
Jilian yang tidak sengaja terbangun terkejut saat melihat posisi tidur dua makhluk berbeda jenis dihadapan nya itu. Yara dan Ethan.. Posisi tidur mereka itu sudah seperti sepasang kekasih. Kepala Yara yang menyender di bahu Ethan, dan Ethan yang menyender di kepala Yara. Sangat manis dilihat, dengan cekatan Jilian mengeluarkan ponselnya, lalu mengabadikan momen bersejarah itu.
Mengapa posisi mereka bisa seperti itu, tentu saja itu adalah pekerjaan Ethan. Pada awalnya Yara menyender ke senderan kursi, lalu saat Ethan merasa Yara telah lelap, ia pun membenarkan posisi tidur Yara dengan membuat kepala Yara menyender di bahunya, lalu ia pun kembali terpejam dengan senyuman.
' Aku berharap kelak kalian benar benar menjadi sepasang kekasih dan hidup saling melengkapi. ' Ucap Jilian dalam hati.
Setelah itu, Jilian kembali tertidur.
Di tempat lain..
Seorang pria tengah di pukuli hingga babak belur hampir tak sadarkan diri. Wajah nya lebam dengan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Namun dua pria yang memukulinya itu seakan tak punya hati dan terus memukuli si pria dengan keras.
"Berhenti, nyawa pria itu milik kami." Ucap seorang pria berbadan tak kalah kekar.
" Siapa kau, dia berhutang pada kami dan tak mampu membayarnya. Nyawanya adalah milik kami." Ucap Salah satu pria yang tadi memukuli.
" Berapa hutangnya, aku yang akan bayar, lepaskan dia." Ucap Pria itu lagi.
" Cih, kenapa tidak datang dari tadi, bikin repot saja. Hutang nya 750 juta. Bayar sekarang atau kau juga akan bernasib sama dengan nya." Ucap si preman.
" Di dalam kartu ini ada 800 juta, sisanya untuk kalian. Sandinya angka 6 enam kali, Kalian boleh pergi." Ucap si pria tadi.
Dengan gerakan cepat dua preman itu mengambil kartu itu lalu pergi dari sana.
" Si..apa.. K..kamu.?" Ucap si pria yang wajahnya hampir tak bisa dikenali.
" Darren Todd, aku adalah orang utusan nona Yara, dia memintaku untuk mencari anda dan memberi anda ini." Ucap si pria yang tadi menolong Darren.
Benar, pria yang di pukuli hingga babak belur adalah Darren. Ia tertangkap penagih hutang yang sebelumnya menagih kepada Darren. Darren yang sedang kosong pikiran nya, hanya pasrah saja saat dua orang itu memukulinya. Daren kembali ke Vila dan berniat membawa Ayah, ibu, juga istrinya pergi karena Robin Todd tidak mau sama sekali membantunya membayar hutang.
Namun Darren terkejut saat melihat keadaan Vila yang kosong tak berpenghuni. Disaat ia sedang kalut, dua pria itu datang dan akhirnya memukuli Darren. Darren hanya pasrah, menurutnya untuk apa dia hidup, kedua orang tuanya bahkan istrinya tega meninggalkan nya.
" Ya..Yara.. ?" Ucap Darren.
Darren membuka sebuah map, ia terkejut melihat foto yang ada disana. Ibunya, ternyata mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Mungkin karena tidak kuat menahan malu dan hidup susah.
" I.. Ibu.. Hik.. Hik.." Ucap Darren di tengah tangisnya.
Sedangkan Megan.. Darren menggeratkan tangan nya saat melihat foto Megan yang tengah bermanja di dada seorang pria buncit yang tidak ia kenali. Kemudian ada sebuah laporan tes DNA yang menyatakan bahwa Darren bukanlah ayah kandung dari bayi yang di kandung Megan.
" Ap.. Apa ini.. Apa maksudnya ini.." Ucap Darren lirih.
Saat melihat foro foto lain Megan tengah berhubungan badan dengan pria pria asing, dan salah satunya adalah Robin Todd.
" Darren Todd, nona Yara telah berbaik hati membantumu membuka kebenaran tentang istrimu. Dia bukan wanita yang seperti kau bayangkan. Ayahmu saat ini sudah berada di bawah pengawasan kami, dan dia baik baik saja. Nona Yara juga memberikan ini untuk anda. " Ucap si pria itu lagi, sembari memberikan sebuah map lain.
Darren membuka map itu, map itu berisi sebuah kunci rumah, kunci mobil, juga kartu identitas SAL.
" Nona Yara sudah melunasi hutangmu, ini adalah jalan terakhir dari nona Yara. Kau adalah karyawan perusahaan SAL mulai saat ini. Darren Todd, hidupmu sudah berakhir jika bukan karena kebaikan nona Yara. Semoga kau bisa lebih bijam dalam mengambil jalan hidup." Ucap pria itu lalu pergi dari hadapan Darren.
Darren menangis tersedu sedu.. Bagaimana tidak, disaat semua orang menarik tangan nya, Yara justru menjadi satu satunya orang yang mengulurkan tangan. Yara yang ia benci, yang selalu ia manfaatkan, yang ia khianati, pada akhirnya Yara yang mentelamatkan hidupnya.
Darren kemudian ingat, ibunya yang berada di kamar jenazah rumah sakit. Ia akhirnya bangun dan berjalan tertatih tatih menuju sebuah mobil yang di siapkan untuknya di halaman depan Vila nya. Ia tidak mempedulikan penampilan nya saat ini, Yang ia pikirkan adalah ibunya. Dengan kecepatan penuh, Darren menuju kesebuah rumah sakit.
Saat sampai disana, ia bertanya kepada pihak rumah sakit.
" Dimana kamar Jenazah korban bunuh diri yang di temukan di sungai?" Tanya Darren.
" Apakah anda keluarga si jenazah?" Tanya perawat yang bertugas.
__ADS_1
" Ya, saya putranya." Ucap Darren.
" Tuan, apakah anda tidak obati dulu luka anda, itu terlihat parah. " Tawar sang perawat.
" Tidak perlu, terimakasih." Ucap Darren. Perawat itu pun mengantarkan Darren ke ruang jenazah.
Bagi Darren saat ini, sakit di tubuhnya belum ada apa apa nya, ia lebih merasakan sakit di hatinya. Bagaimana tidak, pada awal nya ia berniat membawa pergi keluarga nya keluar kota jika saja ia tidak mendapatkan pinjaman dari sepupunya Robin. Namun mengapa tiba tiba Tuhan memberinya kejutan.
Tak pernah Darren pikirkan bahwa ibunya lebih memilih mati bunuh diri dari pada hidup susah sementara. Juga tak pernah Darren kira bahwa wanita yang selama ini ia cintai , dan anak yang selama ini ia tunggu, rupanya bukan miliknya tapi milik orang lain. Seakan ia mendapatkan karma yang jatuh secara bersamaan.
Darren tak kuasa membendung air matanya, bagai sungai yang mengalir, air matanya jatuh tak bisa tertahan. Luruh.. Ia terisak melihat wanita yang melahirkannya menjadi mayat yang terbujur kaku.
" Ibu... Hiks.. Hiks.. " Terdengar sangat pilu tangisan nya, bagai anak kecil yang di tinggal pergi ibunya, itulah Darren saat ini. Duduk sembari memegang tangan Tsania yang telah dingin dan kaku.
Se brengsek brengsek nya pria, jika itu menyangkut ibu tercintanya maka tidak akan ada lagi bantahan. Perginya sang ibu bagaikan perginya matahari yang selalu menyinari pagi yang indah. Ibu adalah sosok malaikat tidak bersayap, walau pun Tsania terbilang jahat, namun tentu saja kasih sayangnya kepada Darren tidak pernah kurang sedikitpun.
" AAARRRGGGHHH... " Teriak Darren ketika tak bisa lagi menahan sesak didadanya.
" Tuan, jika pihak keluarga sudah di temukan sebaiknya tuan langsung mengurus acara pemakaman beliau, kasian beliau terlalu lama menunggu." Ucap Sang perawat. Akhirnya dengan berat hati Darren mengangguk.
" Tolong langsung kremasi saja jenazah ibuku."
Ucap Darren.
" Apakah anda tidak menunggu anggota keluarga anda yang lain?" Tanya sang perawat.
" Aku adalah satu satunya keluarga ibuku." Ucap Darren.
Memang benar, setelah ia jatuh miskin, semua sanak saudaranya menjauh. Tidak ada yang mau membantu bahkan menengok keadaan Carig pun tidak pernah.
Mereka ber 4 selama ini tinggal suka dan duka di Vila, tapi sekarang Megan bahkan sudah pergi dengan laki laki lain.
Darren pun mengikuti langkah sang perawat. Dengan mata sembab dan wajah lebam, siapapun tidak akan ada yang mengenali itu adalah Darren Todd.
Setelah semua prosedur sudah di urus, disinilah Darren sekarang. Ia tengah berdiri menghadap peti mati sang ibu. Ia mengenang semua kenangan manisnya dengan sang ibu dan ayahnya. Air matanya tak henti hentinya mengalir.
' Ibu, jika ada kehidupan berikutnya mari kita bertemu sebagai putra dan ibunya lagi. Walaupun di kehidupan ini kita mengambil langkah yang salah, aku berharap di kehidupan selanjutnya kita akan menjadi keluarga yang baik dan bahagia. Aku, ibu, ayah, kakek dan.. Yara.. ' Ucap Darren dalam hatinya.
Entah mengapa di akhir kalimat ia menyebutkan nama Yara, mungkin Darren telah menyesali semuanya. Jika ia menjadi pria yang baik, maka semua ini tidak akan terjadi bukan? Ia akan bahagia hidup bersama dengan Yara sebagai pasangan nya. Tapi menyesal juga sudah terlambat, semua sudah terjadi dan tidak akan bisa di putar kembali. Seperti kata pepatah, penyesalan itu datang nya selalu di akhir.
Dan akhirnya peti mati Tsania pun mulai di bakar. Hingga pembakaran selesai, Darren tak sedikitpun bergeming dari tempat duduknya. Padahal hari sudah larut malam, seakan ia masih ingin bersama ibunya, ia menunggu hungga jasad Tsania selesai di kremasi selama 5 jam lamanya.
" Tuan, ini abu ibu anda." Ucap Seorang petugas yang mengurusi jasad Tsania.
Darren melihat sebuah guci hitam tidak terlalu besar. Disana ibunya bersemayam menjadi abu.
" Terimakasih." Ucap Darren.
Setelah mengurus sisa sisa prosedur disana, akhirnya Darren pun pulang membawa abu jasad ibunya. Mengapa Darren mengkremasi ibunya? Itu karena dulu saat hidup Tsania pernah bilang. Jika ia mati, ia ingin agar jasadnya di kremasi, agar tidak menebarkan bau. Begitu permintaan Tsania.
" Ibu, aku akan menunggu ayah kembali untuk menebar abu ibu bersama sama. Maafkan aku sudah membuat ibu kesusahan, aku putra yang buruk." Ucap Darren.
...****************...
2 hari berlalu, hari ini adalah hari dimana acara pameran yang di gelar oleh Kristin Evron berlangsung. Saat ini Yara dan tim nya sedang bersiap siap untuk memulai misi mereka untuk menculik Kristin, lebih tepatnya menangkap.
" Ingat tugas kalian masing masing oke, kita tidak boleh sampai hilang komunikasi. Sedikit masalah bisa menimbulkan kekacauan besar." Ucap Yara.
" Oke, mari berpencar. " Ucap Jilian.
__ADS_1
Seperti yang sudah Yara rencanakan sebelumnya, Jilian dan Rayson berpura pura menjadi paramedis. Kini mereka sudah menggunakan pakaian medis negara itu, juga sudah siap satu mobil ambulance sebagai kendaraan mereka. Sean dan Bara masuk kedalam sebuah mobil Van besar berwarna hitam didalamnya tentu sudah tersedia berbagai alat canggih yang telah di desain khusus untuk memantau pergerakan di seluruh gedung itu.
Jackson dan Caleb yang bertugas menjadi mata mata kini memasuki mobil Jeep yang terparkir disana. Ethan yangpaling normal dari yang lain nya, ia hanya menggunakan jas mewah seperti biasanya dan duduk manis didalam mobil mewahnya. Mobil mereka pun berpencar ke arah masing masing tujuan.
Sedangkan Yara, setelah mereka pergi, Yara menghubungi tim Ghost yang saat ini sudah siaga di sekitaran gedung.
" Kami sudah berpencar, apakah kalian sudah menyiapkan senjatanya? Baik.. Kita bertemu disana." Ucap Yara dengan seseorang di balik telepon nya.
" Kemudian ia pun mengendarai sebuah mobil menuju tempat di selenggarakan nya acara pameran itu.
Di tempat lain..
Seorang wanita tengah berdiri menatap keluar dari jendela besarnya. Tangan kanannya terselip sebatang rokok, dan tangan kirinya memegang gelas berisi anggur.
" Anggur hari ini terasa enak, sepertinya akan ada keberuntungan baik dari pameran ini." Ucap eanita itu.
" Benar nyonya Evron, dengar dengar ada seorang milyader kaya yang akan datang, karena ia seorang kolektor barang antik kuno" Ucap seorang pria yang berdiri tak jauh dari sana.
Ya, wanita yang tengah merokok sembari meminum anggur itu adalah Kristin Evron. Ia merasa senang karena hari ini kemungkinan akan banyak orang bodoh yang ia tipu dengan barang barang antik tiruan.
" Siapa? Apakah dia seorang pria?" Tanya Kristin antusias.
" Ya nyonya, dia berasal dari negara C. " Ucap si pria.
" Mmm... Bagus. Setelah acara ini selesai, bawa Robin todd menemuiku, sudah terlalu lama ia hidup enak tanpa beban. Anjing anjingku harus patuh." Ucap Kristin dengan senyum misteriusnya.
Kristin tidak tahu saja, bahwa di luar sana Yara dan tim nya sedang merencanakan sesuatu padanya. Bicara tentang Yara, saat ini Yara dan tim nya sudah memposisikan posisi mereka masing masing. Setelah melewati pemeriksaan yang ketat, Jilian dan Rayson sudah berhasil masuk kedalam gedung itu.
Dan disaat bersamaan, Yara juga telah berhasil masuk dari pintu lain yang tidak terlalu di perhatikan oleh tim kemanan Kristin. Dua penjaga yang dipukul pingsan itu kini di gantikan oleh tim Ghost. Dan Yara pun dengan mulus masuk kedalam gedung sembari membawa senjata milik Jilian dan Rayson.
" Kak Rayson, kita bertemu di titik pertemuan sekarang." Ucap Yara pada Rayson melalui ear piece nya.
" Dimengerti." Sahut Rayson.
" Kak Sean, cek sekitar." Ucap Yara lagi.
" Dimengerti." Sahut Sean.
Yara pun berjalan dengan tenangnya menggunakan seragam Cleaning service gedung itu menuju sebuah ruangan yang menjadi titik pertemuan nya denga Rayson dan Jilian. Mengapa Yara berjalan dengan tenang? tentu saja karena sistem kemanan cctv disana telah di sabotase oleh Sean dan Bara.
Yara telah sampai di depan sebuah ruangan, dan ia pun mengetuk pintu.
" Cleaning service." Ucap Yara.
Tidak ada yang menyahut, Yara pun masuk kedalam. Dan tak lama Rayson juga Jilian sampai disana.
" Yara, bagaimana kau bisa masuk dengan senjata? Saat kami masuk pengecekan disini sangat ketat." Ucap Jilian.
" Kita tidak punya banyak waktu, akan aku jelaskan nanti. Ini adalah cairan yang dapat melumpuhkan saraf, ini bersifat sementara. Campurkan ini diminuman, ketika nanti aku beraksi, maka kakak beri minuman itu pada Kristin." Ucap Yara.
" Baik."
Mereka pun kembali berpencar, Ray dan Jilian keluar terlebih dahulu. Dan setelah beberapa menit Yara pun keluar. Yara menghentikan troli peralatan kebersihan nya di depan sebuah toilet, lalu ia mengambil tas nya dan masuk kedalam toliet.
Yara mengganti pakaian nya menggunakan kemeja pria sedikit kebesaran lalu ia menggunakan topeng wajah sintetis nya. Ia juga menggunakan perut sintetis agar terlihat seperti pria tua yang buncit.
" Misi di mulai." Ucap Yara sembari menatap pantulan wajah nya sendiri di cermin.
TO BE CONTINUED .
__ADS_1