
Vaye berjalan keluar dari club itu dan langsung memasuki taksi. Tujuan nya saat ini adalah dia ingin segera pulang, karena ia tidak tahan dengan bau asap rokok yang melekat di tubuhnya.
Club itu rupanya berada tak jauh dari apartemen nya, sehingga hanya membutuhkan waktu 10 menit saja menggunakan taksi. Vaye turun dari taksi dan masuk ke gedung apartemen.
Saat ia menunggu lift dan pintu lift terbuka, ada sosok wanita yang bernama Tamara berada di dalam lift itu. Ia menyeka air matanya, namun Vaye tidak menyapanya karena Tamara juga tidak melihat Vaye dan langsung berjalan keluar dari lift.
" Aku dari apartemennya, dan dia mengamuk mengusirku. Anak itu memang kepala batu, entah harus dengan cara apa bisa membuatnya takluk padaku." Ujar Tamara sambil berjalan keluar.
Vaye mendengar itu, dan dia tahu siapa yang Tamara maksud, sudah pasti itu adalah Nicholas.
' Apakah Nicholas baik - baik saja?' Batin Vaye.
Vaye pergi ke meja resepsionis dan meminta untuk di bukakan akses tombol menuju ke lantai dimana Nicholas tinggal. Vaye pun menaiki lift itu dan menuju lantai 32.
Vaye berdiri di depan pintu unit apartemen Nicholas, dan benar.. terdengar suara barang pecah. Vaye mengetuk pintu itu dengan panik, ia takut Nicholas menyakiti dieinya sendiri atau akan memikirkan untuk mengakhiri dirinya sendiri seperti dulu.
" Nicholas, ini aku!" Teriak Vaye.
Terdengar lemparan barang di dalam berhenti. Vaye pun kembali mengetuk pintu itu lagi dan terus memanggil nama Nicholas.
" Pergilah, Vaye.. Maaf aku sedang tidak ingin menemui siapapun. ." Ujar Nicholas.
" Kamu baik - baik saja? Bisa kamu buka pintuny." Ujar Vaye.
" Pergilah Vaye, aku baik baik saja.. " Ujar Nicholas.
Nicholas duduk bersandar di balik pintu yang Vaye ketuk saat ini, ia menahan isakan tangisnya agar tidak di dengar Vaye. Tangannya bahkan sudah berdarah darah saat ini, dan penampilan Nicholas sangat kacau.
" Nicholas.. kita teman bukan.." Ujar Vaye.
Nicholas menjadi semakin terisak tanpa suara, Vaye bahkan ikut meneteskan air mata karena ia merasakan pintu itu bergetar. Bisa di pastikan bahwa Nicholas saat ini sedang sangat hancur.
" Baiklah, tolong jangan sakiti dirimu.. Aku pergi." Ujar Vaye.
Vaye berbalik hendak pergi, namun tiba tiba pintu terbuka dan Nicholas memeluk Vaye dari belakang dan menelungkuplan wajahnya di pundak Vaye. Cukup lama Nicholas memeluk Vaye dengan posisi itu, hingga akhirnya Vaye berbalik dan memeluk Nicholas.
" Kamu tidak sendirian, ada aku.. temanmu." Ujar Vaye.
Setelah Nicholas tenang dari tangisnya, mereka akhirnya masuk kedalam unit apartemen Nicholas. Mereka kini duduk di sofa di dalam unit apartemen itu.
Apartmen itu terlihat begitu sangat berantakan. Semua benda berserakan di lantai, dan banyak serpihan kaca disana. Vaye melihat tangan Nichoalas yang berdarah, lalu menggeleng.
__ADS_1
" Lagi lagi kamu menyakiti dirimu." Ujar Vaye, sambil membersihkan darah di tangan Nicholas.
" Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku tadi." Ujar Nicholas.
" Bagaimana kamu akan tidur nanti? Apartemenmu begini berantakan." Ujar Vaye.
" Tidak apa - apa, aku sudah terbiasa tidur dengan semua kekacauan ini. Kenapa kamu sudah pulang? Apakah pertemuan itu berjalan lancar?" Tanya Nicholas.
Vaye terhenti, jika mengingat hal yang dia alami tadi, ia menjadi begitu emosi. Semua orang memandang buruk Nicholas, padahal Nicholas sendiri hanya anak yang tersiksa karena traumanya.
" Sukses, hanya mengucapkan semangat untuk pertandingan besok." Ujar Vaye berbohong.
" Cih, aku tebak pasti mereka semua kutu buku sepertimu." Ujar Nicholas.
' Mereka bukan kutu buku, tapi kutu ranjang.' Batin Vaye sedikit kesal, mengingat ke vulgaran para teman kelas lain tadi.
" Sok tahu.." Ujar Vaye, sambil memperban tangan Nicholas.
Setelah selesai, Vaye melihat keseluruh ruangan itu yang kini tampak begitu.. Hancur. Tidak ada satupun benda yang selamat dari amukan Nicholas, sudah bisa di pastikan kamar Nicholas pun sama.
" Ayo ikut denganku." Ujar Vaye.
" Kemana?" Tanya Nicholas bingung.
Nicholas terkekeh, sungguh.. Vaye adalah mood booster nya. Padahal tadi dia sangat tenggelam dalam kesedihannya, tapi setelah Vaye datang.. dia lupa dengan semua itu.
Nicholas bangun dan menjatuhkan dagunya di pundak Vaye. Nicholas baru sadar, hoddie yang Vaye kenakan sedikit berbau asap rokok.
' Kemana si bren*sek itu membawa Vaye berkumpul tadi? Mengapa baju Vaye berbau asap rokok.' Batin Nicholas.
" Cepat jalan, jangan manja.." Ucap Vaye.
" Ya.. ya.. bawel." Ujar Nicholas.
Akhirnya Vaye dan Nicholas pun pergi dari unit apartemen Nicholas. Vaye membawa Nicholas ke unit apartemennya. Saat Nicholas masuk kedalam unit apartemen Vaye, ia merasa seperti masuk rumah yang hangat.
Itu adalah pertama kalinya Nicholas masuk kedalam apartmem Vaye. Nicholas melihat semua benda tersusun dan tertata rapi, bahkan banyak sekali buku buku yang berderet di rak lemari gantung.
" Jangan kaget dengan buku buku itu, aku suka membaca. Kemari biar aku tunjukan kamar untuk kau tidur. " Ujar Vaye.
Vaye membuka satu pintu kamar tamu, dan mempersilahkan Nicholas masuk. Pemandangan yang terlihat jauh di luar ekspetasi. Nicholas pikir mungkin kamar itu akan berwarna girly karena Vaye adalah anak gadis, tapi rupanya salah.
__ADS_1
Kamar itu justru berwarna abu abu tua dikombinasi putih. Sama sekali tidak menunjukan sisi kamar anak perempuan.
" Tidurlah di sini sementara, besok baru kamu kembali ke apartmen mu." Ujar Vaye.
" Ini masih terlalu awal untuk tidur, Vay. Kita bahkan belum makan malam." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Aku tahu, aku hanya memberi tahu ini kamarmu." Ujar Vaye.
" Ya sudah, aku pergi membersihkan diri dulu. Jika kamu bosan, kamu bisa menonton tv atau membaca buku." Ujar Vaye, Nicholas mengangguk dan vaye menghilang kedalam kamarnya.
" Benar benar mencerminkan seorang kutu buku. Bahkan bukunya sangat banyak. " Gumam Nicholas saat melihat lihat ruangan apartemen Vaye.
Setelah 20 menit an, Vaye keluar dengan baju rumahnya yang bergambar kartun Stitch. Nicholas sampai menahan senyumnya, Vaye terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan baju itu, apalagi kacamata tebal Vaye yang menambah kesan msnis.
" Kenapa kamu senyum senyum?" Tanya Vaye heran.
" Tidak ada.." Ujar Nicholas.
Vaye mengikat asal rambutnya keatas, dan membuka kulkas. Dia tidak berniat pergi kemanapun karena ia sudah sangat lelah.
" Kamu mau masak?" Tanya Nicholas.
" Hm.. Aku malas kemanapun. Apa kau suka pasta?" Tanya Vaye.
" Suka.." Ujar Nicholas.
" Oke, silahkan menunggu di sofa, aku akan berperang dengan bahan makanan." Ujar Vaye sampil terkekeh.
Nicholas mengacungkan jempolnya dan pergi duduk di sofa. Vaye pun mulai dengan semua bahan makanannya, dia tidak ahli memasak tapi untuk membuat pasta, dia lumayan ahli, karena pasta adalah makanan favoritnya.
Sesekali Nicholas melirik kearah Vaye yang tampak tidak kesulitan sedikitpun di dapur, Nicho tersenyum.. Dulu saat ia kecil, ibunya pun begitu. Dia hanya akan menonton tv, dan ibunya yang memasak.
' Indahnya...' Batin Nucholas.
Tak lama, Vaye selesai dengan dua piring pastanya dan memanggil Nicholas untuk makan.
" Sudah selesai, kemarilah makan." Ujar Vaye.
" Hmmm.. harum sekali." Ujar Nicholas.
Mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan pasta yang Vaye buat. Rasanya Nicholas akan menjadikan pasta Vaye adalah makanan favorit nya setelah ini. Pasta itu begitu enak, dan lain dari yang lain.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...