
Vaye, Nicholas, Ethan dan Yara sudah sampai di kediaman lama Ethan, atau yang lebih sering di sebut markas BLOOD. Untuk beberapa kalinya Nicholas datang kesana dan baru kali ini dia terkejut.
" Dokter Rayson, dokter juga datang?" Tanya Nicholas pada Rayson.
Ya, Rayson, ada disana. Nicholas tahu bahwa Rayson adalah salah satu anggota Blood, tapi dia tidak menyangka akan ada hari dimana ia melihat Rayson tanpa jubah putihnya dan berada di markas.
" Ya, ini adalah hari bersejarah kami. Hari ini hari di dirikan nya BLOOD, jadi kami semua berkumpul." Ujar Rayson.
" Kami??" Tanya Nicholas bingung.
" Paman Sean, paman Bara." Ujar Vaye dan langsung berhambur kepelukan dua laki laki itu.
Sean dan Bara terkekeh karena ulah Vaye itu, dulu saat Vaye kecil dan Sean serta Bara belum memilih jalan hidup mereka, Vaye selalu bermain di markas dengan mereka berdua juga Jilian.
" Uluh.. Sudah besar masih saja senang berlarian." Ujar Sean.
" Sudah besar bukan berarti tidak boleh berlari, kan? Jika Vaye masih kecil mungkin Vaye akan lompat ke gendongan paman seperti dulu." Ujar Vaye, dan semua orang terkekeh.
" Vaye.. Jangan begitu, kamu sudah jadi anak gadis sekarang. " Ujar Yara.
" Hehe.." Hanya itu yang Vaye lakukan, nyengir.
Nicholas tentu terkejut, Sean adalah pemilik lapangan tembak yang dulu pernah menjadi tempat bertandingnya dengan Vaye.
" Jadi paman juga anggota BLOOD??" Tanya Nicholas pada Sean.
" Aku bartanya tanya, mengapa kau memanggilku paman sejak pertama kita bertemu, nak." Ujar Sean.
" Eh.. Itu karena Vaye memanggil paman dengan sebutan paman jadi aku mengikutinya." Ujar Nicholas, sambil tersenyum tidak enak.
" Lalu dimana pamanku?" Tanya Nicholas, dan kini Sean dan Bara yang bingung.
" Paman disini." Ujar Jilian yang keluar dari ruangan lain.
" Apa apa an ini, Sejak kapan kau punya keponakan?" Ujar Bara.
" Sejak dulu, hanya terpisah. Dia Nicholas, putra Nely." Ujar Jilian sambil terkekeh.
" Ha!! Dia putra adik beda ibumu? " Ujar Sean.
" Hmm.. " Sahut Jilian singkat.
__ADS_1
" Bukankah dunia begitu sempit? " Ujar Sean.
Semua orang itu berkumpul dalam satu ruangan, bahkan di luar kediaman itu juga sangat ramai karena seluruh anggota BLOOD yang berada di tanah air datang berkumpul di markas mereka.
" Paman? Paman sudah tua apakah tidak mau menikah?" Tanya Vaye pada Sean dan Sean pun tersedak minuman nya.
"UHUK!! UHUK!! " Sean terbatuk sementara yang lain tertawa.
" Astaga, nak.. senang sekali membuli paman." Ujar Sean.
" Hanya bingung paman, paman kan sudah tua.. Apa tidak mau punya pacar? Atau istri? Paman seringnya berganti ganti pasangan. Penyakit kelamin sangat berbahaya, lho paman." Ujar Vaye dan semua orang kembali terbahak.
Siapa yang tidak tahu Sean Theron, seorang Casanova legendaris yang sejak dulu sampai sekarang Sean sering berganti ganti pasangan.
" Than, putrimu ini benar benar kejam." Ujar Sean mengadu pada Ethan.
" Masih mending hanya aku, lebih kejam mana aku dengan kak Nathan?" Ujar Vaye dan Sean garuk garuk kepala mendengarnya.
" Ya.. Ya.. Mending Vaye saja." Ujar Sean.
Kembar tiga itu selalu membuat kepala Sean pusing sejak kecil, terutama Nathanael yang selalu datang dengan segudang keingin tahuannya tentang senjata dan hal hal lain tentang mafia. Jika Edmun masih di kategorikan mending, karena dulu saat kecil Edmund adalah pria kecil yang paling dingin melebihi Ethan.
" Wah, kau mau bagi bagi musibah dengan kami? " Ujar Bara, dan Nicholas terkekeh mendengarnya.
" Sudah sudah.. Paman pamanmu yang belum menikah itu sudah menentukan jalan mereka sendiri, nak. Doakan saja agar mereka mendapat prncerahan dan menemukan jodoh mereka seperti paman Rayson." Ujar Yara.
" Itu benar, paman Rayson mu saja dulu mengatakan tidak mau menikah, tapi setelah mengenal cinta, akhirnya dia benar benar membuang semua kesombongannya itu. Kau tahu, paman Rayson dulunya paling anti dengan yang namanya wanita, menurutnya wanita hanya membuat dirinya lemah." Ujar Ethan.
" Kok jadi aku yang di pojokkan." Ujar Rayson angkat bicara, dan semua orang tertawa.
" Kalian saja yang masih muda yang pacaran, masa muda adalah masa yang manis.. Paman yakin diantara kalian sudah ada yang punya pacar." Ujar Bara, dan Vaye tersenyum.
" Memang kami pacaran, ya kan, Honey? " Ujar Vaye, dan tentu saja para pria jomblo akut itu ternganga mendengarnya.
" Woahh.. Rupanya kau mau menjadi besan dengan Ethan?? Tidak bagi bagi kabar baik kau! " Ujar Sean pada Jilian.
" Hahaha.. Bagaimana ya, Than mau tidak?? " Ujar Jilian pada Ethan.
" Terserah mereka saja yang menjalaninya. Nicholas, tolong jaga Vaye baik baik, ya?" Ujar Ethan.
Nicholas pun tersenyum, dirinya mendapat lampu hijau dari sang pemimpin Blodd yang sangat di takuti para kalangan konglomerat.
__ADS_1
" Pasti, Saya akan menjaga Vaye baik baik om. " Ujar Nicholas.
" Aduh, tidak terasa aku akan segera memiliki menantu." Ucap Yara terharu.
" Astaga mom, Vaye memang berpacaran dengan Nicholas, tapi kami belum memikirkan pernikahan. Kami masih jauh dari kata itu." Ujar Vaye.
" Sekolah saja belum tamat." Ujar Ujar Vaye lagi, dan semua orang terbahak.
Siapa yang menyangka mereka bisa menjadi orang tua, bahkan menyaksikan pertumbuhan generasi mereka yang baru. Bisa jadi mereka akan menyaksikan anak anak mereka menikah dan punya anak nantinya. Hanya saja pilihan yang diambil Ethan dan Rayson tidak berpengaruh untuk tiga jomblo akut yang melegenda yaitu Jilian, Bara, dan Sean.
Sementara itu di penjara.
Timothy yang sedang rebahan di lantai penjara itu tiba tiba terbangun. Ia berdiri di besi pembatas antara dirinya dengan seorang polisi yang berjaga disana.
" Permisi pak, apakah saya boleh minta tolong." Ujar Timothy.
Status Timothy memang belum resmi di tahan, tapi demi berjalannya penyelidikan, Timothy tetap berada di penjara.
" Ada apa?" Tanya polisi.
" Apakah saya boleh meminta satu buku dan satu pulpen? " Tanya Timothy.
Polisi itu menatap curiga pada Timothy, tapi kemudian polisi itu berpikir mungkin Timothy akan menuliskan sesuatu dalam buku itu tentang dirinya sendiri, jadi polisi itu pun mengangguk.
" Tunggu sebentar." Ujar polisi itu.
" Terimakasih." Ujar Timothy.
' Sebenarnya dia itu sungguhan psikopat atau hanya raga yang di rasuki roh jahat? Dia bisa bersikap brgitu baik, tapi dia berbuat kriminal.' Batin polisi itu heran.
" Nah, kau bisa menyimpan nya untukmu." Ujar polisi sambil memberikan satu buku dan satu pulpen.
" Terimakasih banyak, pak. Anda orang yang baik." Ujar Timothy sambil tersenyum.
"Lebih baik kau tidak melakukan hal hal aneh dan membahayakan dengan dua benda itu. Atau hukumanmu akan di tambah nantinya." Ujar polisi itu.
" Tidak akan.. " Ujar Timothy sambil tersenyum.
Timothy kembali duduk di lantai dan pandangan nya menerawang jauh sebelum akhirnya ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya. Timothy pun mulai menulis kata demi kata yang ingin ia tuliskan di dalam buku itu.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1