Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 173. SEASON 2. Akhirnya mendapat nilai tinggi.


__ADS_3

Timothy menghampiri Vaye ketika Vaye sudah menghapus air matanya. Ia menepuk pundak Vaye dan Vaye pun tersenyum kearah Timothy.


" Kau sedang apa? Aku pikir kau mau bunuh diri tadi." Ujar Timothy.


" Bunuh diri?? Bisa bisanya beranggapan begitu." Ujar Vaye terkejut, Dan Timothy terkekeh mendengarnya.


" Nah, minum ini.. Supaya hatimu senang." Ujar Timothy, sambil menyodorkan sebotol yogurt rasa Sirsak.


" Tidak ada yang sedang bersusah hati, tapi terimakasih." Ujar Vaye.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju ke parkiran, Vaye melihat Nicholas yang sedang memasang helm di kepalanya dan Vaye ingin menghampirinya. Tapi tangan nya di cekal oleh Timothy.


" Hati - hati banyak mobil jemputan." Ujar Timothy.


Memang benar banyak mobil yang sedang berlalu lalang menjemput siswa pulang sekolah, tapi alasan sebenarnya Timothy mencekal tangan Vaye adalah, ia tidak ingin Vaye pergi darinya dan menghampiri Nicholas.


" Aku bisa menyeberang dengan hati hati." Ujar Vaye.


Tapi saat Vaye berbalik, Nicholas sudah pergi dari sana. Vaye pun menjadi sendu kembali.


" Aku mau pulang, bye Timothy." Ujar Vaye dan akhirnya menyeberang lalu langsung masuk kedalam mobilnya.


' Begitu sulit mengalihkan perhatianmu, Vaye.. ' Batin Timothy.


Vaye mengemudikan mobilnya, dan sampai di apartemennya. Ia menemui pihak resepsionis untuk meminta bantuan akses naik ke lantai 32, dimana unit Nicholas berada. Karena setiap penghuni unit di gedung itu hanya memiliki akses ke lantai unit mereka saja.


Dan akhirnya Vaye berhasil naik dan sampai di depan pintu unit apartemen Nicholas. Dengan ragu ragu dia menekan bel unit Nicholas.


" Nicholas, kau di dalam? " Ucap Vaye.


Tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Vaye akhirnya hanya bisa bersandar di pintu.


" Aku tidak bermaksud membuatmu marah, maaf aku sudah membuatmu tersinggung." Ujar Vaye pelan.


" Aku merindukan kebersamaan kita. " Gumam Vaye lagi.


Rupanya Nicholas berdiri di depan pintu dan melihat Vaye dari cctv pintunya. Ia tersenyum melihat Vaye yang seperti frustasi mencari dirinya, rasanya ia juga ingin menemui Vaye, tapi ia masih kukuh pada pendiriannya.


' Sebentar lagi, Vaye.. Kita akan kembali bersama sama lagi sebagai dua sahabat. Dan aku tidak akan membuatmu malu memiliki teman seperti diriku.' Batin Nicholas.


Baik Vaye dan Nicholas keduanya berdiri sangat lama di depan pintu, mereka saling berhadapan tapi terhalang pintu.


' Pergilah Vaye.. Jangan siksa dirimu dengan menungguku di luar.' Batin Nicholas.

__ADS_1


Nicholas khawatir karena sudah sekitar 20 menit Vaye berdiri disana. Nicholas sampai hampir membuka pintu karena tidak tega dengan Vaye. Sampai akhirnya Vaye menghela nafas dan berbalik pergi dari sana.


' Sebentar lagi, Vaye.. Aku akan buktikan, bahwa aku bisa naik peringkat. ' Batin Nicholas.


____________________________________


Hingga akhirnya, ujian yang di tunggu tunggu pun tiba. Semua siswa dan siswi begitu tidak bersemangat masuk sekolah, rasanya mereka ingin bersembunyi saja dari muka bumi. Ujian sekolah membuat mereka pusing.


Tapi lain halnya dengan Nicholas, dia begitu antusias mengikuti ujian itu. Ia sengaja sama sekali tidak melirik kearah Vaye, agar hatinya tidak goyah.


Timothy pun memandang aneh pada Nicholas, tidak biasanya Nicholas begitu semangat mengikuti pelajaran apalagi ujian.


Ujian pun berlangsung, dan Nicholas mengerjakannya dengan begitu antusias. Vaye berada di meja yang jauh dari Nicholas, karena sistem tempat duduk di kelas itu kini di acak. Hingga akhinya, Ujian hari itu pun selesai.


" Anak anak, saya akan bagikan kertas nilai ujian bahasa inggris dan Math kalian. Harap kalian duduk dengan tertib." Ujar guru pengawas.


" Saya akan panggil sesuai nomor absen, dan saya akan sebutkan nilainya. Untuk yang mendapat nilai kurang bagus, bapak harap kalian lebih giat lagi belajar. Tidak perlu berkecil hati, hanya perlu berusaha lagi, dan lagi." Ujar guru pengawas, lagi.


Hingga akhirnya guru pengawas itu memanggil satu persatu nama murid, Untuk Timothy, memiliki nilai tinggi bukan hal yang mengejutkan, dia adalah murid yang rajin dan cerdas. Hingga tiba tiba, kelas di kejutkan saat guru memanggil nama Nicholas.


" Nicholas Levi.. Selamat kamu mendapat 8,9 untuk bahasa inggris dan 8,3 untuk Math." Ujar guru pengawas.


Seluruh ruangan seketika terkejut dengan apa yang di katakan oleh guru pengawas. Dan mereka menatap Nicholas dengan tidak percaya.


Bahkan Vaye menatap kearah Nicholas dengan tidak menyangka. Rupanya Nicholas sungguh membuktikan kata katanya, Namun Nicholas yang di tatap hanya tersenyum dan memejamkan matanya.


' Akhirnya...' Batin Nicholas.


Hingga kelaspun akhirnya di bubarkan. Nicholas pergi lebih dulu, dan meninggalkan Vaye, semua orang di kelas sebenarnya bertanya tanya, apa yang terjadi sebenarnya dengan Vaye dan Nicholas. Mereka tidak lagi terlihat bersama seperti biasanya.


" Vaye, apakah kamu ada acara setelah ini?" Tanya Timothy.


" Mm.. Tidak, aku ingin pulang dan beristirahat." Ujar Vaye.


" Begitu?? Apakah kamu mau ikut nonton denganku? Aku sudah beli dua tiket. " Ujar Timothy.


Vaye menjadi dilema, ia benar benar ingin pulang dan beristirahat saja. Tapi Timothy sudah membeli tiketnya, akhirnya Vaye mengangguk.


" Aku jemput kamu di apartemenmu nanti malam." Ujar Timothy.


" Kita ketemu saja di tempat, dimana memangnya?" Tanya Vaye.


" Di mall di bawah apartemenmu." Ujar Timothy.

__ADS_1


" Oke, kita ketemu disana." Ujar Vaye, lalu pergi.


Timothy tersenyum senang, akhirnya setelah sejak kemarin ia mengumpulkan keberaniannya mengajak Vaye pergi, kini bisa tersampaikan. Jika kalian bertanya kemana Henry, dia sedang di rawat di rumah sakit.. Timothy memberinya pelajaran karena Henry kembali mengganggu Vaye.


Vaye berjalan menuju ke parkiran dengan wajah tidak bersemangat, tiba tiba langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang duduk di atas kap mobilnya dengan senyum lebar.


Vaye sampai mengucek matanya untuk memastikan apakah itu halusinasi atau bukan. Rupanya bukan.. Yang duduk di kap mobilnya saat ini adalah Nicholas. Nicholas dengan wajah tengil dan senyum lebarnya


" Nicholas.." Gumam Vaye.


Nicholas turun dari mobil Vaye dan menghampiri Vaye yang mematung di tempat.


" Apakah aku sudah layak menjadi temanmu??" Ujar Nicholas.


Bukannya di jawab, bibir Vaye justru bergetar dan nafasnya memburu. Sebutir air mata lolos melewati pipinya.


" Kok nangis?? Vaye, hey.. " Ujar Nicholas panik.


Vaye langsung berhambur memeluk Nicholas, Nicholas yang tiba tiba di peluk pun mematung terkejut. Jantungnya saat ini berdegup sangat kencang karena Vaye memeluknya sangat kencang.


Perlahan tapi pasti, Nicholas tersenyum dan ia membalas pelukan Vaye lalu mengusap kepala Vaye. Entahlah, hatinya menjadi begitu lega sekaligus ada perasaan aneh yang muncul di hatinya.


" Jangan nangis, kamu tambah jelek nanti." Ujar Nicholas.


" Jahat.." Ujar Vaye.


" Apa! Siapa?" Tanya Nicholas.


" Kamu jahat! " Ujar Vaye, dan Nicholas terkekeh.


" Maafkah aku, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku layak berteman denganmu. Aku sudah giat belajar supaya aku bisa mendapat nilai bagus. Dan sekarang aku mendapatkannya." Ujar Nicholas.


Keduanya melerai pelukan mereka, Nicholas tersenyum melihat Vaye yang kacau. Ia menghapus air mata Vaye yang membasahi pipinya.


" Aduh.. Ingusmu nempel ke bajuku." Ujar Nicholas, dan itu berhasil membuat Vaye tertawa karena malu.


" Ish, kejam." Ujar Vaye dan Nicholas terbahak.


Nicholas menadahkan tangannya, ia meminta kuci mobil Vaye. Vaye pun memberikannya, dan mereka akhirnya pergi dari sekolah. Dari jauh, Timothy menyendu melihat Vaye yang memeluk Nicholas.


" Apakah mungkin dia akan ingat denganku, nanti?" Gumam Timothy.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2