Gadis Misterius Kesayangan

Gadis Misterius Kesayangan
EPS. 163. SEASON 2. DANAU.


__ADS_3

BRRAK!!


Suara benda di banting.


Nicholas membating senapan nya kemudian ia pergi dari sana. Rupanya Nicholas kalah, Ia hanya berhasil menembak sekitar 6 tali apel dan sementara Timothy berhasil menembak 8 tali apel.


" Aku yang menang, jadi aku dan Vaye yang ikut." Ujar Timothy.


Semua orang disana pun bertepuk tangan meriah, karena mereka semua sangat menyukai Timothy yang cerdas dan sopan, selain itu Timothy juga baik dan tampan, semua gadis mengidolakan nya.


" Nicho.." Panggil Vaye.


Vaye justru pergi mengejar Nicholas, dan dari sana, semua orang langsung beranggapan bahwa Timothy menyukai Vaye, sementara Vaye menyukai Nicholas dan sebaliknya. Mereka mengira ada cinta segitiga diantara mereka bertiga.


" Vaye bodoh, padahal kan Nicholas kasar dan kejam.. dia malam mengejar Nicholas." Ujar teman kelas Vaye.


" Benar, padahal Timothy jauh lebih baik dari Nicholas, bahkan Timothy menurutku sangat tampan dari pada Nicholas yang nakal." Ujar yang lain.


" Menurutku Nicholas memang tampan, aku suka tipe bad boy, tapi.. bukan Nicholas." Ucap yang lain lagi.


" Baiklah, Timothy.. Minggu depan kamu dan Vaye yang ikut turnamen." Ujar kepala sekolah.


" Baik, pak. Saya permisi." Ujar Timothy, dan pergi dari sana.


Lini menatap kepergian Timothy dengan pandangan tak bisa diartikan, seperti yang di ketahui bahwa Timothy adalah idola di sana, Lini juga tampaknya mengidolakan Timothy.


Sementara itu, Vaye mengejar Nicholas yang kini sampai di lapangan basket. Dia mengambil basket lalu menghempaskannya dengan kasar, hingga basket itu memantul dan mengenai kepalanya sendiri. Nicholas pun terjatuh akibat kerasnya pantulan bola basket.


" Aduh!! Sshhh.. Ck! Bahkan bola pun melawanku." Gumam Nicholas.


Vaye terkekeh melihatnya, teman nya itu sangat absurd. Dia berjalan menghampiri Nicholas yang sedang mengusap usap kepalanya.


" Kau marah?? Ayolah... turnamen itu.. aku bahkan tidak ingin mengikutinya." Ujar Vaye.


" Tapi akhirnya kau ikut dengan si kampret itu." Ujar Nicholas.


" Hey, sembarangan saja kau menamai orang. Mau bagaimana lagi, kamu tadi kalah." Ujar Vaye.


" Ck! Sejak kapan dia menjadi lebih unggul dariku, s*alan." Ujar Nicholas.


" Dari pada kau marah - marah, lebih baik ayo kita pulang. Kau bilang mau belajar, kan?" Ucap Vaye.


" Hatiku saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, jadi belajarnya besok saja." Ujar Vaye.


" Sok dramatis.. ngomong - ngomong, boleh aku pulang denganmu? Ayahku tidak bisa menjemputku, dan aku tidak mau di jemput supir." Ujar Vaye.


Vaye tidak mau di jemput supir, karena nanti yang datang pasti mobil mewah. Dan itu pasti akan menarik perhatian orang orang. Nicholas seketika tersenyum misterius.


" Kenapa denganmu? kenapa aku merasa senyummu seperti iblis, aku jadi merinding." Ujar Vaye.


" Astaga, aku tampan begini dibilang mirip iblis." Ujar Nicho protes.

__ADS_1


" Aku tidak bilang mirip." Ujar Vaye.


" Sudahlah, terserah kamu saja. Ayo.." Ujar Nicholas dan menarik tangan Vaye.


Mereka pun berjalan menuju ke parkiran, dan disana ada Timothy yang juga hendak pulang dengan mobilnya. Timothy menatap kedekatan Vaye dengan Nicholas yang sepertinya makin akrab.


" Eit! Kamu bawa celana olah raga tidak? Bonceng motor tidak bisa pakai rok." Ujar Nicholas.


" Benar juga, aku tidak bawa.." Ujar Vaye.


" Ya sudah, pakai ini saja." Ujar Nicholas.


Nicholas mengeluarkan celana olah raganya. Dan Vaye menatap celana itu dengan mata yang berkedip kedip bingung.


" Vaye, kamu tidak bawa mobil?" Tanya Timothy.


" Tidak, aku diantar ayahku." Ujar Vaye.


" Kamu bisa pulang denganku jika kamu mau, naik motor sangat berbahaya untuk orang yang tidak pernah mengendarainya." Ujar Timothy.


" Kau senang sekali berebut Vaye denganku, atau kau sengaja memancing emosiku?" Ujar Nicholas dengan tatapan permusuhan pada Timothy.


" Terserah apa pemikiranmu, Vaye tidak pernah naik motor dan itu sangat berbahaya baginya." Ujar Timothy.


" Dari mana kau tahu dia tidak pernah naik motor, apakah dia pernah cerita padamu, Huh? " Ucap Nicholas.


" Tidak apa apa Timothy, aku pulang dengan Nicholas saja, lagi pula kami tinggal di gedung yang sama." Ujar Vaye.


" Kau tidak dengar Vaye bilang apa? pergi sana syuh - syuh.. " Ujar Nicholas mengusir Timothy, seolah mengusir seekor binatang.


Nicholas dengan cepat melepas jaketnya dan mengikatkan nya di pinggang Vaye, lalu celana olah raganya ia masukan kembali ke tas.


" Ayo, Vaye.." Ujar Nicholas.


Nicholas memakaikan helm di kepala Vaye dan duduk di kemudi.Tangan nya ia ulurkan untuk membantu Vaye naik keatas motor nya yang memang tinggi. Vaye pun naik keatas motor itu, dan duduk dengan benar.


" Kau tidak pakai helm, bisa kena tilang nanti." Ujar Vaye.


" Kita beli nanti, dijalan. Sudah siap??" Ujar Nicho, dan Vaye mengangguk.


Nicholas menjalankan motor besarnya itu dan keluar dari halaman sekolah dengan Timothy yang terus menatap kearah keduanya itu.


Sepanjang perjalanan itu Vaye tidak terlihat takut sama sekali. Malah dia seperti menikmati sensasi suasana sore itu. Nicholas berhenti di sebuah toko helm, dan membeli satu helm untuk peremuan.


" Nah, tukar helm mu, ini kebesaran untuk kepalamu yang kecil." Ujar Nicholas sambil terkekeh.


Memang benar, helm milik Nicholas adalah tipe untuk pria dan helm itu sangat berat. Vaye yang tubuhnya kecil itu terlihat lucu dengan helm Nicholas yang besar. Jika kalian tahu ulat di daun sirsak, seperti itulah Vaye terlihat saat ini.


" Ish! Mana ada kepalaku kecil. Tapi memang ini agak berat." Ujar Vaye.


Mereka pun bertukar helm, dan kini Vaye tampak pas dengan helm berwarna putihnya. Mereka melanjutkan perjalanan, tapi Nicholas membawa Vaye ke tempat lain bukan menuju apartemen.

__ADS_1


" Ini kita mau kemana?" Tanya Vaye.


" Rahasia." Ujar Nicholas.


Tak lama motor itu memasuki sebuah pekarangan. Di dalam pagar dinding yang tinggi itu rupanya ada taman yang sangat indah dengan gazebo kecil dan danau yang lumayan luas. Vaye sampai terkesima karena banyaknya bunga berwarna warni disana, juga pohon pohonan yang hijau, benar benar alami.


" Woah... cantik sekali." Ujar Vaye.


" Cantik bukan? Ibuku yang mendesain nya. Danau ini adalah milik keluargaku dulunya, tapi sudah di tinggalkan. Jadi aku yang mengambil alih." Ujar Nicholas.


" Di tinggalkan? Danau debagus dan seindah ini di tinggalkan?" Ujar Vaye tidak percaya.


" Karena danau ini menyimpan kenangan buruk, jadi di tinggalkan. Tapi bagiku danau ini penuh dengan kenangan indah, jadi aku mengambil alihnya." Ujar Nicholas.


" Ayo.. " Ujar Nicholas, menarik tangan Vaye dan menuruni dataran menuju Gazebo.


Vaye melihat sekelilingnya, dan benar benar terkagum kagum dengan taman itu. Danau kecil itu bahkan memiliki air yang jernih, hingga ikan ikan koi terlihat sangat jelas disana.


" Duduklah.. " Ujar Nicholas, setelah sampai di gazebo.


" Siapa yang merawat ini, jika katamu tempat ini ditinggalkan." Tanya Vaye.


" Aku membayar orang." Ucap Nicholas.


" Pasti dulunya tempat ini adalah tempat berkumpulnya keluargamu, ya?" Tanya Vaye.


" Hm.. Kamu lihat lahan terbuka itu.. Dulunya ada rumah disana. Rumah yang sangat hangat." Ujar Nicholas menyendu.


Vaye menatap Nicholas , dan ia melihat kesedihan dimata Nicholas. Vaye sesungguhnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Nicholas dan keluarganya. Tapi dia tidak berhak bertanya, jika Nicholas tidak bercerita.


" Lupakan, mulai sekarang.. Ini adalah tempat kita berkumpul." Ujar Nicholas.


" Boleh juga.. Bagaimana kalau kita belajar saja disini, sepertinya otak kita akan bekerja lebih baik." Ujar Vaye.


" Hmmm... Besok saja, boleh?? Aku sedang tidak mood." Ujar Nicholas, memelas.


" Ya.. ya.. Jadi apa yang akan kita lakukan disini. Masa hanya duduk memendangi danau." Ujar Vaye.


" Tidur." Ujar Nicholas, lalau merebahkan dirinya di gazebo.


" Cih, dasar tukang tidur. Tidak di kelas, tidak disini, kerjaan mu hanya tidur." Ujar Vaye.


" Bagaimana lagi, aku bukan orang sibuk, atau orang cerdas." Ujar Nicholas , memejamlan matanya.


Vaye sampai geleng geleng di buatnya, dan benar saja, tidak ada satu menit.. Nicholas sudsh terbang ke alam mimpi. Akhirnya Vaye hanya bisa duduk mencelupkan kakinya di air danau sambil membaca buku.


Rupanya Nicholas tidak benar benar tidur, perlahan ia membuka matanya dan memandangi Vaye yang sedamg membaca buku sangat serius.


' Kutu buku.. Dia tidak seperti gadis lain yang mengutamakan penampilan, dia sederhana tapi aku nyaman berteman dengannya. Vaye.. terimakasih. ' Batin Nicholas, ia tersenyum kemudian memejamkan matanya kembali.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2