
Hari berganti, saat ini Vaye sedang bersama Nicholas mencoba gaun dan stelan tuksedo mereka di temani oleh Nely dan Yara. Ya, kedua ibu itu mengantar anak mereka masing masing untuk mencoba pakaian mereka untuk pernikahan Nely dan abraham nanti.
" Astaga kak, aku sudah merasa seperti akan menyerahkan putriku pada Nicholas saja." Ujar Yara yang duduk di sebelah Nely.
Kedua ibu itu juga terlihat sangat akrab, karena Nely lebih tua beberapa tahun dari Yara, Yara pun memanggil Nely dengan sebutan kakak. Dan Yara melarang Nely memanggilnya nyonya Dominique, tetapi panggil dengan namanya saja.
Terlihat Vaye yang sangat cantik dengan gaun warna pink pastel nya. Tema pernikahan Nely dan Abraham nantinya adalah pink pastel, diambil dari warna kesukaan Nely.
" Apakah kelak kita bisa melihat mereka menikah? Mereka sangat manis bersama." Ujar Nely.
" Kita pasti melihat mereka bahagia kak, pasti." Ujar Yara.
Terlihat Nicholas juga sudah menggunakan stelan nya. Nicholas sangat tampan dengan stelan tuksedo yang juga senada dengan gaun Vaye, pink pastel.
" Aku sungguh sangat berterimakasih dengan Vaye.. Kamu tahu? Dia sangat - sangat penting di dalam hidup kami. Nicholas.. Menemukan cahaya hidupnya lagi berkat Vaye, sehingga Nicholas juga bisa membuatku sembuh." Ujar Nely.
" Itu takdir kak.." Ujar Yara.
" Kamu sangat berhasil mendidik anak anakmu, mereka tidak hanya jenius mereka juga sangat baik." Ujar Nely.
Dua wanita itu berbicara sembari menatap Vaye dan Nicholas yang sedang mencoba gaun dan stelan mereka.
" Mom, Ibu.. Kenapa Vaye merasa seperti Vaye yang akan menikah saja." Ujar Vaye sambil terkekeh.
" Benar, kamu sangat cantik. Apakah kamu saja yang menikah dengan Nicholas nanti." Ujar Nely.
" Eit! jangann... Vaye masih ingin mengejar pendidikan yang tinggi." Ujar Vaye.
" Ya, kamu benar sayang." Ujar Nely.
" Vaye, berdiri disana dengan Nicholas, mommy mau foto kalian." Ujar Yara.
" Astaga, mom.. Kami bukan anak kembar mommy." Ujar Vaye.
" Siapa yang bilang kalian anak kembar? Mommy mau memotret pasangan tercantik dan tertampan di tahun ini." Ujar Yara, dan semua orang terkekeh.
Namun pada akhirnya Vaye menurut untuk di foto oleh Yara. Dan ya, mereka sanagat serasi. Tubuh mereka tidak terlihat sama sekali bahwa mereka itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
" Sudah selesai, gaun ini pas di tubuh Vaye." Ujar Vaye.
" Bagus kalau begitu, jaga pola makanmu, jangan sampai gemuk atau gaun itu tidak akan muat. " Ujar Yara dan semua orang terkekeh.
Vaye memanyunkan bibirnya mendengar sang mommy berkata demikian.
" Mommy... " Rengek Vaye.
" Tidak apa apa gemuk, kamu tetap yang paling cantik dimataku." Ujar Nicholas.
Nely dan Yara hanya bisa saling menggelengkan kepala mereka melihat keromantisan kedua anaknya itu.
" Sudah, ya mesra mesraannya.. kasihan kami yang tidak membawa pasangan." Ujar Yara menyindir.
Vaye dan Nicholas akhirnya terkekeh. Setelah dari sana Vaye dan Nicholas pun pergi ke tempat lain, sementara Yara dan Nely pergi ke tempat yang berbeda juga.
Yara dan Nely kembali ke kediaman Nely karena Ethan dan Abraham sudah berada disana. Sementara Vaye dan Nicholas... Mereka menemui Mark dan Bagas.
__ADS_1
" Nah.." Ujar Nicholas memberikan undangan.
" Astaga!! Apa ini?" Ujar Bagas.
" Woah!!! Kalian mau menikah??! " Ujar Bagas terkejut sampai berdiri dari duduknya.
Mereka duduk di tempat ramai saat ini, jadi Bagas yang heboh itu mengundang perhatian orang orang yang berada disana.
Mark melihat undangan itu, dia juga menatap Vaye dengan Nicholas dengan tatapan terkejut.
" Kalian sungguh mau menikah? Bukankah masih terlalu muda untuk ke jenjang pernikahan?? Sekolah kalian bagaimana?" Ujar Mark.
" Baca yang benar, bodoh.." Ujar Nicholas.
" Sudah terlihat jelas dari huruf inisial yang tertera di sampulnya. Tapi kenapa N&A?? Bukan V??" Ujar Mark.
" Oh.. Kalian menyembunyikan identitas, ya?? Bagaimanapun menikah di bawah umur itu di larang. Kalian menggunakan identitas palsu?" Ujar Bagas.
" Astaga, kalian berdua! Baca yang benar.. Itu bukan undangan pernikahanku dengan Vaye." Ujar Nicholas saking kesalnya.
Mark dan Bagas membuka undangan itu dan membacanya dengan teliti.
" Wah... Rupanya ibumu mau menikah lagi?" Ujar Bagas.
" Akhirnya bibi menikah lagi, semoga bibi bisa bahagia dengan pernikahan nya yanhmg sekarang. Ibuku selalu merasa bersalah padanya." Ujar Mark.
" Datanglah bersama ayah dan ibumu nanti, ibuku pasti akan senang." Ujar Nicholas, dan Mark mengangguk.
" Aku pikir kalian yang mau menikah, sosial media ibumu sedang ramai di banjiri komentar karena foto prewedding kalian berdua." Ujar Mark.
Keduanya pun sigap mengeluarkan ponsel mereka dan mencari berita yang di maksud oleh Mark tadi. Dan ya.. Yara memosting foto Vaye dan Nicholas yang sebelumnya sedang mencoba gaun sebagai bridesmaid.
" Astaga, mommy.." Ujar Vaye.
Sementara itu, di kediaman Nely..
Yara sedang menatap foto foto hasil jepretan nya dengan senyum senyum. Ia pun membuat Ethan memgernyit bingung dan penasaran. Karena tidak biasanya Yara begitu senang saat melihat ponselnya.
' Apakah istriku kini melirik pria lain? Apakah ketampananku ini sungguh sudah pudar di mata Yara? ' Batin Ethan sedih.
" Ya ampun, sangat romantis.." Ujar Yara.
Ethan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Yara.
" Ayo pulang." Ujar Ethan.
" Eh, kenapa? Katanya mau menunggu Vaye dan Nicholas sampai mereka kembali." Ujar Yara bingung.
" Tidak jadi.. Abraham, maaf kami ada urusan mendadak." Ujar Ethan pada Abraham.
Siapa yang berani memanggil Abraham dengan namanya? Hanya Ethan seorang. Pasien lain atau orang lain yang bertemu dengan Abraham akan memanggilnya Dokter atau tuan.
" Ah, ya tuan Dominique, hati hati di jalan." Ujar Abraham.
Ethan langsung menggandeng tangan Yara yang kebingungan. Tapi Yara juga tidan melawan atau memberontak, dia hanya bingung dengan Ethan yang tiba tiba marah.
__ADS_1
BRAK!
Akhirnya keduanya masuk di dalam mobil.
" Sayang, ada apa? Apakah sesuatu sungguh telah terjadi? " Ujar Yara.
Wajah Ethan sangat muram saat ini, jika kalian melihat bagaimana anak kecil yang sedang merajuk, begitulah Ethan saat ini.
" Sayang.." Ujar Yara lagi, tapi Ethan hanya diam dan langsung melajukan mobilnya untuk kembali kekediaman nya.
Sepanjang perjalanan itu, Ethan hanya diam dengan wajah muramnya. Yara sendiri jadi bingung melihat suaminya yang tiba tiba merajuk. Hingga akhirnya. Mereka sampai di kediaman mereka, dan Ethan langsung turun dan membuka pintu mobilnya untuk Vaye.
Dan disinilah mereka berdua, di dalam kamar mereka. Tiba tiba saja Ethan menjatuhkan kepalanya di bahu Yara, dan Yara sendiri semakin kebingungan.
" Bisa kamu katakan sebenarnya ada apa? Kamu merajuk seperti anak kecil sejak daei kediaman Nely." Ujar Yara.
" Apakah aku sungguh sudah kehilangan ketampananku?" Ujar Ethan tiba tiba.
" Eh!? " Sahut Yara.
" Kamu sudah melirik pria lain, apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Ujar Ethan.
" Astaga, sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan, pria lain?? Aku tidak memiliki pria lain sayang." Ujar Yara.
" Tapi kamu sejak di kediaman Nely diam diam tersenyum menatap layar ponselmu dan berkata romantisnya. Siapa yang romantis?? " Ujar Ethan, dan Yara terkekeh.
" Astaga pria tua ini, masih saja cemburuan." Ujar Yara dan terkekeh.
Yara melepaskan pelukan Ethan dari tubuhnya dan menatap Ethan yang masih berwajah muram. Untungnya Ethan bukan tipe pria yang saat cemburu akan main tangan atau mengajak bertengkar.
" Aku sudah tua tuan Ethan Dominique, aku juga sudah memiliki tiga anak yang sangat menyayangiku, dan suami yang sangat sangat mencintaiku. Untuk apa aku mencari pria lain jika aku sudah bahagia memiliki mereka?" Ujar Yara.
" Aku hanya sedang melihat foto Vaye dan Nicholas, mereka sangat romantis bersama. " Ujar Yara.
" Eh??" Ethan mengernyit bingung.
Yara pun terbahak melihat wajah bingung Ethan. Akhirnya Yara mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan nya kepada Ethan.
" Nah.. Lihat?? Mereka sangat romantis, dan aku memosting nya di media sosialku. " Ujar Yara.
Akhirnya wajah muram Ethan berangsur hilang dan berganti menjadi senyum cerah, kekhawatiran nya itu tidak terjadi. Akhirnya dia memeluk Yara kembali.
" Beri aku kompensasi." Ujar Ethan.
" Eh, kompensasi untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun." Ujar Yara.
" Pokoknya harus, kompensasi karena kamu hampir membuat aku mati cemburu." Ujar Ethan, sambil menggendong Yara menuju ranjang.
" Kan kamu sendiri yang cemburuan, aku tidak melakukan kesalahan." Ujar Yara sambil tergelak.
" Sayang turunkan aku." Ujar Yara sambil tergelak.
" Nyonya Dominique, kamu tidak akan bisa lari dariku." Ujar Ethan sambil menurunkan Yara perlahan di ranjang.
Dan ya.. Akhirnya Yara hanya bisa pasrah saja dengan apa yang di lakukan suaminya yang tukang cemburu itu. Dan Ethan pun senang karena dia mendapatkan kompensasi dari Yara.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..