Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 47. Perang dingin.


__ADS_3

Merasa lelah tidur di kursi kerja, Ethan pun bangun dan pergi memasuki kamarnya lalu kembali tidur.


Ke esokan harinya.


Yara sudah duduk di meja makannya, ia kembali menggunakan pakaian yang kemarin ia pakai. Ia duduk seperti orang yang melamun, namun tangan nya mengaduk aduk kopi di tangan nya.


" Pagi, kau sudah rapi pagi pagi begini. " Ucap Caleb yang berjalan sedikit sempoyongan.


Namun Yara sama sekali tidak mendengar sapaan Caleb, ia terhanyut dalam lamunannya.


" Yara." Ucap Caleb setelah mengambil minuman hangat.


Namun Yara masih belum menyadari kehadiran Caleb. Caleb yang melihat Yara nampak serius dengan lamunan nya pun menepuk pundak Yara.


" Yara.!" Ucap Caleb sedikit keras.


" Ha.!! Astaga.!" Ucap Yara terkejut.


" Pagi pagi kau melamun apa.? Terus ini , kenapa kau sudah kembali berpenampilan seperti laki laki.? Kau mau pergi.?" Ucap Caleb beruntun.


" A.. hahahaha. Aku harus masuk kerja. Jadi sudah rapi. " Ucap Yara sembari tertawa canggung sendiri.


" Oh.. pagi pagi melamun. Aduh, kepalaku pusing sekali. Kau beri aku campuran minuman apa sih, alkoholnya tinggi sampai aku mabuk berat." Ucap Caleb sembari memijat kening nya.


" Hanya Tenjaku dan Wint di campur lemon dan air soda. Kau saja yang tidak kuat minum, payah. " Ucap Yara.


" Hey gadis kecil. Seharusnya kau itu belum boleh minum minuman keras, mengapa kau sudah mahir membuat minuman campuran.? Jangan katakan kepadaku kau sudah sering minum itu.?" Ucap Caleb.


" Aku tidak minum, aku hanya minum air soda. Justru kau dan Jackson yang tidak berhenti minum. Bir satu dus hampir kalian habiskan." Ucap Yara.


" Iya juga.. Aku mabuk pasti karena sebelumnya aku sudah minum bir dengan Jackson. Tapi Yara, kau bagaimana kau bisa membuat rasa yang enak itu.? Lain kali ajari kakakmu ini yah." Ucap Caleb dengan alis yang di naik turun kan.


" Cih, tadi masih memarahiku dibawah umur. Sekarang minta di ajari, tidak punya pendirian." Ucap Yara meledek.


" Hehehehe.. ya sudah, kamu mau di antar tidak.?" Ucap Caleb.


" Tidak usah, aku akan naik taksi saja." Ucap Yara sembari meminum kopinya.


" Baiklah.. sering sering datang kemari." Ucap Caleb lagi.


Yara memandangi Caleb dengan tajam, membuat Caleb yang sedang minum langsung tersedak.


" Uhuk.. Uhuk.. apa.? kenapa kau menatapku begitu. Buat orang takut saja." Ucap Caleb sembari mengelap mulutnya yang penuh air.


" Tidak ada.. Hanya saja, mengapa ada orang sepertimu ini. Sudah tua tapi tidak menikah , malah duduk di meja makan dengan seorang gadis kecil, minta di ajari buat minuman pula." Ucap Yara mengelak.

__ADS_1


Sebenarnya Yara ingin meminta bantuan kepada Caleb agar bisa membantunya memata matai pergerakan Bima, hanya saja Yara tidak ingin lebih banyak orang lain yang terlibat dengan masalahnya.


" Hei.. hei.. hei.. Kata kata dari mana itu. Aku hanya belum menemukan jodohku saja. Lagipula, siapa yang tua.? Aku hanya berusia 30 tahunan tapi wajahku ini, belum tua apa kau tahu .?" Ucap Caleb yang sedikit kesal dan tidak menerima takdir.


" Hahaha.. Iya iya.. kau tidak tua - tidak tua. Sudahlah, aku pergi dulu, taksiku sudah datang." Ucap Yara sembari meledek Caleb.


"Hmm.. Hati hati dijalan." Ucap Caleb yang kesal.


Yara berjalan keluar dari rumah Bima, dan taksi yang ia pesan secara online itu memang sudah di depan gerbang rumah. Yara pun pergi dari sana.


" Pak, antar saya ke District 11." Ucap Yara kepada sopir taksi itu.


Yara pun pergi, dia memang bangun lebih pagi, karena ia harus sampai di apartemen Ethan.


Dan tak Lama ia pun sampai.


Yara turun dari taksi dan memasuki loby, dan langsung menghubungi Jamie, asisten Ethan .


" Pak Jamie, saya di bawah. Baiklah.." Ucap Yara lalu mematikan sambungan telepon nya.


Tak lama Jamie pun sampai di lobi.


" Y, kenapa kau tidak tidur disini.?" Ucap Jamie.


" Tidak apa apa pak, kemarin aku hanya mengunjungi teman." Ucap Yara.


Saat di dalam lift Yara berdiri di belakang Jamie, dan Yara melihat sedikit bagian tato di bagian leher Jamie yang tertutup stelan jas rapi. Meski demikian, ada sedikit bagian tato terlihat.


" Kita sudah sampai. " Ucap Jamie yang membuyarkan lamunan Yara.


" Oh, oke.. " Ucap Yara.


Mereka pun sampai di penthouse Ethan. ruangan itu penuh dengan penjaga yang berjaga di tiap sudut ruangan.


" Apa harus se berlebihan ini.?" Ucap Yara dalam hati.


" Y, biar saya tunjukan kamarmu." Ucap Jamie.


" Baik. " Jawab Yara.


Yara mengikuti Jamie dari belakang, dan memasuki sebuah ruangan.


" Ini adalah kamar yang sudah di persiapkan tuan untukmu, kamarmu tepat berada di sebelah kamar tuan. " Ucap Jamie menjelaskan.


" Baiklah. Terimakasih pak, saya akan berganti pakaian dulu. " Ucap Yara.

__ADS_1


Jamie mengangguk lalu pergi dari kamar Yara.


Yara membuka lemari di kamar itu. Yara berpikir, sesuai sifat Ethan, pasti dia sudah mempersiapkan pakaian untuk dirinya namun..


" Apa ini, lemari ini masih kosong. Sama sekali tidak ada pakaian." Ucap Yara yang melihat lemari yang nampak kosong.


"Memang tidak bisa bergantung pada orang lain." Ucap Yara sembari manggut manggut namun kesal.


Yara pun akhirnya terpaksa keluar lagi dari kamar nya tanpa mengganti pakaian nya.


" Selamat pagi tuan." Ucap Jamie yang menyapa Ethan.


Ethan keluar dari kamar nya dan sudah rapi dengan stelan jas nya. Ia langsung mengambil segelas air lalu meminumnya.


" Selamat pagi tuan." Ucap Yara.


Ethan hampir tersedak mendengar suara Yara di belakang nya.


" Hm.. kau , kapan kau kemari.?" Ucap Ethan dengan keheranan.


" Belum lama tuan. " Ucap Yara singkat.


" Ku pikir dia tidak akan kembali dalam waktu dekat." Ucap Ethan dalam hati.


" Bagus, saya suka keprofesionalan mu. Kita berangkat." Ucap Ethan.


Yara hanya menurut saja, dan berjalan di belakang Ethan memasuki lift. Baik Yara atau Ethan sama sama diam. Jamie yang berada di satu lift itu merasakan suasana mencekam.


Mereka sudah sampai di parkiran mobil, dan Yara pun duduk di jok depan sebelah Jamie. Ethan yang melihat itu pun hanya bisa diam.


" Eh.. Y, kau duduk di belakang saja." Ucap Jamie kepada Yara.


" Terimakasih pak Jamie, mulai sekarang saya akan duduk disini saja, untuk memantau keamanan tuan." Ucap Yara menolak dengan sopan.


" Jalan." Ucap Ethan.


Jamie pun hanya menurut saja. dan pergi dari sana.


Di tempat lain..


" Jika aku membunuhnya, apa kau akan melepaskan anak itu.?" Ucap Bima yang sedang membuat kesepakatan dengan seseorang di telepon nya.


" Baiklah, aku akan menjalankan tugas itu. Asal kalian melepaskan anak itu, ku harap kalian tidak mengingkari janji." Ucap Bima lagi.


Sambungan telepon itu pun berakhir.

__ADS_1


" Nona.. maaf, saya harus mengecewakanmu." Ucap Bima.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2