
Vaye dan Nicholas sampai di dalam mobil, dan keduanya masih saja tertawa. Vaye memberikan tisue
" Hujan nya tidak bisa di ajak kompromi." Ujar Nicholas, dan Vaye terkekeh.
" Mana bisa hujan bicara atau izin dulu sebelum turun ke bumi." Ujar Vaye.
" Iya juga." Ujar Nicholas.
Akhirnya mereka pun pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan itu, Nicholas seperti bukan Nicholas. Ia bisa menjadi orang lain saat bersama Vaye. Hingga sampailah mereka berdua di basment.
" Ayo makan malam bersama." Ujar Nicholas.
" Mmm... boleh lah, ayo." Ujar Vaye.
Mereka tidak langsung pulang ke unit mereka masing masing, tapi mampir ke lantai dimana mall berada.
" Makan apa?" Tanya Vaye.
" Sup saja, kau sedang sakit." Ujar Vaye lagi.
Nicholas sampai bingung sendiri, Vaye bertanya, Vaye juga yang menjawab peryanyaan nya sendiri. Hingga akhirnya mereka sampai di lantai 3, dimana restoran Jilian berada.
" Paman.." Ucap Vaye, pada Jilian yang tengah duduk di salah satu meja pelanggan.
" Oh, hai sayang.. Kamu masih pakai seragam, apakah baru pulang?" Tanya Jilian.
" Ya, Vaye baru dari rumah sakit. " Ujar Vaye.
" Rumah sakit? Apakah terjadi sesuatu padamu, kamu terluka?" Tanya Jilian khawatir.
" Bukan Vaye, tapi teman Vaye, paman. Nicholas namanya." Ujar Vaye.
Jilian baru sadar, Vaye membawa teman. Jilian pun mempersilahkan Nicholas duduk.
" Maaf, saya tidak melihatmu tadi. Silahkan.. " Ujar Jilian dengan ramah.
" Terimakasih, tuan Jil." Ujar Nicholas.
" Oh, kau mengenalku?" Ujar Jilian.
" Chef yang begitu terkanal mana mungkin aku tidak mengenalinya, senang bisa bertemu langsung dengan anda. Ibuku.. "
Ucapan Nicholas terhenti saat mengucap kata ibuku , dia menjadi teringat dengan ibunya yang membancinya sekarang. Tapi ia menyembunyikan kesedihannya dan kembali melanjutkan ucapannya.
" Ibuku adalah salah satu penggemarmu." Ucap Nicholas.
" Oh, haha.. Senang rasanya mendengar seseorang menggemariku." Ujar Jilian.
Akhirnya mereka pun mengobrol bersama dan makan malam bersama. Nicholas senang bisa dekat dengan orang orang yang menyenangkan seperti Vaye dan Jilian. Setelah selesai, mereka pun akhirnya memutuskan pulang.
" Terimakasih untuk hari ini, dan maaf merepotkanmu." Ucap Nicholas.
__ADS_1
" Kita teman, jadi jangan sungkan. Istirahatlah dengan baik, sampai jumpa si sekolah." Ujar Vaye.
" Hmm.. Kau juga." Ucap Nicholas, lalu turun dari lift dan melihat Vaye hingga lift tertutup dan naik ke atas.
" Huuftt.. Sepi." Ucap Nicholas, sambil menyedot ingusnya karena dia sekarang sedikit flu.
Vaye sampai di apartemen nya yang masih gelap, ia menyalakan lampu dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang duduk di sofa gelap gelapan.
" Daddy! Asataga.. Mengejutkan saja." Ujar Vaye.
Ya, Ethan duduk di sofa tanpa sedikitpun menerangan, tatapan nya saat ini begitu datar, seakan dia sangat marah saat ini. Vaye yang melihatnya pun takut, ia tidak pernah melihat daddy nya dengan wajah begitu.
" Daddy.." Panggil Vaye.
Ethan akhirnya hanya bisa menghelakan nafasnya. Kemudian ia bangun dan berjalan menghampiri Vaye yang saat ini terlihat ketakutan.
" Kamu baru pulang, sayang?" Tanya Ethan akhirnya.
" Y-ya.." Sahut Vaye.
" Kamu sudah makan?" Tanya Ethan.
" Sudah.." ujar Vaye.
" Kalau begitu bersihkan dulu dirimu, kamu pasti lelah." Ujar Ethan.
"Daddy.. Tidak marah??" Tanya Vaye.
" Mana mungkin daddy marah pada permata hati daddy, pergilah mandi." Ujar Ethan, mengusap kepala Vaye. Vaye mengangguk kemudian dia pergi menuju ke kamarnya.
Ethan datang ke tanah air karena kebetulan ada pekerjaan yang yang mengharuskannya datang kesana. Dan Ethan memanfaatkan itu untuk mengunjungi putrinya. Tapi dia begitu kesal saat mengetahui bahwa putrinya belum pulang, lewat jam seharusnya.
Kemudian kesalnya itu menjadi khawatir, ketika semakin larut saja jam berlalu dan Vaye belum pulang. Hingga ia mendapatkan foto dari Jilian yang memperlihatkan dimana ada Vaye disana dan duduk bersama satu anak laki laki.
Ethan antara sedih dan tidak rela melihat putri tercintanya kini memiliki kekasih. Tapi kemudian ia juga berpikir bahwa hal itu wajar, mengingat Vaye sudah hampir berusia 17 tahun beberapa bulan lagi.
" Haduh.. patah, hatiku." Gumam Ethan.
Akhirnya, Ethan mengalami apa yang namanya patah hati seorang ayah untuk putrinya. Yaitu ketika sang putri sudah mulai dekat dengan lawan jenis.
" Apakah ini yang dirasakan oleh papa Yara dulu saat melepas Yara untukku? Rasanya sangat sesak." Gumam Ethan lagi.
Tiba tiba Vaye keluar, ia melihat sang daddy yang bergumam sendiri dan terus menghela nafas. Vaye tidak menggunakan kaca mata tebalnya, rambut hitam nya juga ia urai. Saat ini Vaye menggunakan stelan baju rumah bergambar stitch kesukaan nya.
' Kenapa dengan daddy, apamah sesustu telah terjadi? ' Batin Vaye.
" Daddy, apakah telah terjadi sesuatu??" Tanya Vaye.
Ethan melihat Vaye, benar.. Putrinya itu sudah tumbuh dewasa. Vaye nya itu sudah bukan Vaye kecil yang akan selalu teriak memanggil daddy nya lagi. Entah mengapa air mata Ethan lolos begitu saja.
Vaye yang melihat sang daddy menangis pun langsung panik, ia jadi ikut berkaca kaca dan menghampiri sang daddy.
__ADS_1
" Daddy, katakan sesuatu.. apakah ada yang Vaye lewatkan?" Ujar Vaye.
Ethan memeluk putrinya itu erat erat. Ia merasa baru saja kemarin ia menggendong hendong Vaye kecil yang lucu itu, kini Vaye nya menjelma menjadi gadis cantik.
" Daddy hanya masih belum siap menerima kenyataan bahwa kamu sudsh memiliki pacar." Ujar Ethan, Vaye yang mendengarnya seketika bingung.
" Eh?? Pacar?" Ujar Vaye.
" Beri daddy waktu untuk menerima kenyataan, sayang. Daddy hanya masih ingin kamu menjadi putri kecil daddy." Ujar Ethan.
' Astaga, apakah daddy dan mommy tertukar jiwa nya? Kenapa daddy menjadi drama king seperti mommy. ' Batin Vaye.
" Daddy, Vaye belum punya pacar." Ujar Vaye.
" Eh?? Kamu belum punya pacar? Jadi siapa pria muda yang duduk di sebelahmu tadi?" Tanya Ethan sambil melepas pelukan nya.
" Daddy melihatnya?? " Tanya Vaye.
" Emmm.. Itu, paman Jil mengirim fotomu. " Ujar Ethan.
" Astaga.. Paman Jilian, dia sudah menyebar kabar bohong." Ujar Vaye.
Akhirnya Vaye menceritakan tentang Nicholas, semuanya.. Tanpa ada yang di tutup tutupi. Ethan pun manggut manggut selama Vaye bercerita, ia sama sekali tidak memotong ucapan Vaye.
" Begitu.. Jadi Vaye menjadikan nya teman, karena dia hanya memiliki Vaye saja." Ujar Vaye.
" Anak daddy memang berhati baik seperti mommy." Ujar Ethan.
" Tapi kamu bilang tadi apa? Dia mabuk?? Bisa bisa nya anak kecil bau kencur sudah mabuk mabukan." Ujar Ethan, sedikit kesal.
" Seperti yang Vaye ceritakan dad, dia terluka sendirian. Meskipun dia tidak menceritakannya kepada Vaye, tapi Vaye kurang lebih mengerti posisinya." Ujar Vaye.
" Hmmm... Kamu harus berhati hati sayang, jangan sampai kamu terjerumus dengan dunia anak itu." Ujar Ethan.
" Vaye akan menjaga diri baik baik, daddy.. " Ujar Vaye.
Entah mengapa Ethan merasa nasib Nicholas kurang lebih mirip dirinya, dia tahu betul rasanya memperjuangkan kebenaran namun selalu buntu dan tidak menemukan titik terang.
" Istirahatlah, besok kamu sekolah kan?" Ujar Ethan.
" Ya, ngomong ngomong Vaye belum bertanya.. Kenapa daddy ada disini?" Ujar Vaye.
" Daddy ada pekerjaan, sayang. Besok sore daddy sudah akan kembali. " Ujar Ethan.
" Cepat sekali.. Kakak juga hanya tiga hari disini." Ujar Vaye.
" Kakak? Apakah kakakmu datang?" Ujar Ethan.
" Ya, kak Edmund.. Dia datang berlibur selama tiga hari. Baru kemarin dia pulang." Ujar Vaye.
" Dasar, dia bilangnya ada study tour, malah datang kemari. " Ujar Ethan.
__ADS_1
' Ups.. apakah aku membongkar kebohongan kakak? maafkan aku kak.. ' Ujar Vaye kikuk sendiri.
TO BE CONTINUED...