
Ke esokan harinya, Vaye berangkat bersama Nicholas. Nicholas bersikeras meminta agar dirinya menjemput Vaye agar berangkat bersama ke sekolah, tentu saja Vaye awalnya menolak. Tapi karena Nicholas berkepala batu, akhirnya ia mengiyakan.
Setelah semalam mereka melihat Video itu, Vaye dan Nicholas memiliki rencana, yaitu menyelidiki Timothy. Meskipun sudah ada rekaman cctv, itu belum bisa sepenuhnya membuktikan bahwa Timothy bersalah.
Mereka harus mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Untuk Vaye, menyelidiki identitas seseorang bukanlah hal yang sulit, ia bisa mendapatkan apapun itu dengan cepat dan akurat. Tentu saja dengan alat alat canggih miliknya.
Vaye hanya butuh waktu untuk melakukannya, selama ada Yara.. Ia tidak mungkin mengotak atik alat alatnya, Yara tidak mengizinkan Vaye terun ke dunia gelap ( Mafia ) samasekali.
" Mom, Vaye berangkat dulu." Ujar Vaye pada Yara.
" Loh, sayang.. Kamu tidak bawa kunci mobil?" Tanya Yara karena Vaye tidak mengambil kunci mobilnya.
" Vaye berangkat bareng Nicholas mom." Ujar Vaye.
" Ekhem! Apakah akhirnya kalian saling jatuh cinta??" Ujar Yara menggoda.
" Mom.. Mulai." Ujar Vaye.
" Xi xi xi.. Ya sudah, sana berangkat. Hati hati di jalan sayang." Ujar Yara.
" Ya mom, bye mommy.. Love you." Ucap Vaye, kemudian keluar dari unitnya.
Setelah Vaye sampai di loby, ia keluar ke pinggiran jalan, karena motor tidak boleh masuk kecuali milik penghuni.
" Apakah aku lama?" Tanya Vaye.
" Sama sekali tidak, ayo." Ujar Nicholas, sambil memberikan helm pada Vaye.
Vaye menggunakan helm itu, kemudian duduk di boncengan motor Nicholas. Mereka pun melaju pergi ke sekolah bersama.
" Pegangan, kalau tidak nanti jatuh." Ujar Nicholas.
" Tidak akAAANNN!! Nicholas!!" Teriak Vaye ketika hampir saja terjengkang kebelakang.
Vaye tentu saja refleks memeluk Nicholas, dan Nicholas terkekeh dibuatnya.
" Kau mau membunuhku?! " Ucap Vaye kesal.
" Kan sudsh aku bilang, pegangan." Ujar Nicholas.
" Tapi bukan begitu juga caranya." Protes Vaye.
" Iya.. maaf." Ucap Nicholas, dan akhirnya mereka fokus dengan jalanan hingga sampailah mereka di sekolah.
Sepanjang Jalan itu, Vaye tak henti hentinya berkomat kamit, sampai Nicholas tak henti hentinya tertawa. Dan hal itu dilihat oleh Timothy, tangan Timothy mengepal melihat kesuanya yang sangat akrab itu.
" Sudah ya.. Jangan marah marah terus, kita sudah sampai." Ujar Nicholas sambil terkekeh.
" Awas kau! Sekali lagi seperti itu." Ucap Vaye.
" Iya.. Iya.. Maaf." Ucap Nicholas.
Mereka pun masuk ke kelas bersama. Terlihat Bagas yang sudah duduk didalam kelas, dan melambaikan tangan nya. Tak lama, masuk Timothy kedalam kelas, dan seperti biasa, hamya Vaye yang di sapa.
" Pagi Vaye.." Ucap Timothy.
__ADS_1
" Pagi.." Sahut Vaye.
' Aku akan mendekatinya, bukankah dia bilang dia menyukaiku. Mungkin dengan begitu aku akan mulai memiliki petunjuk.. Aku masih tidak bisa menggunakan alat alatku selama ada mommy di apartemen. ' Batin Vaye.
Pelajaran pun di mulai, sepanjang pelajaran itu, tatapan Vaye sering kearah Timothy, dan Nicholas melihat itu. Ada perasaan tidak suka di hati Nicholas ketika Vaye melihat Timothy.
Pelajaran pun berakhir, dan kini saatnya jam istirahat. Vaye, Nicholas dan Bagas pergi menuju kantin, tapi tiba tiba Timothy membaur bersama mereka.
" Boleh aku ikut??" Tanya Timothy.
" Tidak bo.."
" Boleh." Ucap Vaye memotong ucapan Nicholas. Dan Timothy tersenyum.
" Vaye.." Ucap Nicholas.
" Apa salahnya sesekali Timothy bergabung dengan kita." Ujar Vaye.
Nicholas menatap Vaye tidak percaya, bagaimana bisa Vaye berbuat demikian. Vaye tahu benar Nicholas membenci Timothy.
" Terimakasih." Ujar Timothy, lalu kemudian Vaye dan Timothy berjalan di depan Nicholas dan Bagas.
" Apa apa an, dia!" Gumam Nicholas.
" Apakah Vaye terbentur sesuatu saat berangkat sekolah?" Bisik Bagas.
" Kau yang terbentur. " Ujar Nicholas kesal, dan berjalan mendahului Bagas.
Nicholas merangkul pundak Vaye, dan Vaye mengibaskan nya.
" Ish, biasanya juga begini." Ujar Nicholas dan kembali merangkul pundak Vaye lagi.
" Tanganmu besar, Vaye keberatan." Ujar Timothy.
" Ada suara, tidak ada rupa." Ujar Nicholas.
Sungguh, Vaye hampir terbahak mendengarnya. Bisa bisanya Nicholas berbicara demikian, bukankah artinya Nicholas menganggap Timothy hantu?
Sementara Timothy hanya menatap kesal Nicholas. Ke empatnya sampai di kantin sekolah. Dan Nicholas dengan sigap duduk di sebelah Vaye. Bagas dan Timothy duduk dihadapan keduanya.
Kantin pun heboh dan saling berbisik, mereka menangkap atmosfer persaingan antara Nicholas dengan Timothy.
" Vaye, kamu mau makan apa? Biar aku pesankan." Ujar Timothy.
" Kamu makan seperti biasa, kan?? Biar aku ambilkan. " Ujar Nicholas dan berjalan pergi.
Baik Bagas dan Vaye kini saling pandang, mereka menatap bingung Nicholas dan Timothy yang saat ini sedang bersaing. Begitu juga dengan murid murid lain nya.
Tak lama, Nicholas kembali dengan dua piring makanan untuk dirinya dan Vaye.
" Makanlah." Ucap Nucholas, dsn Vaye tersenyum.
" Terimakasih." Ujar Nicholas.
Entah apa yang sedang Nicholas lakukan, dirinya juga bingung sendiri. Hanya saja ia tidak suka Vaye di dekati orang lain terutama Timothy.
__ADS_1
Timothy datang dengan makanan nya dan kembali duduk di depan Vaye.
" Ck, kamu makan saja berantakan. Hadap sini.." Ujar Nicholas.
Dan tatapan keduanya bertemu, entah mengapa debaran debaran aneh itu kembali terasa. Nicholas menatap Vaye dengan tatapan yang dalam, begitu juga sebaliknya. Timothy yang melihat itu diam diam mengeratkan giginya.
" Ceroboh, makan saja tidak rapi." Ujar Nicholas menghilangkan kegugupan nya.
" Ish, kau yang aneh.. Aku baru saja memasukan nasi kedalam mulutku." Ujar Vaye protes.
' Nicholas bodoh, kenapa dia bersikap demikian! ' Batin Vaye.
" Vaye, apakah sepulang sekolah nanti kamu ada waktu?? Aku ingin mengajakmu nonton." Ujar Timothy.
" Dia ada janji denganku." Ujar Nicholas.
" Kapan kita buat janji?" Tanya Vaye polos, karena memang dirinya dan Nicholas tidak membuat janji apapun.
" Ish! kamu pelupa, jika aku bilang ada maka berarti ada." Ujar Nicholas.
" Akal akalan mu.. Aku tidak ada janji, Timo.." Ujar Vaye.
Mendengar Vaye memanggilnya dengan nama itu, Timothy menatap Vaye begitu juga dengan Vaye yang menatap Timothy sambil tersenyum.
' Kau terkejut..' Batin Vaye.
" Oh, benarkah?? Bagus kalau begitu, nanti malam kita bisa nonton?" Tanya Timothy dengan senyum kakunya.
" Sure! Dimana?" Tanya Vaye.
" Bioskop di mall bawah apartemenmu." Ujar Timothy.
" Baik, aku akan datang kesana nanti." Ujar Vaye.
" Baiklah, kalau begitu aku duluan. Ada yang harus aku kerjakan." Ujar Timothy lalu pergi.
Nicholas menatap kepergian Timothy yang terlihat aneh itu. Setelah nama kecilnya di sebut, Timothy menjadi begitu gelisah.
" Kamu sungguh mau menonton dengannya?" Tanya Nicholas.
" Hmm.. " Ucap Vaye.
" Ck!! kau tidak lupa dia siapa, kan??" Ujar Nicholas.
"Justru karena aku ingin tahu siapa dia yang sebenarnya, maka aku harus mendekatinya. Kamu melihat itu?? Dia bereaksi dengan nama kecilnya. Siapa yang memberi panggilan itu?" Tanya Vaye pada Nicholas
" Kak Gama.." Ujar Nicholas.
" Timothy ketakutan dengan panggilan itu. Yang berarti ada makna tersendiri dari kakakmu untuk dirinya." Ujar Vaye.
" Nicholas, aku akan berpura pura dekat dengannya, dengan begitu dia bisa menunjukan sisi dirinya yang sesungguhnya." Ujar Vaye.
" Aku tidak setuju! Itu terlalhu berbahaya." Ucap Nicholas..
TO BE CONTINUED..
__ADS_1