Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. NELY SADAR.


__ADS_3

Nicholas membawa Nely duduk kembali di sofa, dan ia berjongkok dihadapan Nely, Nely memegang kedua pipi Nicholas dengan mata berkaca kaca.


" Mama.. " Gumam Nicholas.


" Kamu pasti tersiksa sendirian." Ujar Nely.


" Mama sudah sangat kejam padamu, mama minta maaf." Ujar Nely lagi, sambil terisak, dan Nicholas menggelengkan kepalanya.


" Tidak ma, Nicholas baik baik saja." Ujar Nicholas.


" Maafkan mama, sayang." Ucap Nely dan memeluk Nicholas erat.


Di ingatan Nely saat ini adalah saat dirinya menerima jasad Gama dengan tangan nya sendiri. Ia memeluk jasad Gama dengan isakan dan tangisan yang begitu pilu. Disana ia mengingat dirinya menampar, dan memukul Nicholas dengan tangan nya sendiri.


Rasa sesal di hati Nely begitu besarnya. Akhirnya Nely sadar, bahwa Gama telah meninggal. Dia mengingat dengan akal sadarnya, bahwa Gama telah pergi untuk selama lamanya. Dan yang saat ini berada di pelukannya adalah Nicholas, putra bungsunya.


" Mama, Nicho merindukan mama." Ucap Nicholas, dan ikut menangis.


Ibu dan anak itu saling menangis berpelukan, Nely melerai pelukan nya dan menatap Nicholas yang berpenampilan seperti Gama.


" Apakah kamu melalukan ini demi agar mama bahagia, nak? Kamu tidak perlu menjadi kakakmu, jadilah dirimu sendiri mulai sekarang." Ujar Nely, dan Nicholas menggangguk anggukan kepalanya.


' Ya Tuhan.. Berapa lama aku menyiksa anak malang ini.. Dia begitu baiknya, dan harus menderita karena diriku. Aku ibu yang buruk.' Batin Nely.


" Mama, sudah mengingat Nicholas?" Tanya Nicho, dan Nely mengangguk dengan kuat.


" Ingat, sayang.. Mama ingat kamu. Kamu Nicholas Levi, putra mama." Ujar Nely.


" Akhirnya.." Ujar Nicholas, menangis bahagia.


Di tempat lain..


Vaye masih setia berada di depan layar komputernya. Ia masih setia menunggu kabar dari sang kakak, Natahan. Sembari dirinya membaca keseluruhan tentang Timothy.


TING!!


Pesan masuk.


Vaye membuka email yang di kirimkan oleh Nathan, dia membaca dengan seksama dan penuh teliti untuk mencerna semua tulisan itu. Dan Vaye sangat terkejut ketika membaca sebuah pernyataan bahwa..


" Timothy yang menyuruh preman itu membunuh Gama, karena Timothy cemburu dengan Gama?? What the!! " Ucap Vaye terkejut


Dan ada satu yang menarik lagi, sebenarnya Timothy sangat menyayangi Nicholas, itulah sebabnya sejak dulu dirinya selalu bersama Nicholas.


" Mengerikan, benar benar psikopat." Gumam Vaye.

__ADS_1


Vaye menyimpan semua bukti bukti itu, untuk kemudian dia berikan pada Nicholas besok. Ia sampai begadang demi menemukan kebenaran yang sesungguhnya.


" Rasa cemburunya memicu dirinya untuk membunuh, lalu Bagas.. Apa yang dia cemburui dari Bagas? " Gumam Vaye merasa aneh sendiri.


Sampai akhirnya pagi pun tiba, Vaye yang hanya tidur sekitar 2 jam itu pun merasa sangat mengantuk saat ini. Tapi dia harus bangun, karena ada hal yang lebih penting.


Vaye turun dan di seberang jalan sudah ada Nicholas yang menunggunya sambil merentangkan kedua tangan nya, Vaye pun terkekeh melihatnya.


" Kamu terlihat sangat lelah? Apakah kamu begadang semalam?" Tanya Nicholas sambil memeluk Vaye, dan Vaye mengangguk.


" Lalu kenapa kamu tidak pakai seragam?" Tanya Nicholas.


Ya, Vaye tidak menggunakan seragam sekolahnya, saat ini Vaye menggunakan celana baggy dengan atasan kemeja kaos dan kemeja over size sebagai luaran nya.


" Mmm.. Bisakah kita bolos sekolah sekali ini saja, ada hal penting yang harus aku beri tahu padamu." Ujar Vaye.


Nicholas pun menjadi mulai serius, karena Vaye saat ini terlihat begitu meyakinkan. Akhirnya Nicholas mengangguk.


" Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Ujar Vaye, dan Nicholas mengangguk.


Akhirnya keduanya pun melajukan motornya dan pergi dari sana menuju ke rumah sakit dimana Bagas di rawat saat ini. Tak lama keduanya sampai di sana, dan langsung mencari Rayson.


" Vaye, kamu tidak sekolah?" Tanya Rayson.


Vaye menunjukan sebuah foto yang dirinya ambil tanpa disadari oleh ibu bagas menggunakan jam tangan canggihnya, lalu secara otomatis masuk kedalam galeri ponsel nya.


" Ini.. Bagas?" Tanya Rayson.


" Eh, paman mengenal Bagas?" Tanya Vaye.


" Dia hampir lewat ( meninggal ) semalam. Ada seseorang yang menyuntikan racun di selang yang yang menempel di tubuhnya. Beruntungnya tubuhnya berhasil melawan." Ujar Rayson.


Tentu saja Nicholas dan Vaye terkejut mendengarnya, siapa gerangan yang telah melakukan itu pada Bagas.


" Luka yang Bagas alami itu luka pukulan benda keras, dia tidak terbentur di lantai. Luka benturan dengan luka pukulan memiliki efek yang berbeda pada tubuh manusia." Ujar Rayson.


" Tapi entah benda apa yang di gunakan untuk memukul Bagas. " Ujar Rayson lagi.


" Tongkat bisbol, paman. Vaye menemukan cuplikan cctv yang tidak sengaja merekam seorang siswa membawa tongkat bisbol, dan itu terdapat darah di ujungnya." Ujar Vaye.


" Terimakasih paman, kami pergi dulu. Ini semua harus di luruskan." Ujar Vaye, dan Rayson mengangguk.


Vaye dan Nicholas pergi menuju ke ruangan rawat Bagas, disana terlihat Bagas yang masih tak sadarkan diri dan sang ibu yang tidak pernah melepaskan tangan nya dari Bagas.


" Permisi tante." Ujar Vaye.

__ADS_1


" Ya.." Ucap ibu Bagas, namun langsung curiga. Ia takut Bagas akan di racuni seperti kemarin.


" Tante, kami ingin membantu Bagas mendapatkan keadilan. Dia teman kami, dan kami sedang menyelidiki siapa yang telah menyakiti dirinya hingga seperti itu." Ujar Vaye.


" Apakah saya bisa percaya denganmu, kemarin juga datang seorang anak laki laki yang masuk keruangan ini saat saya pergi. Dia mengatakan dia juga teman Bagas, tapi setelah dia pergi Bagas kejang kejang." Ujar ibu Bagas.


" Abak laki laki? Apakah tante tahu siapa namanya?" Tanya Nicholas, dan ibu Bagas menggeleng.


" Dia hanya mengatakan bahwa dia teman kelas Bagas. Apa salah anak tante, sampai harus berkali kali coba di bunuh? Bagas anak yang baik." Ujar ibu Bagas dan kembali terisak.


Vaye pun langsung memeluk ibu Bagas, Jika sesutatu terjadi padanya juga Yara mungkin akan menangis seperti ibunya Bagas.


" Tante bisa percaya pada kami, kami sungguh teman Bagas. Beritahu kami, seperti apa kira kira rupa anak laki laki itu? " Ujar Vaye.


Ibu Bagas yang sesenggukan itu langsung mengelap air mata nya lalu menatap Vaye dan Nicholas.


" Dia setinggi dia." Ujar ibu Bagas, sambil menatap Nicholas.


" Kulitnya putih dan penampilannya rapi, wajah nya tampan rambutnya di belah dua layaknya penyanyi penyanyi muda yang berjoget di tv ( boy band )." Ucap ibu Bagas.


' Timothy.. ' Batin Vaye.


Vaye mengeluarkan ponsel nya, dan mencari daftar nama siswa dan mencari Timothy. Setelah mendapatkan nya, dia menunjukkan nya pada ibu Bagas.


" Apakah dia yang kemarin datang kemari, tante?" Tanya Vaye.


" Ah! ya benar!! dia yang kemarin datang kemari, benar itu dia. " Ujar ibu Bagas sambil menatap penuh benci kepada Timothy.


" Dia pasti yang menyebabkan Bagas seperti ini, kan?? Dia yang hampir membunuh Bagas." Ucap ibu Bagas lagi.


" Tante bisakah tante bekerja sama dengan kami, kami akan memasang cctv di ruangan ini. Jika dia tahu Bagas masih hidup, dia pasti akan kembali kemari dan kembali mencoba membunuh Bagas lagi. Saat dia datang nanti, tante tolong tahan amarah Tante supaya dia tidak curiga bahwa dirinya sudah ketahuan." Ujar Vaye.


" Apakah tante akan bisa melakukannya?" Ujar ibu Bagas.


" Demi Bagas tante.. " Ujar vaye, dan ibu Bagas pun mengangguk.


" Nicho, Ayo kita persiapkan semuanya. " Ujar Vaye, dan Nicholas pun mengangguk.


Keduanya pun keluar dari ruangan Bagas, Vaye tidak menyangka bahwa Timothy akan melakukan hal sedemikian ekstrimnya, dia tidak melepaskan Bagas sama sekali bahkan setelah Bagas koma. Padahal niat Vaye datang kesana adalah untuk memberi tahu Nicholas bahwa Timothy adalah pembunuh Gama, kakaknya.


" Jadi kita akan melakukan apa sekarang?" Tanya Nicholas, ketika keduanya sampai di parkiran.


" Membeli cctv dan memasang nya di kamar rawat Bagas. Tapi sebelum itu aku ingin menunjukan sesuatu kepadamu, ayo ikut denganku."  Ucap Vaye.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2