Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
SEASON 2. PERSIDANGAN YANG MENEGANGKAN.


__ADS_3

Ibu Bagas bangun dari duduknya dan menatap Tamara yang sedang menangis menatap Timothy, lalu berucap.


" Apa yang anda lakukan di rumah nyonya Prasetya, apakah anda menelantarkan anak anda sendiri?" Ujar Ibu Bagas.


Tamara hanya bisa menangis sambil menggeleng, ia memang benar benar tidak tahu menahu dengan apa yang dialami Timothy sejak dulu. Timothy adalah anak yang pandai menyembunyikan Emosinya sejak kecil.


" Jangan hina ibuku!!" Teriak Timothy.


Petugas langsung saja maju untuk berjaga jaga apalika Timothy hendak menyerang.


" Tolong jangan membuat keributan." Ujar hakim.


" Aku yang bersalah, jangan hakimi ibuku. Aku yang mencelakai Bagas, karena aku benci padanya. Yang mulia saya menyerahkan diri saya, untuk di hukum sebagai mana semestinya saya mendapatkan hukuman." Ujar Timothy pada ketua hakim.


" Tapi sebelum itu, tolong pertemukan saya dengan Nicholas." Ujar Timothy.


Para hakim pun berbisik bisik, entah apa yang mereka bicarakan . Tiba tiba Timothy bangun dari duduknya dan hendak mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan di balik bajunya, tapi petugas yang berjaga disana mengira Timothy hendak mengeluarkan senjata jadi menembaknya.


DOR!!


" Akh!!!! Timothy." Teriak Tamara dari belakang.


Petugas itu membekuk Timothy dan mrobek paksa baju Timothy untuk melihat, senjata apa yang di sembunyikan di balik baju Timothy.


" Ken..apa.. Anda menembak sa ya!" Ucap Timothy.


Petugas itu terkejut karena yang handak Timothy keluarkan adalah sebuah buku.


" Panggil ambulance, tersangka terluka." Ujar petugas satu ke yang lain nya.


Tamara hendak mendekat, namun tangan nya di cekal petugas polisi lain.


" Lepas! Saya ingin menemui anak saya." Ujar Tamara sambil meronta.


Timothy terlihat tidak berdaya, ia bernafas sangat pendek dan kesulitan. Polisi yang panik itu langsung saja menembak Timothy dan naas nya, itu mengenai tepat di arteri jantung Timothy.


Air mata Timothy meleleh karena merasakan begitu sakitnya dan sesak nafasnya. Ia banya bisa melihat sang ibu yang sedang meronta berusaha untuk melepaskan diri dari petugas.


" Ma.. ma..." Gumam Timothy.


" LEPAS PAK!! ANAK SAYA SEKARAT!!" Teriak Tamara.


" Timothy.. Timothy..dengar mama, jangan pejamkan matamu, nak.. Buat dirimu tetap sadar." Ujar Tamara.


' Sakit.. Maafkan Timothy mama, Timothy juga ingin menjadi orang baik.. Tapi mungkin Tuhan terlalu marah pada Timothy.' Batin Timothy dan perlahan keluar darah dari mulut Timothy.

__ADS_1


Ambulance datang dan Timothy langsung di bawa ke tandu menuju ambulance, sementara Timothy sendiri tidak sadarkan diri.


" Nafasnya semakin lemah." Ujar dokter yang sepertinya seorang asisten dokter.


" Mustahil untuk melakukan operasi disini, tolong lebih cepat! Pasien membutuhkan operasi." Ujar dokter lain nya pada supir ambulance.


Kurang dari lima menit, Ambulance sampai dan Timothy langsung di dorong sambil berlari menuju ruang operasi.


" Siapkan ruangan operasi, pasien tertembak tepat di dada kiri." Ujar Dokter, menghubungi pihak lain.


Di loby, Tamara masuk sambil terisak. Ia langsung bertanya pada pihak resepsionis dimana Timothy berada dan langsung pergi mencarinya ketika petugas mengatakan bahwa Timothy akan di operasi.


Sementara itu, di ruang operasi, dokter tengah panik karena saat baru saja hendak memulai operasi jantung Timothy berhenti berdetak. Dokter pun langsung melakukan apa yang dia bisa untuk mengembalikan denyut jantung Timothy.


Alam bawah sadar Timothy.


" Ugh.. Silaunya. " Gumam Timothy saat membuka mata.


" Tempat apa ini, kenapa sangat asing? Bukankah aku sedang ada di pengadilan? " Gumamnya lagi.


" Kau berada di alam kematian." Ujar seorang yang sama persis dengan Timothy.


Timothy sampai terkejut melihatnya, sosok itu sama persis benar benar foto kopian Timothy. Bahkan dia memiliki tahi lalat yang sama di hidungnya.


" Bagian dari dirimu." Ujar sosok itu, tentu Timothy mengernyit bingung.


" Bagaimana? Apakah kau sudah merasa baik baik saja? Bukankah kau tersiksa di sana. Aku sudah tidak lagi akan mengganggumu, karena kau juga tidak akan lagi kembali kesana." Ujar sosok itu.


" Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Ujar Timothy.


" Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Sosok itu.


Timothy juga merasa aneh, rasanya seperti dirinya tidak lagi menderita atau menahan beban di hatinya. Ia merasa bebas, seperti saat dulu dirinya belum mengalami sindrom.


" Aku.. Tenang." Ujar Timothy.


" Akulah rasa yang mengganjal dihatimu, Aku yang membuat dirimu selalu tersiksa sendirian. Sekarang aku sudah keluar dari tubuhmu, selamat Timothy." Ujar sosok itu.


" Jadi apakah aku sudah bebas??" Ujar Timothy, dan sosok itu mengangguk.


" Ya, kau bebas dari kejamnya dunia yang menghakimimu." Ujar sosok itu lalu pergi.


Timothy kembali terdiam, kini dia justru terpikirkan dengan orang orang yang di tinggalkan nya. Nicholas.. Nicholas sudah menemukan kebahagiaan nya. Ayah kandungnya, ayah kandungnya juga sudah bahagia dengan keluarga nya.


" Mama.." Gumamnya.

__ADS_1


Timothy terpikirkan dengan Tamara, Timothy yakin Tamara akan sendirian jika dia pergi. Timothy menjadi bimbang, jika dia pergi bagaimana dengan Tamara.


Tapi penderitaan nya akan kembali, jika dia kembali. Timothy juga ingin tenang dan bebas, ia lelah menahan segala gejolak di hatinya.


" Maaf, ma.. Kali ini saja Timothy menjadi egois." Ujar Timothy, lalu pergi menuju cahaya yang terang di hadapan nya.


Adegan pun beralih di dunia, saat ini dokter sudah kelelahan mencoba segala cara untuk mengembalikan denyut jantung Timothy, tapi Nihil..


" TTTUUUTTTT!!! "


Suara monitor yang tidak memperlihatkan sedikitpun tanda tanda jantung Timothy berdetak.


" Dia menolak sadar." Ujar dokter, sambil terengah engah.


" Anak muda yang malang." Ujar Dokter lain nya.


" Catat tanggal dan waktu kematian nya." Ujar Dokter, dan pergi dari sana.


Di luar ruangan Tamara melihat lampu yang sebelumnya merah kini menyala hijau, Tamara merasa heran karena itu terlalu cepat untuk waktu menjalankan sebuah operasi. Pintu pun terbuka dan keluar dokter yang sebelumnya menangani Timothy.


" Apakah anda keluarga pasien di dalam?" Tanya dokter.


" Ya, saya ibunya, dok. Dimana putra saya? Kenapa operasi berjalan sangat cepat. " Ujar Tamara.


" Maaf nyonya, putra anda tidak selamat." Ujar dokter dan Tamara langsung lunglai, dokter pun menahan tubuh Tamara supaya tidak jatuh ke lantai.


" Timothy..." Tangis Tamara pecah.


Tak lama setelah itu, tubuh Timothy di dorong keluar dari ruabg operasi. Wajahnya di tutup dengan kain putih dan Tamara langsung bangun meraih tubuh Timothy.


" Apa yang kalian lakukan! Timothy bisa sesak nafas!" Teriak Tamara.


" Nyonya, anak anda telah meninggal dunia." Ujar perawat.


" Tidak!! Timothy belum meninggal, dia belum meninggal, dia hanya tidur. Timothy, sayang.. Bangun ya, jangan membuat mereka mengatakan kamu meninggal, kamu dengar mama kan?? Bangun sayang." Ujar Tamara.


Tamara mengusap usap wajah Timothy yang sudah pucat. Tamara juga mangguncang pelan tubuh Timothy.


" Timothy sayang, kamu dengar mama sayang.. bangun, nak." Ujar Tamara lagi, lalu hilang kesadaran. Dokter pun membantu Tamara.


Petugas polisi yang menunggu disana pun mengabari pada pihak kantor pusat bahwa Timothy meninggal dunia.


" Sodara Timothy meninggal dunia sebelum sempat di operasi." Ujar petugas itu. Kemudian pergi dari sana.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2