahun ia mengembangkan obat itu dan menggunakan nya kepada musuh agar mau bercerita, tidak pernah ada kejadian seperti itu.
" Kemungkinan dia terlalu kuat dan mendominasi. Seperti ada sesuatu yang dia ingin sembunyikan dari siapapun." Ucap Ryu.
" Kondisi seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya, kamu harus berhati hati." Ucap Ryu lagi.
" Baiklah.." Ucap Yara
" Sayang, kita sudahi dulu obrolan kita. Kakak harus mengurus sesuatu dengan Sandy." Ucap Ryu.
" Baiklah, jaga diri kakak baik baik sampai kita bertemu lagi." Ucap Yara.
Ryu tersenyum lebar, lalu melambaikan tangan nya di layar, kemudian panggilan itu pun berakhir.
" Kakak.. Ayah.. Ibu.. Semoga kita bisa kembali bersama dan menjadi keluarga normal seperti yang lainnya." Ucap Yara.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...