
Vaye dan Nicholas tengah duduk di taman apartemen yang berada di lantai 15. Mereka berdua saat ini duduk di gazebo, setelah akhirnya Nicholas tenang dari tangisnya.
" Lagi lagi kamu melihat aku yang begini, aku merasa diriku menggelikan." Ujar Nicholas.
" Kenapa kamu bicara begitu, tidak perlu merasa begitu. Semua orang memiliki masalah mereka masing - masing." Ujar Vaye.
Nicholas mengangguk, kemudian pandangannya menerawang jauh.
" Wanita tadi adalah Tamara, ibu kandung Timothy." Ujar Nicholas, dan Vaye terkejut.
" Dia datang pada saat ibuku sedang terpukul karena kehilangan kakak ku. Dia membawa Timothy dan mengaku pada ibuku bahwa dirinya dan ayahku menjalin hubungan di belakang ibuku selama ini, dan Timothy adalah anak mereka. " Ucap Nicholas.
" Ibuku yang sedang begitu terpukul itu semakin menjadi terpuruk mendengar ayahku yang mengakui bahwa memang dirinya berselingkuh dengan perempuan itu. Hingga akhirnya menjadi gila." Ujar Nicholas lagi.
" Aku benci pada ayahku karena hal itu, juga dia tidak mau membawa ibuku berobat, seolah ia membiarkan saja ibuku gila dan mati. Kemudian ayahku membawa ibuku ke rumah sakit jiwa, dan sampai sekarang ibuku disana." Ujar Nicholas lagi.
" Apakah itu alasan kamu memusuhi Timothy?" Ujar Vaye.
" Ya.. Itu salah satunya. Dia bilang dia juga butuh kasih sayang seorang ayah, jadi dia datang bersama ibunya dan mengatakan pada ibuku bahwa mereka adalah anak dan istri simpanan ayahku." Ujar Nicholas.
Tiba tiba bibir Nicholas bergetas sekaan menahan kembali tangisnya, namun ia berusaha untuk agar tidak kembali menangis.
" Kamu tahu Vaye? Kakak ku meninggal karena dia." Ujar Nicholas, Dan Vaye lagi lagi terkejut.
" Setahun sebelum Timothy dan ibunya datang pada ibuku, aku dan Timothy adalah sahabat baik. Kami berteman sejak di bangku sekolah dasar, juga kakak ku yang berusia 5 tahun lebih tua dariku." Ujar Nicholas.
Nicholas menceritakan kisah pertemanan mereka di masa itu , sebelum akhirnya menjadi petaka yang membuat nyawa kakak nya melayang. Vaye benar benar tidak menyangka, ada alasan yang sangat besar mengapa Nicholas menjadi musuh Timothy pada akhirnya.
" Timothy bersinggungan dengan preman saat di jalan, tapi dia justru menelepon kakakku dan meminta bantuan padanya. Aku sudah mencegahnya datang, tapi kakak ku tetap datang. Preman itu memeras kakak ku, sementara Timothy melarikan diri." Ujar Nicholas.
" Aku dan kakak ku di kejar kejar preman hingga di gang gelap dan buntu, kakak ku menyuruh aku bersembunyi dan dia sendiri melawan para preman itu. Kakak ku hanya sendirian, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana akhirnya kakak ku di pukuli hingga meninggal oleh preman itu." Ucap Nicholas, dan sebutir air mata menetes.
" Bayangan tubuh kakak ku yang mengatakan padaku untuk tidak keluar dari persembunyianku, masih terngiang ngiang di kepalaku dan tidak pernah hilang. Seandainya.. seandainya saja aku keluar dan membantunya, mungkin dia masih hidup, atau paling tidak kita mati bersama. Tapi aku tidak melakukannya, aku pengecut." Ujar Nicholas.
Vaye ikut merasakan sedihnya Nicholas. Vaye memang tidak pernah mengalami hal hal seperti itu, karena hidupnya penuh dengan kasih sayang dan cinta dari keluarganya. Tapi mendengar Nicholas bercerita, ia ikut merasa sedih.
__ADS_1
" Timothy tidak mengakui kepada ibuku dan ayahku bahwa dia yang menyinggung preman itu, dan hanya diam saja sampai sekarang. Ibuku menganggap akulah yang telah membuat kakak ku meninggal." Ujar Nicholas.
" Setahun setelah kakakku meninggal, Timothy dan ibunya datang pada ibuku. Dan beginilah akhirnya." Ujar Nicholas.
Tidak terasa Nicholas bercerita begitu banyak pada Vaye. Nicholas merasa sedikit lega, karena selain dengan sang dokter yang biasa menanganinya, akhirnya ia punya keberanian bercerita pada orang lain.
Nicholas di hantui rasa penyesalan dan perasaan bersalah. Penyesalan karena saat kakak nya di keroyok ia tidak menolongnya dan justru bersembunyi. Dan itu menjadi ketakutan nya, dan traumanya sendiri.
Selama ini, dia ingin berusaha mengatakan itu pada orang tuanya, tapi pada akhirnya keluarga mereka bercerai berai. Ibunya gila dan ayahnya justru memilih menikahi ibu kandung Timothy, Nicholas menjadi tersiksa sendirian dengan perasaan nya.
" Terimakasih sudah mendengarkan aku bercerita, Vaye.. Kamu tahu, setiap minggunya aku menemui dokter untuk membuat aku menjadi lebih tenang, tapi sekarang aku menjadi tenang karena bercerita denganmu." Ujar Nicholas.
" Jika kamu merasa demikian, maka kamu boleh bercerita apa saja padaku. Kesedihanmu, kesenanganmu, semuanya. Aku akan mendengarkannya, aku akan menjadi pendengarmu." Ujar Vaye, dan Nicholas tersenyum.
Hingga hari mulai larut, dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke unit apartemen mereka. Nicholas masuk kedalam unit apartemen nya dan merebahkan dirinya di ranjang. Kata kata Vaye masih terngiang jelas di pikiran nya.
Nicholas memandangi sebotol obat yang biasanya dia minum saat ia sendirian, tapi kali ini ia meletakan kembali botol obat itu di samping tempat tidurnya, ia pun tertidur tanpa meminum obat.
Ke esokan harinya..
" Kamu sejak kapan ada disini?" Tanya Vaye.
" Mmm.. Mungkin dua puluh menit yang lalu." Ujar Nicholas.
" Gila.. Bisa bisanya kamu menunggu sangat lama disini." Ujar Vaye.
" Bagaimana lagi, aku tidak punya nomor ponselmu untuk mengabarimu." Ujar Nicholas.
Vaye juga baru sadar, benar.. Mereka belum memiliki nomor ponsel mereka masing masing. Kebersamaan mereka selama ini terjadi tanpa di sengaja.
" Aku berangkat denganmu, kemarikan kuncinya, biar aku yang menyetir." Ujar Nicholas.Vaye tersenyum dan melemparkan kunci mobilnya, lalu Nicholas pun masuk kedalam kursi kemudi.
" Kemarikan ponselmu." Ujar Nicholas, dan Vaye pun memberikan ponselnya.
Nicholas menekan beberapa angka di ponsel Vaye, kemudian di sambungkan ke ponselnya.
__ADS_1
" Nah, itu adalah nomorku." Ujar Nicholas, lalu melajukan mobil Vaye.
Sementara Vaye sendiri meranga melihat Nicholas memberi nama pada nomor ponselanya sendiri dengan sebutan Si tampan. Dan ia hanya bisa memutar bola matanya, lalu mengganti nama Nicholas itu menjadi Si bodoh.
" Terimakasih Vaye, karena semalam aku bercerita denganmu.. aku bisa tidur di malam hari." Ujar Nicholas.
" Memangnya kamu tidak pernah tidur di malam hari?" Tanya Vaye heran, dan Nicholas hanya menggeleng.
" Karena saat sendirian dan aku memejamkan mataku, wajah kakak ku akan muncul." Sahut Nicholas, dan vaye menatap penuh simpati pada Nicholas.
Hingga akhirnya mereka sampai di sekolah, dan semua orang tampak terkejut melihat Nicholas yang datang dengan Vaye. Mereka keluar dari mobil yang sama dan berjalan ke kelas bersama.
Timothy bahkan sampai ikut terdesak di kerumunan karena semua orang benar benar menatap tak percaya pada Nicholas yang tersenyum dan tertawa lepas dengan Vaye.
" Gila.. Vaye benar benar bisa mengubah Nicho si kejam dan tidak berperasaan itu menjadi tersenyum lepas." Ujar taman kelas mereka.
Timothy akhirnya pergi dari sana, dan setelah Timothy pergi seseorang baru menyadari bahwa mereka tadi berdesakan dengan Timothy dan tidak menyadarinya.
" Hari ini, pulang sekolah kita harus benar benar belajar." Ujar Vaye.
" Huft.. Ya.. ya.." Ujar Nicholas.
" Vaye, pulang sekolah guru meminta kita berdua berlatih menembak." Ujar Timothy yang baru masuk kelas , pada Vaye.
" Oke." Ujar Vaye singkat.
Nicholas hanya diam saja, kali ini ia tidak mau merusak mood baiknya yang di bangun bersama Vaye sepanjang perjalanan menuju sekolah. Timothy bahkan menatap Nicholas dengan keheranan.
Jika biasanya.. mungkin Nicholas akan menatapnya sinis atau bahkan langsung menyerangnya, tapi kini ia merasa bingung karena Nicholas seolah tidak mempedulikannya.
Pelajaran pun dimulai, dan seakan matahari terbit dari barat, semua orang menatap heran dan berbisik bisik tentang Nicholas. Nicholas tidak tidur di kelas, dan mendengarkan guru dengan seksama.
' Sekarang aku tahu mengapa dia selalu tidur di kelas. Rupanya karena dia takut dan tidak bisa tidur sendirian di tempat sepi, karena bayangan kakaknya. ' Batin Vaye.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1