
Sementara kini di dalam ruangan pribadi Ethan. Dua orang itu kini sedang duduk berhadap hadapan. Orang itu tak lain adalah Ethan dan pria bertopeng itu.
" Maaf atas kejadian di bawah." Ucap Ethan.
" Tidak perlu berbasa basi lagi, ada apa kau memanggilku kemari.? " Ucap pria bertopeng itu.
" Apa tidak bisa kah kau berkata sedikit lembut, aku.. " Ucap Ethan tertahan.
" Kau adikku. Kau pasti mau bilang itu kan.? Dan jawaban ku tetap seperti sebelum nya, kau hanya pembunuh ibuku. Jika kau mengundangku kemari hanya untuk membahas hal kekanak Kanakan itu, lebih baik aku pergi." Ucap pria bertopeng itu.
" Maaf.. Aku hanya ingin memberi tahu ini." Ucap Ethan sembari memberikan sebuah dokumen.
Pria bertopeng itu membuka dokumen itu dan melihat hal yang tidak ia mengerti.
" Apa ini ?" Ucap pria bertopeng itu.
" Itu adalah salinan data penumpang pesawat tahun itu. Aku mencari ke semua penerbangan menuju Canada tapi tidak menemukan nama ibumu." Ucap Ethan.
" Kau , beraninya menyelidiki ini. Untuk apa.? kalaupun memang tidak ada nama ibuku, kau tetaplah pembunuh ibuku." Ucap pria bertopeng itu.
" Bagaimana bisa kau tetap menyimpulkan seperti itu.? Jika nama ibumu saja tidak ada dalam penerbangan, lalu bagaimana bisa dia dinyatakan mati.. " Ucap Ethan tertahan.
" Mati.. Iya, kau dan ibumu selalu menginginkan kematian ibuku benar.? Jika bukan karena kehadiran mu dan ibumu , Ibuku tidak akan pergi." Ucap pria bertopeng itu.
" Aku sudah mencari penjelasan untukmu. Kita sudah dewasa, seharusnya kau tahu mana yang benar dan yang salah. Tidak bisakah kita keluar dari lingkaran masalalu.?" Ucap Ethan.
" Tidak bisa, baik dulu, kini dan nanti . Kebenaran nya hanya satu, Kau.. pembunuh." Ucap pria bertopeng itu lalu pergi keluar dari ruangan Ethan.
Ethan kembali murung. Dalam hidup nya ia selalu mencari penjelasan dan kebenaran mengenai hal itu. Ia tak mau selamanya di cap sebagai pembunuh di hati kakak nya. Tapi tetap saja sulit.
Dari luar ruangan, Yara melihat pria bertopeng itu pergi dengan keadaan emosi dan turun menggunakan lift.
BRAK.!!
" Cari tahu siapa orang yang sudah menggunakan identitas nya di bawah tadi.!" Ucap Ethan dengan keadaan emosi.
" Tuan, itu adalah Y.. " Ucap Jamie.
" Panggil dia kemari." Ucap Ethan.
Dari luar Yara sudah mendengar benda yang di Banting, ia pun sedikit terkejut dan keluarlah Jamie dari dalam ruangan itu.
" Y, Tuan mencarimu." Ucap Jamie.
" Baik." Ucap Yara.
__ADS_1
Yara pun memasuki ruangan Ethan, dan seketika langsung mendapatkan sebuah lemparan benda tajam. Ethan melemparkan sebuah gelas dan mengenai kening Yara hingga berdarah.
" Beraninya kau.!" Ucap Ethan sembari mencekik leher Yara.
Yara yang terkejut pun meronta hingga hampir kehilangan nafas nya.
" Tu.. tuan sakit." Ucap Yara.
" Sakit huh.? Kau tahu betapa sulitnya aku menemui dia.? Ini adalah kali pertama aku berhasil menemui dia setelah 10 tahun. Dan hancur begitu saja gara gara kau.!!" Ucap Ethan yang semakin mengeratkan cekikan nya.
Yara tanpa sadar mengeluarkan air mata nya. Ethan melihat itu pun langsung menghempaskan Yara kelantai. Dan Yara langsung mengambil nafas nya dalam dalam.
" Keluar.!!" Ucap Ethan.
Yara mencoba berdiri lalu pergi dari sana dengan kening yang berdarah.
" AAARGGH.!!!! " Teriak Ethan dari dalam ruangan yang terdengar sampai keluar.
" Y, kau tidak apa apa.? Maaf kan tuan, dia hanya kesal." Ucap Jamie menghibur Yara.
" Tidak apa apa pak Jamie, aku pergi dulu." Ucap Yara.
" Y, ini adalah kunci dan akses memasuki penthouse milik Tuan. Apartemen nya berada di daerah SCBD, District 11. Dan ini stiker tanda penghuni milik tuan. " Ucap Jamie memberikan sebuah kunci dan kartu akses sebuah unit penthouse.
Yara melihat kening nya yang berdarah dari pantulan kaca lift, ia pun menghapus darah nya dengan jas yang kini sudah di lepasnya. Yara pun pergi dari gedung perusahaan itu menggunakan mobil Bara menuju sebuah apartemen mewah di daerah SCBD Jakarta Selatan.
" Cih, bisa bisa nya dia marah sampai hampir membunuh orang. Apa dia punya kepribadian ganda, sebentar baik sebentar jahat. Lebih baik aku tidak tinggal bersama nya." Ucap Yara.
Tak lama Yara sudah sampai di apartemen yang di sebutkan Jamie kepadanya. Lalu ia pun masuk menuju parkiran. Yara ke apartemen itu hanya untuk memarkirkan mobil milik Bara. Setelah itu ia keluar dari sana.
" Aku mungkin berhutang kepadamu, setelah aku menemukan siapa itu mahkota berduri. maka hutangku lunas." Ucap Yara sembari memandangi sebuah kunci akses.
Yara menghentikan sebuah taksi, lalu ia kembali ke perusahaan.
" Tuan, kening anda berdarah." Ucap Sopir taksi itu.
" Tidak apa apa , hanya luka ringan." Ucap Yara sembari tersenyum.
Supir itu pun hanya mengangguk, dan tak lama mereka sampai di perusahaan milik Ethan.
" Pak, jangan pergi dulu yah. Saya akan kembali lagi. " Ucap Yara.
" Baik tuan." Ucap Sopir taksi itu.
Yara berjalan menuju ke resepsionis, lalu menitipkan kunci mobi serta akses penthouse milik Ethan.
__ADS_1
" Berikan ini kepada Presdir. Katakan saja dari Y. " Ucap Yara.
" Baik tuan." Ucap sang resepsionis itu dengan tersipu.
Yara pun pergi dari sana , dan kembali menaiki taksi yang tadi.
" Jalan pak." Ucap Yara.
Yara menghubungi Jackson.
" Jack, kau dimana.? Oh, baiklah.. " Ucap Yara yang lalu mematikan sambungan telepon nya.
" Tolong antar saya ke daerah Kuningan ya pak. " Ucap Yara.
Taksi pun menuju ke daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Dan tak lama mereka sampai di tempat tujuan.
" Terimakasih pak. " Ucap Yara sembari memberikan empat lembar uang pecahan seratus ribuan .
" Akhirnya kau datang juga." Ucap Jackson yang menyambut Yara.
" Maaf baru sempat datang. Bagaimana kabarmu dan Caleb seta pak Bima ? " Ucap Yara.
" Kami baik, pak Bima belum pulang, dia bilang sedang mengurus sesuatu, ayo masuk. " Ucap Jack.
Yara pun memasuki rumah Bima. Rumah itu tidak pernah berubah sama sekali, sedari ia kecil sampai sekarang masih sama. bahkan furniture nya pun sama.
" Rumah yang tidak pernah berubah , masih sama seperti dulu." Ucap Yara.
" Kau sering kemari yah dulu.?" Ucap Jackson.
" Iya. Kalian sekarang tinggal disini.? Eh, mana Caleb.?" Ucap Yara.
" Caleb sedang berbelanja. Setelah kejadian di rumah sakit saat itu, pak Bima meminta aku dan Caleb untuk tinggal dengan nya. Hanya saja entah mengapa akhir akhir ini pak Bima sedikit berubah." Ucap Jackson.
" Berubah, berubah bagaimana maksudmu.?" Ucap Yara.
" Nona Yara, akhirnya kamu datang.. " Ucap Bima yang tiba tiba muncul .
" Iya, maaf baru sempat mengunjungi bapak, bagaimana kabar bapak.?" Ucap Yara.
" Saya baik.. baguslah kalau nona tidak apa apa." Ucap Bima.
" Pak Bima dari mana? kenapa berpakaian serba hitam? apa ada yang meninggal.?" Ucap Yara.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1